Jadikan Masjid Kita Ramah Anak

on Jumat, 14 Maret 2014

Masjid adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat muslim. Bukan saja tempat untuk menjalankan sholat lima waktu berjamaah, namun masjid juga diharapkan mempunyai banyak fungsi dan kemanfaatan, khususnya untuk pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Setiap muslim dituntut untuk mengoptimalkan fungsi masjid dengan baik, memakmurkannya dengan ragam kegiatan yang positif nan bermanfaat. Allah SWT berfirman tentang mereka yang memakmurkan masjid : “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS At Taubah 18)

Sejatinya setiap muslim tua muda, kaya miskin, harus bersemangat untuk mendatangi dan merindukan masjid. Sikap dan akhlak seperti ini menunjukkan nilai keimanan dan ketakwaan yang ada pada diri kita.  Rasulullah SAW bersabda : Apabila kamu sekalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman (HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id Al Khudri). Bahkan pada riwayat lain beliau juga menyampaikan, bahwa salah satu golongan yang akan mendapatkan perlindungan di hari kiamat nanti, adalah mereka yang hatinya senantiasa merindukan masjid dan mendatanginya.

Namun yang terjadi saat ini bisa jadi sebaliknya, khususnya pada diri anak-anak kita. Banyak masjid yang mengganggap kehadiran anak-anak sebagai faktor pengganggu kekhusyukan sholat. Sehingga terkadang bukan saja peringatan dan teguran keras diberikan kepada mereka oleh para takmir masjid, namun juga sampai pada tahapan melarang mereka untuk hadir di masjid. Tentu hal ini cukup berlebihan, mengingat anak-anak sekalipun punya potensi mengganggu, mereka saat ini berada dalam fase pembiasaan untuk sholat dan secara khusus, berjamaah di masjid. Masa yang cukup penting agar mereka menjadi terbiasa dan tidak asing dengan masjid.

Para orangtua sebenarnya sejak lama telah diingatkan oleh Rasulullah SAW untuk mengajarkan sholat sejak dini kepada anak-anak mereka.  Beliau bersabda : “Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika berumur 7 tahun“ (HR Ahmad). Tentu perintah ini bukan sekedar menjalankan tata cara sholat semata, namun juga termasuk di dalamnya mengajarkan kebiasaan sholat berjamaah. Sehingga bagi kita para orangtua, terlebih para takmir masjid, tentu harus menyadari bahwa kehadiran anak-anak di masjid cukup penting sebagai pengenalan dan pembiasaan bagi mereka. Apalagi mereka anak-anak itu juga yang akan kita siapkan menjadi generasi penerus pemakmur masjid di masa berikutnya.

Sebenarnya, kehadiran anak-anak di masjid sudah ada pada masa Rasulullah SAW, dan riwayat yang ada justru menunjukkan sikap terbuka Rasulullah SAW terhadap keberadaan mereka.  Diantaranya sebuah riwayat yang mengisahkan tentang cucu beliau Hasan dan Husain, keduanya menaiki punggung RAsulullah SAW justru pada saat beliau sedang sujud, sehingga kemudian beliau pun memperlama sujudnya. Setelah selesai sholat beliau menjelaskan kepada para sahabat tentang hal tersebut dengan sabdanya : ‘Aku enggan bangun dari sujud, sampai mereka puas menaiki punggungku’“ (HR Ahmad). Bahkan dalam riwayat Bukhori dan Muslim juga disebutkan beliau pernah sholat sambil menggendong Umamah binti Zainab. Saat berdiri beliau menggendongnya, dan saat sujud beliau meletakkannya. 

Akhirnya, menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua para orangtua dan khususnya para takmir atau pengurus masjid, untuk berupaya menghadirkan masjid yang ramah anak. Bukan saja dengan tidak menegur secara keras dan berlebihan kepada anak-anak yang ramai di masjid, namun lebih dari itu juga berupaya menyiapkan baik kegiatan maupun fasilitas yang membuat anak-anak kita betah, nyaman dan merindukan masjid. Semoga Allah SWT memudahkan. Wallahu a’lam bisshowab

*artikel dimuat di Rubrik Tausiyah Suara Solo Suara Merdeka, Jumat 14 Maret 2014

Inspirasi Pemimpin yang Menolak Fasilitas & Pelayanan

on Senin, 10 Februari 2014

Jika kita bicara tentang segala sifat dan ciri kepemimpinan dalam literatur manajemen modern, semuanya akan dengan mudah kita temukan berserak dalam paparan siroh nabawiyah, peristiwa demi peristiwa. Salah satu yang akan kita ambil inspirasinya kali ini adalah kisah persiapan keberangkatan pasukan muslimin dalam perang Badar. Kita semua sama tahu, peperangan Badar adalah peperangan besar pertama kali yang dihadapi kaum muslimin di Madinah, melawan kaum kafir Qurays di Mekkah. Bahkan rencana awal peperangan yang berupa operasi penyergapan kafilah dagang Abu Sufyan, berubah menjadi berhadap-hadapan dengan pasukan besar kaum kafir Qurays, yang berjumlah 1300 pasukan dengan kelengkapan perang dan logistik yang berlipat-lipat.

Sungguh berbeda dengan kondisi pasukan muslim, yang hanya membawa sekitar 300-an prajurit lebih sedikit, yang bukan hanya minim secara jumlah, namun juga peralatan, sarana pengangkutan perang. Hanya ada sekian unta dan sedikit kuda yang tentu saja masih jauh sangat kurang dari jumlah yang semestinya diharapkan. Belum lagi medan perang Badar yang terpampang cukup jauh dari Madinah sekitar 230 km, dengan cuaca panas yang bisa melumerkan semangat orang-orang kebanyakan.

Namun tentu hal tersebut tidak berlaku bagi kaum Anshor dan Muhajirin, yang sejak awal telah melekat kuat semangat terpatri dalam dada, ikut bersama Rasulullah SAW kemanapun menyongsong surga. Mereka tak sudi disamakan dengan Bani Israil pengikut nabi Musa as, yang dengan penuh kesombongan dan kemalasan berteriak kepada pemimpin sekaligus nabi-nya : " pergilah Anda dan Tuhan Anda untuk berperang,  sungguh kami disini saja duduk-duduk menunggu "(QS Al Maidah 24).  Karenanya, meskipun sedikit perbekalan dan minimnya kendaraan, merekapun tetap teguh melanjutkan perjalanan.

Untuk efektifitas keberangkatan pasukan, maka kemudian dibagilah kendaraan yang ada, dimana seekor onta untuk jatah tiga sampai empat orang, untuk ditunggangi bergantian, sementara yang lainnya berjalan kaki. Tentu saja seekor unta tidak bisa dipaksakan untuk dinaiki tiga atau empat orang sekaligus, maka pembagian giliran berupa dua orang naik onta, dan satu orang berjalan. Begitu bergantian seterusnya hingga sampai di tujuan.

Saat pembagian tersebut, tercatat Rasulullah SAW ikut dalam rombongan pembagian unta bersama Ali bin Abi Tholib dan Abu Lubabah. Kita berhenti sejenak di sini. Ini bukan hal yang biasa dan sederhana, apalagi dilihat dari logika dan kepemimpinan yang terserak hari ini. Rasulullah SAW tidak melihat dirinya sebagainya pemimpin besar yang harus disediakan fasilitas berlimpah nan berbeda. Jangan bayangkan pesawat kepresidenan atau air force one, bahkan untuk tunggangan seekor unta nan bersahaja pun beliau siap berbagi. Dalam logika sederhana kita, bisa saja beliau meminta jatah satu unta yang terkuat nan hebat, dan tidak ikut dalam pembagian pasukan. Namun beliau tidak melakukannya, karena kondisi kekurangan yang ada pada waktu itu salah satunya. Memang dalam perkembangan zaman berikutnya, saat kaum muslimin telah berkembang dari semua sisinya, termasuk perekonomian dan perlengkapan perangnya, beliau memang memiliki kuda nan gagah yang dijuluki dengan al-qoshwa.

Apa yang terjadi kemudian saat perjalanan pasukan sepanjang 230 km itu mulai bergerak. Saat tiba giliran Rasulullah SAW untuk berjalan kaki, maka dengan serta merta Abu Lubabah dan Ali bin Abi Tholib berebutan menawarkan diri untuk menggantikan Rasulullah SAW dalam berjalan kaki. Keduanya tak rela dan segan jika harus naik unta sementara pemimpin dan nabi mereka berjalan disamping. Lalu apa jawab Rasulullah SAW melihat dua sahabat mudanya bersemangat menggantikan dirinya berjalan kaki ? Sejarah mencatat jawaban sederhana beliau penuh keakraban : " Kalian berdua ini belum tentu lebih kuat dari diriku, dan aku juga masih butuh pahala sebagaimana kalian berdua ". Bisa kita bayangkan, di saat usia beliau menapaki 55 tahunan, sementara Ali bin Abi Tholib 38 tahun lebih muda, tak terbersit dalam pikiran beliau untuk memanfaatkan ketulusan sang prajurit.

Pemimpin yang tidak ingin berlimpah dalam fasilitas, dan juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya, tidak tenggelam dalam lautan harta dan fasilitas kemudahan yang memabukkan. Kita tentu semua merindukannya. Kita mulai dari diri kita, dengan mengambil inspirasi dari sekelumit kisah kepemimpinan Rasulullah SAW di atas. Semoga bermanfaat dan salam optimis.

Apa Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional ?

on Kamis, 30 Januari 2014

PERTANYAAN : Ustadz, saat ini banyak tumbuh berkembang bank syariah di perkotaan, yang juga diikuti dengan koperasi syariah atau BMT di kecamatan dan desa. Sebagai seorang muslim, tentu saya tertarik dan bersemangat untuk menabung di koperasi syariah tersebut, namun yang saat ini masih membuat saya ragu, adalah pendapat sebagian teman saya yang mengatakan bahwa sama saja saat ini antara yang syariah dan yang tidak. Karena itu, untuk menjawab keraguan tersebut, mohon kiranya bisa dijelaskan apa sebenarnya titik perbedaan antara bank/koperasi syariah dengan yang konvensional. Maturnuwun
JAWABAN :Terima kasih atas pertanyaannya, semoga semangat menuntut ilmu dan melakukan segala sesuatunya dengan penuh ilmu dan keyakinan bisa terus dipertahankan, karena beramal tanpa ilmu, sebagaimana ungkapan Umar bin Abdul Aziz, akan lebih banyak merusak dari pada memperbaiki.

Kebanyakan pendapat yang mengatakan bahwa bank atau koperasi syariah sama saja dengan yang lainnya, biasanya dikarenakan dua hal. Pertama, sebagian nasabah koperasi konvensional yang sudah terbiasa dan tahu seluk beluk praktik peminjaman koperasi konvensional, lalu saat berhubungan dengan koperasi syariah mereka tidak melihat ada hal yang berbeda, sama-sama pinjam uang dan ada tambahan. Mereka hanya tahu : pokoknya kami butuh sekian-sekian dan siap mengangsur sekian-sekian dalam pengembaliannya, tanpa mengetahui –atau tidak mau tahu- akad apa yang dipakai dalam transaksi tersebut, dan bagaimana syarat serta ketentuannya.

Sementara sebagian yang kedua, menganggap sama antara koperasi syariah dengan yang lainnya dikarenakan  mereka yang memahami tentang ilmu ekonomi syariah, lalu melihat aplikasi sebagian bank/koperasi syariah yang tidak sesuai dengan apa yang semestinya dilakukan dalam akad-akad syariah. Misalnya tertuang akad jual beli, ternyata dalam aplikasi tidak ada barang yang diperjualbelikan. Hal semacam ini bisa saja terjadi karena faktor SDM atau kurangnya pengawasan di beberapa bank atau koperasi syariah, namun secara umum tidak bisa diartikan bahwa secara umum sama antara koperasi syariah dan yang lainnya.  Memang pandangan ini sepenuhnya juga tidak bisa disalahkan, dan layak menjadi bahan evaluasi pihak bank atau koperasi syariah untuk meningkatkan kualitas kepatuhan syariahnya, khususnya dalam hal aplikasi. Kalau tidak, maka akan mudah masyarakat memberikan stigma sama antara syariah dan konvensional, karena bukankah karena nila setitik rusak susu sebelanga ?

Kembali ke pertanyaan saudara, apa point perbedaan antara koperasi syariah dan yang lainnya. Saya coba ringkaskan bahasan tersebut dalam tiga hal, yaitu tentang : akad tanpa riba, produk & usaha yang halal, dan pengawasan syariah berbasis fatwa MUI.

Pertama, Akad tanpa Riba : 
Kemunculan bank syariah sendiri atas dasar upaya menyelamatkan umat dari sistem ribawi bank konvensional yang telah menggurita dan mengakar kuat dalam masyarakat. Riba dengan segala bentuknya telah jelas dilarang dan dilaknat dalam Al-Quran dan Sunnah, bahkan bukan hanya kedua belah pihak yang bertransaksi saja yang terlaknat, namun juga organisasi atau lembaga yang bekerja dengan sistem ribawi, sebagaimana riwayat dari Jabir ra, beliau berkata : Rasulullah saw telah melaknat pemakan riba, yang diberi makan dengan riba, pencatat riba dan dua orang saksi dalam riba, dan beliau berkata semuanya adalah sama dalam dosanya (HR Muslim). Karena itulah sudah semestinya hal ini tertancap kuat dalam benak setiap muslim, hingga kemudian berhasil menghadirkan kemunculan sistem perbankan yang syariah.

Maka jika pada bank konvensional, ada istilah peminjaman yang berbasis bunga, dimana seorang nasabah meminjam dana maka akan dikenakan tambahan dalam pengembalian sebesar sekian persen dari pokok terhutang setiap modalnya, demikian seterusnya hingga nasabah tersebut berhasil melunasinya. Sehingga bisa jadi uang yang ia pinjam Rp 10 juta dari bank, maka dalam satu tahun ia harus melunasi secara mengangsur dengan jumlah total 11 atau 12 juta. Tambahan yang disyaratkan sejak awal akad peminjaman ini jelas masuk kategori riba yang diharamkan, sebagaimana sudah banyak difatwakan oleh para ulama dunia dan juga fatwa MUI tahun 2004 tentang bunga bank.

Adapun di bank syariah, tidak mengenal istilah pinjam meminjam dan tambahan ribawi atas pinjaman tersebut. Koperasi /bank syariah akan memberikan layanan yang tidak jauh sifatnya dari tiga hal yaitu : jual beli (murobahah), investasi atau kerjas sama modal (mudhorobah), atau sewa-menyewa atau pengupahan ( ijaroh). Dari tiga hal layanan di atas bank/koperasi syariah juga akan mendapat keuntungan yang halal dan tidak bersifat ribawi. 

Dalam jual beli (murobahah), maka nasabah yang membutuhkan barang seperti sepeda motor pesan ke bank/koperasi, lalu kemudian pihak koperasi akan menyediakan sepeda motor tersebut dengan cara dibeli dari dealer, untuk kemudian dijual kembali kepada nasabah dengan mengangsur. Dalam murobahah bank mendapatkan masukan dari keuntungan (margin) antara harga sepeda motor yang dibeli dari dealer, dan yang dijual kepada nasabah.

Adapun dalam mudhorobah, nasabah yang memiliki usaha riil dan produktif mengajukan penambahan modal usaha, maka koperasi syariah setelah melakukan pengecekan dan mempelajari prospek usaha tersebut, akan memberikan modal tertentu dalam batas waktu tertentu, dengan hasil keuntungan yang diperoleh akan dibagi dua (bagi hasil) dengan nisbah yang telah ditentukan prosentasenya sejak awal, seperti 60%-40%  atau 70%-30% sesuai kesepakatan tiap bulan atau tiap periode tertentu. Disini tentu diperlukan kejujuran dan profesionalitas nasabah dalam pencatatan laporan keuangannya. Nasabah kemudian mengembalikan modal tersebut pada akhir masa akad, atau boleh dengan sistem mengangsur sebelumnya untuk meringankan nasabah jika diperlukan.

Adapun dalam ijaroh atau upah mengupah dan sewa menyewa, lebih sederhana karena dalam hal ini koperasi mempunyai layanan yang memudahkan bagi nasabah, kemudian nasabah membayar biaya (fee) sebagai gantinya. Misalnya dalam hal pembayaran listrik, telepon dan yang semacamnya, nasabah yang menggunakan fasilitas koperasi syariah untuk pembayaran tersebut, dikenakan biaya fee tambahan.

Ketiga jenis akad tersebut adalah yang paling banyak dilakukan di koperasi syariah, meskipun sebenarnya masih banyak lagi produk akad-akad syariah yang bisa juga diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Kedua : Produk & Usaha yang Halal. 
Sebagaimana sama kita ketahui bahwa syariat mengharamkan segala bentuk transaksi dan jual beli yang berkenaan dengan barang haram, maka begitu pula yang terjadi di koperasi syariah. Tidak setiap permintaan pembelian barang dengan akad murobohah disetujui, sebagaimana tidak setiap permintaan investasi dana untuk usaha disetujui. Pihak koperasi syariah akan meneliti lebih jauh jenis barang yang diminta, dan untuk apa barang tersebut, begitu pula dengan jenis usaha yang dilakukan nasabah, apakah sesuai dengan aturan syariah atau melanggar. Karena dalam bahasan fiqh klasik pun dikenal hal seperti ini, misalnya larangan menjual anggur kepada mereka yang dikenal sebagai pembuat khamr, dan banyak contoh lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT :  “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. [Al Maidah :2].

Ketiga : Adanya Pengawasan Syariah. 
Manusia tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits ada yang sore beriman dan pagi hari kafir, begitu pula sebaliknya. Iman manusia terkadang naik dan turun, sehingga demikian pula dalam menjalankan ekonomi syariah. Sehingga salah satu pembeda utama antara bank syariah dan konvensional adalah adanya pengawasan syariah, yang meneliti dan memastikan bahwa seluruh transaksi yang dijalankan lembaga keuangan tersebut sudah sesuai dengan aturan syariah atau belum. Dalam hal ini pengawasan syariah pada bank/koperasi syariah tidak melaksanakan “ijtihad” secara pribadi karena hal tersebut di luar kemampuannya. Namun mengambil landasan dari fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI dalam bidang ekonomi syariah. Pengawas syariah lah yang memastikan bahwa fatwa-fatwa DSN MUI tersebut bisa dilaksanakan dengan baik dan teknis di lingkungan koperasi syariah.

Nah, demikian setidaknya tiga hal utama yang semoga bisa memberikan gambaran tentang perbedaan antara bank syariah dan bank lainnya. Dengan catatan tentu saja, bahwa bank  dan koperasi syariah pun tentu harus dituntut untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kinerjanya, agar pandangan masyarakat yang menyamakan antara syariah dengan konvensional lambat laun bisa terbantah melalui aplikasi dan bukti nyata. Semoga Allah SWT memudahkan. Wallahu a’lam bisshowab

*artikel dimuat dalam Rubrik Konsultasi Majalah Insani BMT Bina Insan Mandiri, Januari 2014

Menuduh Keikhlasan para Relawan : Catatan Banjir Jakarta

on Rabu, 15 Januari 2014

Musibah banjir di Jakarta mendatangkan keprihatinan, namun juga meningkatnya solidaritas dan kepedulian. Hal ini dibuktikan dengan marak dibukanya posko-posko bantuan, dan juga turunnya para relawan langsung ke gelanggang untuk membantu evakuasi dan memberikan bantuan. Beberapa tokoh politik juga terlihat mondar-mandir dan blusukan, menyapa warga, menguatkan hati dan tentu saja memberikan bantuan. Beberapa diantara mereka bahkan terlihat lehernya saja untuk memasuki wilayah yang terendam lebih dalam. Namun diantara itu semua, yang layak untuk dicermati adalah banyaknya komentar pedas yang menuduh mereka -partai politik- yang membuka posko hanyalah berniat pencitraan dan kampanye. Partai politik dituduh mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tuduhan ini bukan hanya bersliweran di media sosial seperti facebook atau twitter, namun juga media turut memanas-manasi keadaan entah sengaja atau tidak.

Mari kita simak salah satu contoh, bagaimana situs berita merdeka com menampilkan judul yang terlihat sangat subjektif : Tahun politik, kader PKS datangi korban banjir Jakarta.   Berikut penggalan awal dari tulisan tersebut :

2013 Merupakan tahun politik bagi partai politik. Sebab, tahun ini parpol akan berusaha mati-matian meningkatkan citranya agar dipilih oleh publik di Pemilu 2014. Bersamaan dengan itu, awal tahun politik Jakarta diterjang banjir. Sejumlah parpol pun berusaha menarik simpati warga dengan memberikan bantuan dan mendirikan posko. Hal yang sama juga dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sejumlah kader PKS mendatangi para korban banjir yang masih bertahan di rumahnya masing-masing untuk memberikan bantuan.

Maka tulisan di atas pun bersambut dengan tambah komentar yang hampir semuanya mencibir langkah yang telah dilakukan parpol tersebut. Ada yang menyebut dengan kemunafikan, tidak ikhlas, dan serangkaian tuduhan lainnya. Entah gejala apa, tetapi yang seharusnya terjadi dalam situasi seperti ini adalah saling berlomba untuk berbuat yang terbaik dan membantu warga yang kesulitan, bukan saling menuduh niatan apalagi dengan berpangku tangan. Saya yakin sepenuhnya, tuduhan dan cibiran tersebut tidak akan mengurangi kerja dan kinerja parpol yang dimaksud untuk melanjutkan kerjanya, sebagaimana cibiran dan komentar tersebut juga sama sekali tidak meringankan beban yang harus ditanggung warga.

Untuk menjelaskan cara berpikir yang semestinya, empat hal berikut ini setidaknya bisa kita pertimbangkan sebelum kita banyak berkomentar nyinyir terhadap didirikannya posko bantuan dari parpol peserta pemilu.

Pertama : Menuduh Keikhlasan 
Keikhlasan adalah nasehat bagi diri agar setiap kali beramal selalu ditujukan untuk meraih ridho ilahi. Keikhlasan sewajarnya ditujukan untuk diri sendiri melalui istighfar dan renungan dalam hati, agar niatan tidak terkotori dengan apapun. Keikhlasan adalah alat evaluasi diri, bukan senjata yang ditodongkan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan di hadapan kita. Begitulah generasi sahabat memberikan contoh pada kita, ketika terjadi parade sedekah dan amal kebaikan di antara mereka, tidak ada satupun komentar dari mereka bahkan dari Rasulullah SAW yang mempertanyakan keikhlasan mereka. Ketika Usman bin Affan menyedahkan banyak logistik peperangan, Rasulullah SAW memberikan apresiasi dengan menyatakan : " setelah ini tidak ada lagi yang bisa mengganggu amalan Usman" .

Tidak diperbolehkannya kita menuduh keikhlasan, lebih mendalam lagi bisa kita ambil dari kisah bagaimana Usamah, prajurit kecintaan Rasulullah SAW yang membunuh seorang musuh setelah mengucapkan kalimat syahadah. Usamah beralasan bahwa ucapan tersebut hanya 'pencitraan', tipuan, dan tidak ikhlas mengucapkannya karena berharap selamat dari tebasan pedang. Apakah Rasulullah SAW sepakat dengan hal itu ? Tidak dan sama-sekali tidak, beliau terdengar marah dan tidak suka, serta bertanya berulang-ulang kepada USamah : " apakah engkau sudah membelah dadanya ? (hingga engkau tahu bahwa dia tidak ikhlas mengucapkannya ? ". Usamah takut dan menyesal dengan perbuatannya menuduh keikhlasan seseorang.

Pertanyaan yang sama bisa kita ajukan,  apakah mereka yang mencibir keikhlasan mereka yang membantu korban banjir, telah membelah dada para relawan dan mengetahui isi hati mereka ? Tidak sekali-kali tidak.

Kedua : Sejarah dan Kebiasaan, bukan Pahlawan Kesiangan
Tuduhan mencari kesempatan dalam kesempitan, kampanye di tengah keprihatinan musibah, adalah tuduhan yang teramat menyakitkan. Tuduhan seperti itu mungkin wajar jika ditujukan kepada mereka yang selama ini duduk-duduk saja saat terjadi bencana di nusantara ini. Mungkin ada memang satu dua tokoh atau ormas yang bak pahlawan kesiangan yang tiba-tiba saja muncul saat bencana dan diliput media, lalu hilang pada kesempatan berikutnya.Tapi apakah semua seperti itu ? Tentu tidak. Bahkan sekalipun ada yang seperti itu, tetap saja masyarakat dan korban banjir menerima kemanfaatannya, meski tak seberapa.

Namun tuduhan itu menjadi tidak wajar bahkan aneh, karena parpol semacam PKS mempunyai track record penanganan bencana sejak lama. Dari mulai bencana Tsunami Aceh, gempa bumi padang, Jogjakarta, letusan Merapi, situgintung, kebakaran-kebakaran di pasar, tanah longsor karanganyar, dan setiap musibah lainnya, kader PKS senantiasa bersama masyarakat ikut terjun langsung dalam evakuasi dan bantuan pada korban atau pengungsi. Musibah dan bencana tak mengenal tahun politik, kapan saja bisa terjadi. Begitu pula PKS, kesiapan dalam penanganan bencana menjadi latihan dan kegiatan rutin kadernya, bahkan dibentuk unit P2B yaitu penanganan dan penanggulangan bencana.

Maka jika pada banjir Jakarta ini tiba-tiba muncul berdiri 72 posko PKS di seluruh Jakarta -sebagaimana diberitakan Republika Online, maka itu bukti kesiapaan, kebiasaan dan terlatihnya kader PKS dalam membantu masyarakat saat terjadi musibah melanda. Sekali-kali mereka bukanlah pahlawan kesiangan, karena pahlawan kesiangan tak memiliki kekuatan dan nafas panjang sebesar itu.

Ketiga : Berlomba dalam Kebaikan bukan Komentar apalagi Tuduhan
Saat ini yang dibutuhkan masyarakat khususnya korban banjir adalah siapa saja mereka yang siap dan mau berkorban, dari manapun dan siapapun mereka. Mereka yang terbaik adalah yang paling banyak kemanfaatannya bagi orang lain. Ibaratnya terjadi kebakaran, maka sudah selayaknya semua bergerak untuk segera memadamkan, siapa saja yang mampu layak untuk ditiru. Bukan malah sibuk menggerutu dan menyebar tuduhan ambigu.

Keempat : Penggunaan Identitas
Salah satu yang paling sering disorot adalah penggunaan identitas, khususnya kaos bagi relawan parpol saat melayani. Siapa saja yang turun di lapangan akan mendapati situasi yang sangat rumit dan membutuhkan penanganan yang cepat, solid dan terorganisir. Maka penggunaan identitas bukan hanya wajar bagi relawan, namun menjadi sebuah keharusan sebagai sebuah kesiapan bekerja dan siap bertanggung jawab. Para TNI, Polisi, SAR, PMI pun menggunakan identitasnya masing-masing, selain untuk kemudahan konsolidasi, juga menunjukkan kesiapan bekerja dan bertanggung jawab. Dengan penggunaan identitas, masyarakat berhak komplain dan tahu kemana harus protes saat terjadi kejadian, insiden atau hal-hal yang menganggu selama pelaksanaan evakuasi atau pemberian bantuan. Relawan tanpa seragam terkadang justru malah mengundang kerancuan pelaksanaan tugas di lapangan.

Akhirnya, tulisan ini bukan untuk membela relawan dari parpol, khususnya PKS, karena salah satu bukti keikhlasan adalah baik pujian maupun cercaan tak menyurutkan langkah untuk melanjutkan amal kontribusinya. Ini yang kita dapati dengan mudah pada relawan PKS, sejak dulu sering dikomentari saat menangani bencana di daerah manapun, tapi itu semua tak menyurutkan langkah, sampai saat ini setia melayani negeri. Dari mereka layak kita mengambil inspirasi.

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

Update Status Cinta Anda Sekarang Juga !

on Minggu, 05 Januari 2014

Rutinitas harian senantiasa menggerus romantis antar suami istri. Yang dahulu bergelojak hebat penuh dendang cinta, saat ini menjadi biasa saja. Jika dahulu dunia serasa milik berdua, maka bukan tidak mungkin saat ini rumah berasa ‘neraka’.  Salah satu buktinya bisa kita lihat di pagi hari, saat kesibukan mempersiapkan anak-anak sekolah.  Tampaknya  semua sepakat untuk menciptakan suasana menegangkan di awal pagi. Semua menginginkan untuk keluar rumah dengan kondisi yang terbaik. Detak jantung seolah berlomba dengan jarum jam untuk segera menuju angka tujuh. Maka keberkahan pagi hari sering tak membuahkan mesra sama sekali.

Di ujung hari suasana tak jauh berbeda. Sepulang kerja segunung lelah selalu melanda. Sang suami yang menuntut sambutan yang layak bak pangeran pulang dari peperangan  menaklukan negeri musuh, ternyata tak mendapatkan impiannya. Sang istri merasa lelah bukan kepalang sehabis menjaga anak-anak seharian yang selalu menciptakan kehebohan-kehebohan baru yang dilakukan. Karenanya, tak ada pelukan mesra dari istri yang harum mewangi. Sungguh kesan yang buruk untuk menutup hari. Liburan akhir pekan seringkali menjanjikan untuk dipenuhi agenda romantis bersama pasangan. Namun nyatanya banyak terlupakan dengan serangkaian agenda lemburan atau aktifitas suami ‘hangout’ bersama teman-teman kantor membuang kepenatan dunia kerja.

Gambaran di atas bukan kisah fiksi, namun nyata terjadi dalam keseharian kita. Sungguh sebuah rutinis yang membunuh cinta. Ya sadar atau tidak, kekacauan teknis setiap hari akan menggerus romantis antara suami istri.  Kelelahan yang di dapat setiap hari akan membuat agenda romantis suami istri menjadi kalah terengah-engah. Pada kondisi seperti inilah perlu kesadaran akan pentingnya ‘mengupdate’ status cinta Anda dan pasangan. Ini bukan tips hebat atau gila-gilaan yang membutuhkan biaya besar, namun kali ini ‘sekedar’ berbagi mesra lewat ungkapan cinta. Jika ungkapan ini mudah terucap dari lisan kita, niscaya kemesraan itu akan semakin nyata, bahkan bertambah sedemikian rupa, berbunga-bunga.

Mengapa perlu mengupdate status cinta ? Mengapa harus ada ungkapan cinta yang setiap saat harus kita menghiasi hari-hari kita ?  Mari kita awali dengan sebuah keyakinan ; sungguh setiap wanita membutuhkan pengakuan lebih tegas dan lugas tentang cinta suaminya. Tidak cukup dengan perhatian yang diberikan atau timbunan hadiah di dalam kamar, namun itu semua belumlah cukup selama belum mendengar satu dua kata yang memproklamasikan cinta sang suami.

Syariat Islam yang indah melihat pernyataan cinta adalah sebuah anjuran secara umum kepada saudara seiman, apalagi dengan para istri, tentu mempunyai tingkat pahala yang lebih jauh lagi. Dari Miqdad bin Ma'ad ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan : Apabila seorang mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahu kepadanya bahwa ia mencintainya (HR Tirmidzi dan Ahmad  dengan isnad shahih.) Memberitahukan kecintaan kepada seorang sahabat adalah anjuran Islam untuk mengekalkan ukhuwah. Lalu apa yang membuat ragu para suami untuk memproklamirkan cinta, mengupdate status cintanya kepada istri ?

Mari sejenak mengampil inspirasi dari rumah tangga nabi yang mulia, bagaimana pernyataan cinta begitu dibutuhkan. Adalah Muhammad Qutb dalam bukunya Aisyah, Guru Teladan Kaum Pria, menceritakan bahwa Aisyah ra, bila bertanya pada Rasul,  selalu dengan nada canda. Suatu ketika Aisyah ra bertanya, : “ Bagaimana cintamu padaku ? “. “Bagai untaian tali ! “, jawab sang Rasul. “ Bagaimana untaian itu ya Rasul ? “ Rasulullah menjawab : “ Ia dalam keadaan semula “.  Dalam keadaan semula, itu berarti tidak pernah berkurang karena ditelan zaman dan ketuaan. Begitulah update status cinta Rasulullah SAW yang segera membuat ibunda Aisyah tersipu malu.

Kita lihat begitu lugasnya ibunda Aisyah dalam menuntut pernyataan cinta Rasulullah SAW, suami dan manusia termulia. Ibunda Aisyah membutuhkan kejelasan dan jaminan ketenangan dengan ucapan cinta yang keluar dari lisan suami pujaan hatinya itu. Bukan meragukan atau tak percaya, namun lebih untuk menenangkan hati dan menjaga mesra. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan, memberikan penyataan dan ungkapan cinta yang sugguh penuh ketulusan.

Maka bagi para suami hendaknya tak ragu dan tak segan untuk mengungkapkan kecintaannya dengan lugas, karena pengakuan tulus itulah yang membuat para istri lebih tenang menapaki kehidupannya. Keyakinan keberadaan  sosok suami yang siap mencintai sepenuh hati, bagi para istri adalah modal besar untuk mengarungi bahtera kehidupannya lebih jauh lagi. Maka sampaikanlah pernyataan cinta Anda dengan bahasa sederhana yang paling Anda suka, entah bergaya barat “ i love you”, atau “ you my tenderlove”, atau yang bergaya kraton “ aku trisno marang sliromu “, atau boleh juga bergaya anak negeri tahun 80-an : “aku cinta kamu” dan sebagainya.  Susunlah kata dan ungkapan terbaik yang Anda bisa, nyalakan dengan ketulusan yang Anda punya, lalu biarkan deretan kata-kata indah itu meluncur begitu saja merasuki hatinya. Mungkin lidah akan serasa kelu di awal mencoba, teruskan saja toh tidak ada sutradara yang akan berteriak “ cut “ memotong mesra Anda.

Segera update status cinta Anda. Lakukan hari ini atau Anda membuang kesempatan pahala di awal pagi. Berikan kejutan untuk istri Anda, pada saat-saat yang menegangkan di pagi hari misalnya, atau waktu-waktu yang tak terduga. Bisa dengan bisikan lembut disebelah telinga, atau untaian kata-kata sambil mata saling berpandangan, atau sekedar sederet kata via sms harian yang dirindukan. Yakinlah, sepanjang apa yang anda sampaikan benar-benar berawal dari ketulusan hati, maka efek yang dihasilkan sungguh akan luar biasa. Hati pasangan Anda akan tergetar dan membumbung tinggi ke atas awan. Satu point untuk anda hari ini. Selamat !

*artikel dimuat dalam rubrik inspiring romance pada Majalah Embun Lazis Jateng

Urgensi Kepatuhan Syariah dalam Akad & Transaksi (Powerpoint)

on Sabtu, 04 Januari 2014

Saat sambutan dalam pembukaan Sertifikasi Dewan Pengawas BMT di Hotel Kaisar awal Desember 2013 yang lalu, KH. Makruf Amin ketua MUI mengatakan, bahwa kemungkinan kesalahan dalam pelaksanaan ekonomi syariah ada pada tiga tempat : yang pertama adalah fatwanya, kedua adalah produknya, dan ketiga adalah aplikasinya. Statemen ini sangat menarik untuk dicermati lebih jauh, mengingat sampai saat ini memang banyak kalangan dari umat Islam sendiri yang menyangsikan bahkan apatis dengan pelaksanaan ekonomi syariah di negara ini.

Adapun tentang fatwa, ini adalah wilayah ijtihadnya Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, yang sejak tahun 2001 sampai saat ini telah menelorkan sekitar 86 fatwa tentang transaksi di Lembaga Keuangan Syariah. Setiap fatwa yang dihasilkan oleh DSN MUI keluar setelah benar-benar melalui proses pembahasan yang marathon dan mendalam. Di Indonesia, DSN MUI memiliki otoritas dalam berfatwa seputar ekonomi syariah yang menjadi acuan bagi lembaga keuangan syariah di negara ini, sementara fungsi Dewan Pengawas Syariah (DPS) di tiap LKS atau perbankan adalah untuk mengawasi dan menerjemahkan fatwa DSN dalam bentuk produk yang lebih aplikatif. Di negara timur tengah hal ini tidak kita dapatkan, sehingga antar DPS perbankan bisa terjadi perbedaan fatwa yang menjadikan masyarakat bertambah bingung.

Di Indonesia, jika ada individu atau lembaga yang berbeda secara fatwa dengan DSN MUI, maka seharusnya saling menghargai dan membuka dialog untuk membahas fatwa tersebut dengan dialog ilmiah penuh kecintaan dan semangat mencari kebenaran. Dalam kaidah ushul fiqh di kenal istilah : al-ijtihad la yundodzu bi mitslihi , artian secara sederhananya : sama-sama berijtihad, dilarang saling menyalahkan.

Adapun tentang produk, maka ini berada di wilayah bank syariah dengan Dewan Pengawas Syariahnya. Biasanya lahirnya sebuah produk akad diawali usulan dari pihak manajemen Bank, dilengkapi dengan ketentuan, syarat dan SOP pelaksanaannya. Usulan inilah yang kemudian ditelaah oleh DPS untuk dilihat apakah sesuai dengan fatwa DSN MUI atau tidak. DPS kemudian membuat opini syariah untuk menegaskan bahwa produk tersebut sudah sesuai dan bisa berlanjut. Maka disini perlu kehati-hatian, kecermatan dan kecerdasan DPS dalam menghubungkan antara yang tercantum dalam fatwa MUI, dengan usulan produk yang diajukan oleh pihak manajemen.

Setelah fatwa, produk, maka kemungkinan kesalahan ada di tingkat aplikasi, dan sayang seribu sayang, justru terkadang tingkat kesalahan, bahkan penyimpanan paling banyak ada di sektor ini. Bisa dipahami, sebagian besar SDM Ekonomi Syariah berasal dari konvensional yang barangkali masih belum berhasil untuk 'move on' dan 'turn over' ke sistem syariah, yang memang mengharuskan SOP yang ketat dan bertingkat. Sehingga yang terjadi dilapangan seolah terjadi penggampangan yang dilakukan secara sengaja, bagi sebagian praktisi ekonomi syariah, hanya dengan memberikan label akad syariah seolah-olah sudah menyelesaikan seluruh kebimbangan. Hal inilah yang menjadikan perjalanan lembaga keuangan syariah tidak pernah sepi dari kritikan, karena kenyataan di lapangan menunjukkan banyak yang meremehkan seputar aplikasi akad syariah tersebut.

Karena itulah, presentasi berikut ini saya buat untuk mengingatkan kembali para SDM ekonomi syariah untuk lebih komitmen dalam menjalankan aplikasi akad. Karena secara umum, fatwa DSN MUI dan produk akad yang sudah disahkan oleh DPS relatif telah sesuai dengan syariah, tinggal persoalan aplikasi yang masih saja selalu bermasalah di lapangan.

DOWNLOAD POWERPOINT URGENSI KEPATUHAN SYARIAH :

http://www.4shared.com/file/dCYWrHAuce/Urgensi_Kepatuhan_Syariah.html

Semoga bermanfaat dan salam optimis