DOWNLOAD

More on this category »

AKTIFITAS

More on this category »

TERBARU

Bagaimanakah Adab dalam Berhubungan Suami Istri ?

Jumat, 05 Desember 2014

Pertanyaan : Assalamualaikum tadz. Ngapunten sebelumnya tadz. Pertanyaan saya agak tabu bagi sebagian masyarakat kita. Tapi ini penting buat kita. Saya ada beberapa pertanyaan. Pertama, apa yang boleh dan tidak boleh dalam jima`. Dua, sebelum dan sesudah adakah doanya atau ada hal apa yang harus dilakukan? Maturnuwun tadz (Bambang)

Jawaban :
Walaikumussalam warohmatullah. Terimakasih atas pertanyaan saudara Bambang.  Perlu menjadi sebuah catatan bahwa Islam mengatur setiap sendi kehidupan dunia, baik urusan kemasyarakatan dan bernegara, hingga urusan pribadi seseorang. Dari mulai medan perang hingga urusan kamar tidur bahkan “kamar kecil” menjadi hal yang diberikan panduan dan aturannya dalam Islam, karena itulah itu bukan hal tabu yang menjadikan kita malu untuk menanyakan. Bisa dibayangkan jika dulu para sahabat juga menganggap tabu hal-hal yang semacam itu, lalu malu untuk bertanya kepada Rasulullah SAW, maka tentu kita tidak bisa merasakan keluasan samudera khazanah fiqih Islam yang begitu solutif dalam setiap bidang kehidupan.

Ada sebuah riwayat yang mengajarkan bagi kita untuk tidak malu dalam bertanya tentang suatu yang haq meskipun dalam tema yang sensitive sekalipun.  Diriwayatkan bahwa Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidaklah malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi apabila ia mimpi basah?” Rasulullah SAW menjawab, “)Ya(, apabila ia melihat air (mani).” (HR. al-Bukhari ).

Pertama, terkait apa yang boleh dan tidak boleh dalam jimak (berhubungan suami istri). Pada dasarnya ikatan tali pernikahan yang agung telah menghalalkan apa-apa yang sebelumnya diharamkan, membolehkan apa-apa yang sebelumnya terlarang. Maka dalam urusan jimak, syariat tidak membatasi atau mengatur hal-hal teknis yang kemudian bisa mengekang kehendak dan nafsu suami istri dalam hal ini. Jelas disebutkan Allah SWT berfirman : Istri-istrimu adalah (seperti) ladang tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki  (QS Al- Baqoroh :223).  Begitu pula Rasulullah saw menyebutkan dalam haditsnya :  Silahkan dari arah depan dan belakang, asalkan pada kemaluan “ (HR Bukhori & Muslim). 

Namun tentunya kebolehan itu ada batasan, dalam hal jimak setidaknya ada beberapa hal yang menjadi larangan, antara lain :
a.    Larangan berjimak pada saat istri haidh, sebagaimana jelas disebutkan dalam Al-Quran : “ Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah : Haidh itu adalah kotoran. Oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri pada waktu (istrei-isterimu) haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu “ ( QS Al-Baqarah 222). Berjimak saat haidh selain terlarang juga menjadi salah satu bentuk kezaliman karena saat tersebut sang istri sedang repot menahan dan mengatasi rasa sakit yang ditimbulkan. Akan tetapi larangan ini bukan berarti suami menjauhi istri saat haidh, namun tetap dibolehkan bercumbu dan bermesraan sebagaimana biasa asalkan tidak jimak.

b.    Larangan berjimak pada dubur istri. Rasulullah SAW bersabda : “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : " Dilaknat orang yang mendatangi (mencampuri) istrinya dari duburnya “ (HR Abu Dawud,). Perbuatan terlaknat ini juga mengandung unsur kezaliman, dan diancam dengan hukuman  dunia (pidana syariat)  terlebih lagi adzab pedih di akhirat.

c.    Larangan berlaku kasar dan memperbudak istri dalam jimak, dimana tidak ada rasa cinta dan kasih saying namun hanya nafsu semata. Rasulullah SAW jelas mengingatkan : Janganlah seorang dari kamu mencambuk istrinya sebagaimana mencambuk budak, kemudian menyetubuhinya di malam harinya  (HR Bukhori ).

Adapun hal Kedua, tentang hal yang harus dilakukan sebelum dan sesudah berjimak. Maka syariat kita mengatur tentang doa sebelum berjimak, yaitu diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw bersabda : Jika seorang darimu ingin mendatangi (berjima) dengan istrinya, maka hendaklah berdoa :

اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Bismillah,  Jauhkanlah kami dari syaithon, dan jauhkanlah syaithon dari apa yang engkau rizkikan pada kami “, kemudian jika dari hubungan itu ditakdirkan anak buat mereka, maka si anak tidak akan diperdayakan oleh setan selama-lamanya" (HR Bukhori & Muslim)

Kemudian bukan hanya berdoa, sebelum berjimak juga dianjurkan memulai dengan bercumbu mesra terlebih dahulu agar lebih siap baik secara fisik maupun perasaan. Tentu ini sangat sesuai juga dengan yang dianjurkan dalam ilmu kesehatan seksual tentang foreplay atau pemanasan. Dalam hal tersebut Rasulullah SAW mengisyaratkan : “Hendaklah diantara seorang laki-laki dan istrinya sebelum jimak (bersetubuh) ada sebuah  utusan (perantara) berupa candaan dan ciuman. Dan janganlah seorang diantara kamu menyetubuhi istrinya sebagimana hewan.. ( HR Ad-Dailami )

Islam tidak menjadikan jimak hanya hubungan nafsu fisik semata, namun disana harus ada kehangatan dan kasih sayang. Karenanya jika di awal dianjurkan ada pemanasan, begitu pula saat sang suami telah usai tidak diperkenankan berlalu begitu saja meninggalkan istrinya yang mungkin masih membutuhkan dekapan & kehangatan dari sang suami.  Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda : Jika seseorang menyetubuhi istrinya, maka hendaklah ia menyengaja. Kemudian jika telah menyelesaikan hajatnya, maka janganlah tergesa-gesa melepaskannya hingga ia menyelesaikan hajatnya  (HR Abdurrozaq). Adapun secara khusus bagi suami yang ingin mengulangi lagi, maka disunnahkan baginya untuk berwudhu. Dari Abu Said Al-Khudry berkata : Rasulullah SAW  bersabda : Jika seorang diantara kamu mendatangi istrinya (berjima’) kemudian ingin mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu (HR Muslim)

Saudara penanya yang budiman, sebenarnya banyak hal lain seputar adab jimak dalam Islam yang tidak semuanya bisa dituliskan disini karena keterbatasan tempat yang ada. Mungkin saudara bisa mempelajari lebih lanjut dalam beberapa buku yang khusus membahas soal tersebut.  Wallahu a’lam bisshowab

*Artikel dimuat dalam Majalah Benis Lazis Al Ikhsan Karanganyar November 2014

Bolehkah Merayakan Ulang Tahun Anak ?

Sabtu, 15 November 2014

PERTANYAAN :
Assalamualaikum Ustadz,  Saya ingin bertanya mengenai perayaan ulang tahun. Perayaan ulang
tahun merupakan hal yang sangat umum dilakukan oleh masyarakat kita, hampir semua kalangan merayakannya, termasuk aktivis dakwah. Orang –orang di sekitar saya menyatakan pendapat yang berbeda-beda mengenaiini, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang setuju dengan perayaan ini
beralasan bahwa menyenangkan saudara termasuk ibadah. Sedangkan pendapat yang kontra berdasarkan hadist nabi yang melarang kita umat muslim untuk mengikuti tradisi umat non muslim. Mohon penjelasanustadz, bagaimana sebenarnya hukum merayakan ulang tahun ini. Terimakasih sebelumnya. Wassalamu’alaikum wr wb  (Danang – Solo )

JAWABAN :
Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih atas pertanyaannya, yang barangkali mewakili banyak para orangtua di masa ini, saat anak-anak mereka menuntut untuk dirayakan ulangtahunnya karena melihat kebiasaan teman-teman di sekolahan atau di lingkungannya. Memang saat ini banyak digelar aktifitas yang berkaitan erat dengan ulang tahun, baik itu berupa undangan pesta, upacara tiup lilin, pemotongan kue atau tumpeng, pemberian hadiah dan memberikan ucapan selamat.

Yang perlu kita pahami sejak awal adalah asal atau dasar dari perayaan ulang tahun ini, tidak ada dalam al-Quran dan Sunnah, juga dalam sejarah para sahabat, bahkan sejarah kaum muslimin secara umum. Perayaan ulang tahun ini memang berasal dari kebiasaan masyarakat barat secara turun-temurun yang kemudian masuk atau dimasukkan ke dalam masyarakat muslim, baik dahulu kalau sebagai warisan kolonialisme, ataupun hari ini melalui propaganda media televisi dan dunia maya (internet).

Namun tentu untuk mengetahui pembahasan hukumnya tidak hanya sesederhana itu, kita perlu melihat apa yang telah dikaji para ulama mengenai perayaan ulang tahun. Mayoritas ulama kontempoter berpendapat tentang haramnya perayaan ulang tahun, diantara mereka ada Syeikh Bin Baz, Muhammad Sholeh Utsaimin dan juga Dr. Yusuf Qardhawi. Banyak fatwa yang tersebar dari para ulama tersebut dan juga mayoritas lainnya, yang mendasarkan pelarangannya setidaknya pada tiga hal atau tiga sebab, yaitu :

Pertama, ketika perayaan ulang tahun itu mengandung unsur ritual ibadah atau ritual lainnya  diyakini tentang keutamaan atau kewajibannya, maka menjadi haram karena sudah jatuh pada hal yang bid’ah. Hal ini berdasarkan hadits dimana Rasulullah SAW bersabda : “siapa yang melakukan sebuah amalan (ritual /ibadah) yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]  . Maka pengharaman ini berlaku secara khusus pada kasus misalnya perayaan ulang tahun dengan membaca surat tertentu atau berpuasa dengan meyakini keutamaannya, atau bisa juga dengan ritual tertentu seperti mandi kembang, memasak bubur merah putih dan meyakini keutamannya. Maka berdasarkan hadits di atas, hal tersebut masuk kategori bid’ah yang haram dan harus dijauhi.

Kedua, ketika perayaan ulang tahun tidak mengandung ritual ibadah, sebagai adat kebiasaan namun begitu rupa dipersiapkan dengan meriah bahkan melebihi hari raya, diulang setiap tahun, disambut dan dinanti dengan penuh harap dan suka. Maka ini juga bisa masuk kategori haram karena menyaingi dan menambah ‘hari raya’ yang sesungguhnya.  Perlu diketahui pada awal kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, penduduk Madinah juga telah memiliki hari raya produk adat mereka dimana mereka bergembira dan bermain di dalamnya. Mengetahui hal tersebut Rasulullah SAW membatalkannya seraya bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu; idul fithri dan idul adha.(HR Ahmad). Maka dengan demikian jangan pula perayaan ulang tahun menjadi kebiasaan atau adat tersendiri yang ternyata menentang apa yang telah pernah Rasulullah SAW larang.

Ketiga, dalam perayaan ulang tahun  berisi kebiasaan yang mengandung unsur meniru dan mencontoh kebiasaan masyarakat barat, dari mulai meniup lilin, balon, pemotongan kue, standing party dan lain sebagainya, maka ini bisa menjadi hal yang haram karena sebagai seorang muslim kita diminta untuk bangga dengan identitas dan ajaran Islam, bukan malah meniru dan mengekor kebiasaan agama lain. Larangan meniru sebuah kaum jelas tergambar dalam sebuah hadits, dimana Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa  yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Dawud)

Diluar yang mengharamkan, memang ada sebagian kecil ulama yang membolehkan perayaan ulang tahun, dengan alasan bahwa itu bukan termasuk bab ibadah, sehingga berlaku kaidah “al-ashlu fil asy-yaa’i al-ibahah” bahwa hukum asal terkait muamalah adalah kebolehan, selama tidak ada nash yang secara tegas melarangnya. Diantara yang membolehkan adalah syeikh  Salman al-Audah, seorang ‘ulama terkemuka di Arab Saudi. Ia mengatakan “ dibolehkan perayaan ulang tahun atau peristiwa membahagiakan lainnya seperti (ulangtahun) pernikahan, dan boleh menyelenggarakan jamuan makan dengan mengundang kerabat dan sahabat, karena hal ini bukan perayaan ritual ibadah, tetapi urusan adat kebiasaan.  Tapi beliau juga menambahkan untuk tidak member istilah “ied” atau hari raya atas perayaan ulang tahun tersebut karena hal itu diharamkan mengingat hari raya dalam Islam hanya dua.

Pendapat syeikh Salman Audah ini cukup controversial dan banyak mendapatkan kritikan serta bantahan dari ulama lainnya.  Yang menarik justru ulasan dari Dr. Yusuf Qardhawi , dimana setelah beliau berpendapat tentang haramnya perayaan ulang tahun karena mengekor pada budaya dan kebiasaan barat, beliau mempunyai pemikiran tentang ‘perayaan’ pada anak-anak yang  bukan berdasarkan tanggal kelahirannya atau harus terulang setiap tahun, tapi berdasarkan peristiwa-peristiwa yang penting dalam kehidupan anak kita. Boleh juga dengan membuat jamuan dan mengundang sahabat, tapi tidak untuk pesta pora dan sia-sia, tapi memberikan nasehat kepada anak-anak terkait peristiwa tersebut.

Misalnya saat anak beranjak 7 tahun dibuat perayaan yang mengingatkan anak tersebut pentingnya sholat dan mulai komitmen membiasakan untuk sholat. Begitu pula pada saat menginjak usia baligh, atau pada saat anak wanita mulai berjilbab, pada saat anak menyelesaikan hafalan surat apa atau juz berapa, maka dibolehkan membuat perayaan yang juga mengundang teman dan kerabat, dengan jamuan, tapi bukan dengan niatan bermewah-mewah, apalagi menanggapnya bagian dari ibadah. Saya pribadi melihat ini sebuah hal yang menarik dan solutif dalam hal ini. Wallahu a’lam bisshowab.

*artikel dimuat dalam Rubrik Konsultasi Majalah Aitam : November 2014

Bagaimana Seorang Masbuq melanjutkan Sholatnya ?

Rabu, 12 November 2014

Pertanyaan : Assalamualaikum tadz. Afwan mau nanya. Saya masih bingung selama ini neh. Kalau kita telat sholat jamaah. Bacaannya yang dibaca apakah sama sesuai dengan urutan atau gerakan imam saat itu. Semisal, kita telat satu rakaat. Nah, di rakaat terakhir, waktu duduk tasyahud akhir, apakah kita juga membaca doa tahiyyaat akhir? Syukron atas jawabannya. (Budi)

Jawaban :Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih saudara Budi atas pertanyaannya yang sangat penting dan aplikatif dalam arti sehari-hari kita temui atau bahkan kita jalani.  Secara umum sholat wajib lima waktu harus kita upayakan untuk kita dirikan di awal waktunya, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang amalan apa yang paling utama, beliau menjawab : “ Shalat di awal waktunya” (HR Abu Daud) .  Bahkan Rasulullah SAW memotivasi kita untuk berusaha hadir sejak awal agar bisa mendapati takbiratul ihram bersama Imam. Beliau bersabda : “Siapa yang shalat empat puluh hari secara berjamaah sejak takbir pertama, dicatat baginya dua keterbebasan; keterbebasan dari api neraka dan keterbebasan dari kemunafikan. (HR Tirmidzi)

Namun secara khusus, tentu kondisi setiap orang berbeda-beda. Ada kalanya kesibukan pekerjaan, sakit, musafir, atau hal lainnya menjadikan kita terlambat dan menjadi makmum yang masbuq. Pengertian Masbuq sendiri secara istilah adalah : siapa saja yang didahului imam dengan beberapa rekaat sholat atau seluruhnya, atau siapa yang mendapati imam setelah satu rekaat atau lebih. (Qomus Al-Muhith & Qowaid Fiqh).

Permasalahan seputar masbuq sebenarnya cukup beragam, namun memang yang paling sering ditanyakan di lapangan seputar dua hal, yaitu : kapankah seorang masbuq terhitung mendapatkan satu rekaat bersama imam dan bagaimana seorang masbuq mendapati rekaatnya bersama imam, apakah awal sholat atau akhir sebagaimana yang dijalani imam ? Mari kita coba bahas kedua hal tersebut :

Bagaimana seorang masbuq terhitung mendapati satu rekaat bersama imam ? Mayoritas ulama termasuk diantaranya imam empat madzhab ( Hambali, Syafii, Abu Hanifah dan Malik) berpendapat bahwa masbuq yang masih mendapati rukuk imam terhitung mendapatkan satu rekaat bersama imam. Pendapat ini berlandaskan hadist dari Abu Hurairah dimana Rasulullah SAW bersabda : “ Apabila kamu datang untuk shalat, padahal kami sedang sujud, maka bersujudlah, dan jangan kamu hitung sesuatu (satu raka’at) dan siapa yang mendapatkan ruku’, bererti ia mendapat satu rak’at dalam sholat (nya) (HR Abu Daud). Yang dimaksud mendapati rukuk bersama imam disini adalah mendapati sebagian dari rukuk imam, meskipun tidak atau belum sampai thuma’ninah, demikian yang dinyatakan oleh Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali. (Lihat Mausu’ah Fiqhiyah Al Kuwaitiyah).

Selain pendapat jumhur ulama di atas, memang ada sebagian kecil ulama, diantaranya Imam Syaukani yang menolak pendapat di atas. Beliau menguraikan pendapatnya dengan pembahasan cukup panjang dalam kitab Nailul Author, yang intinya adalah seorang tidak terhitung mendapati rekaat bersama imam jika tidak sempat membaca surat Al Fatihah. Beliau mengatakan : “Telah diketahui sebelumnya bahwa kewajiban membaca Al-Fatihah itu untuk imam dan makmum pada setiap raka’at. Dan kami telah menjelaskan bahwa dalil-dalil tersebut sah untuk dijadikan hujjah bahwa membaca Al-Fatihah itu termasuk syarat sahnya sholat. Maka siapa saja yang mengira bahwa sholat itu sah tanpa membaca al-Fatihah, ia haruslah menunjukkan keterangan yang mengkhususkan dalil-dalil tersebut.” (Lihat: Nailul Author)

Adapun mengenai cara masbuq melanjutkan sholatnya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dimana Jumhur ulama (Hanafiyyah, Hanabilah dan Malikiyah) berpendapat bahwa apa yang didapati seorang masbuk dari sholatnya bersama imam maka itu adalah akhir sholatnya. Dan apa yang disempurnakan oleh seorang masbuk adalah raka’at awal sholatnya.  Pendapat ini berdasarkan hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Maka apa yang kamu dapati (bersama imam) sholatlah, dan apa yang kamu luput (bersama imam) maka qodho/gantilah ”. (HR Ahmad). Maka bagi yang mengikuti pendapat ini, jika mendapati imam pada rekaat keempat sholat Isya misalnya, maka ia tidak perlu membaca doa iftitah, surat setelah fatihah. Dan setelah imam salam maka ia berdiri dengan mulai membaca iftitah, al fatihah dengan jahr jika termasuk sholat jahr, dan surat setelah fatihah karena baginya itu adalah rekaat pertama. Hanya saja yang menjadi catatan,  ia tetap melakukan tasyahud awal setelahnya. Inilah yang digambarkan oleh Abu Hanifah : Apa yang diqodho oleh seorang yang masbuq adalah awal sholatnya secara hukum, bukan hakikatnya, dalam artian secara bacaan adalah awal sholatnya, tapi dalam tasyahud adalah akhir sholatnya. 

Sementara itu menurut Madzhab Syafi’i; Apa yang didapati masbuk dari sholat bersama imam maka itu adalah awal sholatnya. Dan apa yang disempurnakannya setelah imam salam adalah akhirnya. Pendapat ini berdasarkan sabda Rosulullah: “Maka apa yang kamu dapati (bersama imam) sholatlah, dan apa yang kamu luput (bersama imam) maka sempurnakanlah”. (HR Bukhori Muslim). Maka saat soerang masbuk mendapati rekaat terakhir magrib bersama imam misalnya, ia membaca iftitah, al fatihah dan surat.

Lantas pendapat mana yang paling tepat ? Tentu sebagai sebuah perbedaan fiqh ini harus sama-sama kita terima dan hormati.  Namun beberapa ulama mentarjih, memilih pendapat Syafi’I lebih tepat berdasarkan beberapa hal, yaitu riwayat hadits dengan lafadz “ apa yang kamu luput maka sempurnakanlah “ lebih banyak sehingga juga lebih kuat menjadi hujjah. Selain itu mereka juga menafsirkan kata “ faqdhuu”  maka qodho’lah “ juga bisa berarti maka jalankanlah atau dirikanlah sebagaimana ayat “ faidza qudiyatis sholatu”, sehingga dalam hal ini mereka mentarjih dengan cara jam’u baina riwayatain atau menggabungkan antara dua riwayat yang terlihat bertentangan.

Syeikh Abdullah bin Aziz Aqil dalam fatwa online islamway, ketika mentarjih pendapat imam syafi’I  mengatakan logika yang sederhana dan ringkas dalam masalah ini : dalil yang paling jelas dalam hal ini adalah diwajibkan tasyahud di akhir sholat walau bagaimana pun juga. Sekiranya apa yang didapati makmum bersama imam dianggap.dihitung sebagai akhir sholatnya, mestinya ia tidak perlu lagi mengulangi tasyahhud.
Wallahu a’lam bisshowab, demikian semoga paparan di atas sudah cukup menjawab apa yang ditanyakan oleh saudara Budi.

* dimuat dalam Rubrik Konsultasi Fiqh Majalah Bening Lazis Karanganyar Nov 2014

Bolehkah Umroh sebelum Haji dan dengan Berhutang ?

Jumat, 07 November 2014

PERTANYAAN :
Assalamua’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Bapak Ustadz kami akan bertanya seputar penawaran umroh yang saat ini begitu menjamur di mana, terlebih lagi antrian haji yang begitu lama hingga 15 tahun ke atas menjadikan masyarakat banyak tertarik untuk berangkat umroh, termasuk diantaranya kami  sekeluarga juga tentunya. Nah, terkait dengan hal tersebut ada tiga hal mendasar yang ingin kami tanyakan agar kami lebih tenang sebelum benar-benar mendaftar untuk berangkat umroh. 
Pertama : Bagaimana hukumnya umroh bagi mereka yang belum pernah berhaji ?
Kedua : Bagaimana hukum umroh dengan biaya berhutang, apakah diterima, sah atau tidak ?
Ketiga : Bagaimana dengan program talangan dana umroh/haji yang banyak ditawarkan saat ini , apakah diperbolehkan atau tidak kami menggunakannya ?


JAWABAN :Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Pertama kami ucapkan terima kasih atas pertanyaannya, yang saya kira juga mewakili sekian banyak pembaca Insani  dan masyarakat umum yang mungkin memendam rindu untuk berkunjung ke Baitullah, semoga niatan dan harapan baik bapak sekeluarga bisa segera terpenuhi.

Pertama, Pertanyaan atau kegelisahan seputar bolehkan berumroh sebelum menunaikan ibadah haji, biasanya berdasarkan pemahaman sebagian besar yang ada dalam benak masyarakat kita bahwa hukum umroh adalah sunnah, sementara haji itu wajib. Sehingga seolah menjadi sesuatu yang janggal saat mendahulukan sunnah daripada yang wajib.  Kalau kita memperdalam kajian soal hukum umroh, ternyata ada perbedaan pendapat diantara para ulama, khususnya imam madzhab.  Ulama Malikiyah dan sebagian Hanafiyah berpendapat hukum umroh adalah sunnah muakkad, dan menarikanya ulama Hambali dan Syafiiyah – madzhab yang paling banyak dianut di Indonesia- justru malah mengatakan bahwa hukum umroh itu wajib sekali seumur hidup. Mereka yang mewajibkan melandaskan pada ayat dimana Allah SWT berfirman :
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah." (Al-Baqarah: 196).
Memang meskipun ada perbedaan pendapat tentang hukum umroh diantara para ulama, tentu semuanya sepakat bahwa ibadah umroh mempunyai keutamaan dan kemulaan tersendiri, sebagaimana jelas disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :  “Kerjakanlah secara urut antara haji dan umrah, maka keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa, sebagaimana pandai besi menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji mabrur selain surga.”(HR. Tirmidzi)

Adapun tentang pertanyaan kebolehan umroh sebelum haji, maka sebenarnya para ulama semua bersepakat tentang kebolehannya. Apalagi jika kondisi saat ini yang benar-benar terkendala secara teknis untuk berangkat haji lebih dulu, karena antrian yang begitu panjang hingga belasan tahun, tentu menjadi semakin bertambah tingkat “kebolehannya’.  Dalam kitab Al-Majmu’ syarh Muhadzzab disebutkan : Para ulama berijmak (bersepakat) tentang kebolehan umroh sebelum haji, baik pada tahun yang sama atau tidak, begitu pula haji sebelum umroh. Berdasarkan hadits Ibnu Umar : “ bahwasanya Nabi SAW melaksanakan umroh sebelum haji” (HR Bukhori), dan juga berdasarkan hadits shohih yang masyhur bahwa Rasulullah SAW pernah tiga kali berumroh sebelum berhaji.

Kedua : Pertanyaan tentang berumroh dengan berhutang apakah sah ibadahnya, diterima atau ditolak. Tentang keabsahan sebuah ibadah tentu ditentukan dengan terpenuhinya syarat dan rukun umroh, jika terpenuhi dengan baik dan sempurnya tentu sebuah ibadah menjadi sah diterima disisi Allah SWT. Adapun jika ada unsur lain yang di luar ibadah yang bermasalah, maka pelakunya akan mendapatkan dosa sesuai dengan jenis pelanggarannya. Berhutang tentu jelas bukan sebuah dosa, bahkanada pertanyaan yang justru lebih mendalam tentang bagaimana haji dari harta yang harom, apakah sah diterima atau tidak ?. Dalam hal ini ulama Lajnah Daimah Saudi menjawan : 'Menunaikan haji dengan ongkos dari harta yang haram tidak menghalangi sahnya haji, namun dia tetap berdosa karena harta yang berasal dari harta yang haram. Hal itu dapat mengurangi pahala haji, namun tidak membatalkannya.' (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta, 11/43) . Sehingga dalam hal ini tentu berhutang jauh lebih terhormat daripada menunaikan haji atau umroh dengan harta harom.

Adapun soal kebolehannya, maka para ulama menyebutkan, diantaranya Imam Al Khottob dalam Mawahibul Jalil, Imam Al Khotib as-Syarbaini ulama Syafii, Syaikh Utsaimin, dan juga dalam fatwa islamweb.net, dengan redaksi beragam, tetapi semua menunjukkan tentang kebolehan umroh dengan berhutang, bagi yang mempunyai kemampuan untuk membayar atau melunasinya.
Inilah yang saya kira tepat untuk menggambarkan situasi sekarang, dimana seorang berhutang untuk umroh ternyata bukan karena kondisi miskin atau menderita lalu memaksakan diri, namun lebih karena model penghasilan di jaman ini yang identik dengan bulanan atau gajian, sehingga lebih membutuhkan “talangan” untuk kemudian dibayar secara berangsur dan rutin pada waktu berikutnya.

Ketiga : Adapun tentang bentuk penawaran umroh atau haji dengan menggunakan dana talangan yang banyak ditawarkan seperti saat ini, sebenarnya tentang kebolehannya sudah difatwakan secara khusus oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia pada Fatwa no 29 tahun 2002. Namun tentu saja perlu menjadi catatan penting, apakah lembaga keuangan syariah, baik bank syariah atau koperasi syariah yang menawarkan produk tersebut sudah memenuhi ketentuan dalam fatwa tersebut atau tidak.  Prinsip akad yang dibolehkan dalam fatwa itu adalah pengurusan haji, dimana pihak bank atau koperasi memang mempunyai kerjasama dengan pihak penyelenggara umroh dan haji.  Kemudian nasabah datang untuk mendaftar kepada bank/koperasi untuk melakukan serangkaian pengurusan umroh dan haji tersebut, dalam hal ini bank/koperasi syariah memfasilitasi dan menjadi jembatan antara nasabah dan biro penyelanggara haji/umroh. Karena pengurusan tersebut kemudian bank/koperasi berhak mendapatkan fee/ ujroh pengurusan sesuai kesepakatan, yang tidak boleh besarannya berdasarkan dana talangan yang diberikan bank/koperasi dengan prinsip Qardh atau pinjaman tanpa bunga dan tambahan lainnya. Fase berikutnya nasabah mengembalikan dana talangan tersebut secara mengangsur, tentu saja tidak lupa juga membayar ujroh/fee pengurusan sebagaimana telah disepakati.

Penting untuk dicatat, bahwa ujroh atau fee yang dibebankan bank/koperasi bukan karena memberikan pinjaman atau talangan, tapi karena memberikan layanan pengurusan dan memfasilitasi antara nasabah dan biro travel haji/umroh. Sehingga pada akhirnya, jika semua ketentuan yang ada dalam fatwa DSN MUI tersebut bisa dilaksanakan dan dipatuhi oleh sebuah bank atau koperasi syariah, maka produk tersebut tentu menjadi boleh dan bisa digunakan oleh masyarakat. Wallahu a’lam bisshowab.

Demikian jawaban kami semoga ada manfaatnya, semoga Allah SWT memudahkan langkah kita semua menuju baitullah.

*dimuat dalam Rubrik Konsultasi Majalah Insani, Lazis KJKS BIM Karanganyar

Beasiswa S2 Pendidikan Kader Ulama dari Kemenag 2014

Kamis, 06 November 2014

Alhamdulillah, kesempatan besar bagi para ustadz muda pengelola ma'had/pesantren untuk dapat meningkatkan kapasitas keilmuannya. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren pada Dirjen Pendidikan Agama Islam Kementrian Agama kembali membuka program beasiswa S2 Pendidikan Kader Ulama, yang meliputi dua pilihan program yaitu : Magister Pendidikan Islam, dan Magister Kajian Islam Nusantara. Untuk magister pendidikan Islam akan diselenggarakan di Paskasarjana UIN Ibrahim Malik Malang, sementara untuk Kajian Islam Nusantara di STAINU Jakarta. Yang unik dan menarik, para mahasiswa diwajibkan untuk tinggal di pesantren yang ditunjuk selama masa studi dua tahun. Jadi memang peserta akan dikondisikan dalam suasana pesantren dan  tafaqquh fiddin.

Peserta yang akan menjalani pendidikan terbatas hanya 25 orang di setiap jurusannya, karena itu benar-benar proses rekruitmen diprediksi akan ketat. Adapun untuk persyaratan calon pendaftar meliputi :
1.  Berijazah sarjana (S1);  
2.  Hafal Alquran, minimal 1 juz atau 3 juz untuk Manajemen Pendidikan
3.  Mampu membaca dan memahami kitab kuning;
4.  Mampu menulis makalah rencana penelitian tesis.
5.  Berusia maksimal 35 tahun;
6.  Terlibat aktif dalam mengelola/mengajar di pesantren;
7.  Mendapatkan rekomendasi dari pengasuh pesantren;
8.  Diprioritaskan  berasal  dari  daerah  tertinggal,  terluar,  dan
terdepan;

Bagi sahabat yang berminat dan tertarik untuk menjadi kader penerus ulama bangsa, yang siap membaktikan diri untuk mengembangkan pondok pesantren, silahkan ikuti info lebih lengkapnya di situs Kemenag - > http://www.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=28470

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan.
Sukses selalu dan salam optimis.

Bapak Rumah Tangga : Antara Kebutuhan & Kepantasan ?

Selasa, 04 November 2014

Bulan lalu redaksi Majalah Hadila mewawancarai kami untuk tema Bapak Rumah Tangga, yaitu gambaran suami yang lebih banyak di rumah mengerjakan tugas domestik, sementara sang istri bertebaran untuk mencari nafkah. Tema yang cukup menarik dan banyak terjadi di tengah masyarakat kita. Berikut ulasan dan wawancara lengkapnya :

Harian terkemuka di Inggris, Telegraph, melansir berita bahwa jumlah pria Inggris yang tinggal di rumah untuk merawat anak-anak (BRT: Bapak Rumah Tangga) meningkat sepuluh kali lipat dalam satu dekade terakhir. Sekitar 6% full tinggal di rumah. Di Korea Selatan, fenomena yang sama juga terjadi. Biro Statistik Korea Selatan mencatat jumlah ayah yang sepenuhnya tinggal di rumah telah menanjak sejak 2007.

Menurut sebuah studi yang ditulis oleh Telegraph, alasan utama keluarga menyerahkan peran menjaga anak-anak kepada suami adalah penghasilan istri yang lebih tinggi. Sekian banyak wanita yang menduduki posisi penting di perusahaan dan punya penghasilan besar setiap bulan, memicu pemikiran bahwa lebih baik wanita bekerja di kantor dan suami tinggal di rumah agar ada yang fokus mengurus anak. Mereka berdalih bahwa semua itu hanyalah sebuah peralihan atau solusi pembagian peran semata, yang tidak akan menimbulkan masalah. Bagaimana sebenarnya Islam memandang hal ini ? Kita ikuti wawancara dengan nara sumber kami, Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc :

Tanya : Pemikiran tentang ‘peralihan’ peran suami istri di barat telah demikian jamak. Di Indonesia pun mulai banyak fenomena ‘bapak di rumah’ (meski mungkin awalnya karena kondisi, tidak di setting). Bagaimana menurut, ustadz? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Jawab : Indonesia dalam hal ini –sepengetahuan saya pribadi- justru malah melebihi kondisi di luar negeri. Bukan saja fenomena ‘bapak di rumah’ yang marak, tapi bahkan juga ada “bapak di tanah air” yaitu ketika para istri yang berbondong-bondong ke luar negeri selama bertahun-tahun untuk menghidupi keluarga dengan menjadi TKI.

Mengapa bisa terjadi ? Tentu alasan utama yang sering disampaikan adalah kondisi keuangan keluarga yang lemah pada awalnya. Tapi kalau hal tersebut sampai terjadi bertahun-tahun, bahkan para bapak atau suami seolah “menikmati” peran ini dan menggantungkan kewajiban nafkah pada istri, maka berarti ada pemahaman yang salah seputar ini. Sekali lagi, bukan semata karena kondisi saja.

Tanya :  Bagaimana Islam mengatur bagaimana seharusnya suami berperan dalam kehidupannya, khususnya dalam kehidupan rumah tangga?
Jawab : Dalam rumah tangga ada kewajiban dan hak, baik bagi suami maupun istri. Untuk urusan nafkah, jelas merupakan kewajiban suami, dan menjadi hak istri. Bukan sebaliknya. Dalam Al-Quran beberapa ayat menyebutkan hal ini dengan jelas, misalnya Allah SWT berfirman : ‘’Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf, Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.’’ (QS.al-Baqarah 233).  Bahkan karena kewajiban memberi nafkah inilah, seorang suami menjadi pemimpin sekaligus penanggung jawab dalam rumah tangganya. Allah SWT berfirman : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (An-Nisaa: 34).

Tanya :  Bisakah kemudian peran ini ‘ditukar atau dialihkan’ karena suatu hal? Terutama mengenai tugas mencari atau memberikan nafkah?

Jawab : Tentu tidak bisa, karena ini adalah aturan syariat yang mulia. Namun sebenarnya persoalan yang terjadi di lapangan sebenarnya tidak dalam konteks ditukar atau dialihkan, sehingga seolah-olah suami tidak lagi mempunyai kewajiban memberi nafkah, namun lebih banyak karena faktor kondisi financial yang kurang sehingga istri kemudian ikut mencari tambahan penghasilan dengan bekerja di luar. Dalam hal ini syariat kita tidak melarang seorang wanita untuk bekerja, tentu sepanjang memenuhi syarat dan adabnya.  Ibnu Hajar Al Haitsami pernah ditanya tentang seorang istri yang keluar rumah dalam rangka bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya, beliau menjawab : Boleh seorang istri keluar rumah untuk keperluan mencari nafkah jika benar nafkah suami tidak mencukupi. Permasalahan yang terjadi kemudian, bisa jadi penghasilan istri lebih besar dan atau bahkan kemudian menjadi tulang punggung keluarga.

Tanya : Bagaimana kemudian suami seharusnya bertindak berdasarkan aturan Islam mengenai hal tersebut? Bagaimana pula dengan istri?

Jawab : Perlu ditekankan bahwa dalam aturan Islam pada dasarnya harta suami dan istri itu terpisah.  Hal ini sangat penting saat terjadi hal-hal yang rentan menimbulkan permasalahan di masa yang akan datang, misalnya persoalan warisan, atau juga dalam ketika suami berpoligami.  Karena itu jika terjadi di lapangan, seorang istri bekerja dan kemudian menafkahi atau menjadi tulang punggung keluarga, yang sebenarnya itu menjadi kewajibannya, perlu diperjelas apakah itu adalah bentuk sedekah atau hadiah dari seorang istri kepada suami, ataukah dana talangan atau semacam hutang yang nantinya akan diganti atau dipenuhi oleh suami pada masa yang akan datang ? . Tentang sedekah istri kepada suami hal tersebut memang dibolehkan, bahkan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mereka yang melakukan itu mendapatkan dua pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala silaturahim.  Namun yang penting untuk diperhatikan jangan sampai sedekahnya istri ini kemudian melalaikan suami dari tugas utamanya mencari nafkah.

Tanya :     Dalam Islam disebutkan bahwa suami adalah qowwam. Bagaimana qowwam itu kemudian dijabarkan dalam peran (sebagai kata kerja)?

Jawab : Qowwam adalah pemimpin, yang bertanggung jawab dalam segala urusan keluarga, dan jelas disebutkan dalam Al-Quran bahwa memberikan nafkah menjadi salah satu faktor utamanya. Allah SWT berfirman : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (An-Nisaa: 34).

Tanya : Bagaimana korelasi mencari/ memberi nafkah dengan kepemimpinan dalam keluarga?

Jawab : Bagi suami tentu jelas kolerasinya, bahwa salah satu faktor utama kepemimpinan mereka dalam rumah tangga adalah kewajiban mereka memberi nafkah.  Tapi hal ini tidak bisa lantas dianalogikan  bahwa jika istri yang mencari nafkah kemudian ‘kepemimpinan’ ini bergeser ke pihak istri. Sehingga istri akan terlihat dominan dalam berbagai kebijakan, atau lebih parahnya merendahkan suami dan berkurang ketaatannya kepada suami. Jadi ini adalah ujian tersendiri bagi para istri, dimana saat kondisi ‘darurat’ ia menjadi tulang punggung keluarga, ia harus tetap menghargai dan menghormati suami sebagai kepala keluarga. Dari sisi suami jelas, harus tahu diri dalam arti jangan menikmati kondisi tersebut berlama-lama.

Tanya : Jika keberadaan suami di rumah (tidak bekerja), lebih disebabkan karena (maaf) malas, hal konkrit apa yang harus dilakukan seorang istri?

Jawab : Saya beberapa kali memberikan ceramah seputar peran muslimah dalam ekonomi keluarga. Yang sering dipahami banyak orang adalah peran muslimah dalam hal ini adalah dengan bekerja saja, menambah penghasilan keluarga. Padahal ada peran lain yang juga tidak kalah pentingnya, yaitu memotivasi suami dalam bekerja. Saya kira sudah cukup banyak dalil dalam agama kita yang menganjurkan dan memotivasi seseorang untuk bekerja, tinggal bagaimana seorang istri bisa ‘mentransfernya’ ke suami agar tidak malas berusaha atau mencari kerja. Dalam rumah tangga memang perlu dibangun komunikasi yang terbuka dan tentu saja saling nasehat menasehati antara suami istri. Jika diperlukan ada pihak ketiga yang dituakan,  diminta untuk turut memotivasinya, tentu dengan cara yang baik.

Tanya : Bagaimana paradigma yang tepat mengenai Bapak Rumah Tangga (BRT)

Jawab : Kalau Bapak Rumah Tangga itu dimaknai seorang suami bekerja mengurus rumah dan meninggalkan kewajiban mencari nafkah, maka itu adalah hal yang salah dan harus dihindari sejauh mungkin. Tapi kalau yang dimaksud BRT adalah seorang suami yang meski sibuk dan lelah mencari nafkah di luar, tapi tetap tanggap dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, saling tolong menolong dengan istri mengurus rumah tangga bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan teknis , maka tentu itu adalah definisi BRT yang lebih tepat, karena Rasulullah SAW juga member contoh pada kita.  Suatu ketika ibunda Aisyah ditanya tentang kegiatan Rasulullah SAW selama di rumah, maka beliau menjawab :  “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”

Demikian semoga bermanfaat dan salam optimis.

*wawancara dimuat di Majalah Hadila Oktober 2014