Don't miss

Sabtu, 15 November 2014

Bolehkah Merayakan Ulang Tahun Anak ?


PERTANYAAN :
Assalamualaikum Ustadz,  Saya ingin bertanya mengenai perayaan ulang tahun. Perayaan ulang
tahun merupakan hal yang sangat umum dilakukan oleh masyarakat kita, hampir semua kalangan merayakannya, termasuk aktivis dakwah. Orang –orang di sekitar saya menyatakan pendapat yang berbeda-beda mengenaiini, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang setuju dengan perayaan ini
beralasan bahwa menyenangkan saudara termasuk ibadah. Sedangkan pendapat yang kontra berdasarkan hadist nabi yang melarang kita umat muslim untuk mengikuti tradisi umat non muslim. Mohon penjelasanustadz, bagaimana sebenarnya hukum merayakan ulang tahun ini. Terimakasih sebelumnya. Wassalamu’alaikum wr wb  (Danang – Solo )

JAWABAN :
Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih atas pertanyaannya, yang barangkali mewakili banyak para orangtua di masa ini, saat anak-anak mereka menuntut untuk dirayakan ulangtahunnya karena melihat kebiasaan teman-teman di sekolahan atau di lingkungannya. Memang saat ini banyak digelar aktifitas yang berkaitan erat dengan ulang tahun, baik itu berupa undangan pesta, upacara tiup lilin, pemotongan kue atau tumpeng, pemberian hadiah dan memberikan ucapan selamat.

Yang perlu kita pahami sejak awal adalah asal atau dasar dari perayaan ulang tahun ini, tidak ada dalam al-Quran dan Sunnah, juga dalam sejarah para sahabat, bahkan sejarah kaum muslimin secara umum. Perayaan ulang tahun ini memang berasal dari kebiasaan masyarakat barat secara turun-temurun yang kemudian masuk atau dimasukkan ke dalam masyarakat muslim, baik dahulu kalau sebagai warisan kolonialisme, ataupun hari ini melalui propaganda media televisi dan dunia maya (internet).

Namun tentu untuk mengetahui pembahasan hukumnya tidak hanya sesederhana itu, kita perlu melihat apa yang telah dikaji para ulama mengenai perayaan ulang tahun. Mayoritas ulama kontempoter berpendapat tentang haramnya perayaan ulang tahun, diantara mereka ada Syeikh Bin Baz, Muhammad Sholeh Utsaimin dan juga Dr. Yusuf Qardhawi. Banyak fatwa yang tersebar dari para ulama tersebut dan juga mayoritas lainnya, yang mendasarkan pelarangannya setidaknya pada tiga hal atau tiga sebab, yaitu :

Pertama, ketika perayaan ulang tahun itu mengandung unsur ritual ibadah atau ritual lainnya  diyakini tentang keutamaan atau kewajibannya, maka menjadi haram karena sudah jatuh pada hal yang bid’ah. Hal ini berdasarkan hadits dimana Rasulullah SAW bersabda : “siapa yang melakukan sebuah amalan (ritual /ibadah) yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]  . Maka pengharaman ini berlaku secara khusus pada kasus misalnya perayaan ulang tahun dengan membaca surat tertentu atau berpuasa dengan meyakini keutamaannya, atau bisa juga dengan ritual tertentu seperti mandi kembang, memasak bubur merah putih dan meyakini keutamannya. Maka berdasarkan hadits di atas, hal tersebut masuk kategori bid’ah yang haram dan harus dijauhi.

Kedua, ketika perayaan ulang tahun tidak mengandung ritual ibadah, sebagai adat kebiasaan namun begitu rupa dipersiapkan dengan meriah bahkan melebihi hari raya, diulang setiap tahun, disambut dan dinanti dengan penuh harap dan suka. Maka ini juga bisa masuk kategori haram karena menyaingi dan menambah ‘hari raya’ yang sesungguhnya.  Perlu diketahui pada awal kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, penduduk Madinah juga telah memiliki hari raya produk adat mereka dimana mereka bergembira dan bermain di dalamnya. Mengetahui hal tersebut Rasulullah SAW membatalkannya seraya bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu; idul fithri dan idul adha.(HR Ahmad). Maka dengan demikian jangan pula perayaan ulang tahun menjadi kebiasaan atau adat tersendiri yang ternyata menentang apa yang telah pernah Rasulullah SAW larang.

Ketiga, dalam perayaan ulang tahun  berisi kebiasaan yang mengandung unsur meniru dan mencontoh kebiasaan masyarakat barat, dari mulai meniup lilin, balon, pemotongan kue, standing party dan lain sebagainya, maka ini bisa menjadi hal yang haram karena sebagai seorang muslim kita diminta untuk bangga dengan identitas dan ajaran Islam, bukan malah meniru dan mengekor kebiasaan agama lain. Larangan meniru sebuah kaum jelas tergambar dalam sebuah hadits, dimana Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa  yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Dawud)

Diluar yang mengharamkan, memang ada sebagian kecil ulama yang membolehkan perayaan ulang tahun, dengan alasan bahwa itu bukan termasuk bab ibadah, sehingga berlaku kaidah “al-ashlu fil asy-yaa’i al-ibahah” bahwa hukum asal terkait muamalah adalah kebolehan, selama tidak ada nash yang secara tegas melarangnya. Diantara yang membolehkan adalah syeikh  Salman al-Audah, seorang ‘ulama terkemuka di Arab Saudi. Ia mengatakan “ dibolehkan perayaan ulang tahun atau peristiwa membahagiakan lainnya seperti (ulangtahun) pernikahan, dan boleh menyelenggarakan jamuan makan dengan mengundang kerabat dan sahabat, karena hal ini bukan perayaan ritual ibadah, tetapi urusan adat kebiasaan.  Tapi beliau juga menambahkan untuk tidak member istilah “ied” atau hari raya atas perayaan ulang tahun tersebut karena hal itu diharamkan mengingat hari raya dalam Islam hanya dua.

Pendapat syeikh Salman Audah ini cukup controversial dan banyak mendapatkan kritikan serta bantahan dari ulama lainnya.  Yang menarik justru ulasan dari Dr. Yusuf Qardhawi , dimana setelah beliau berpendapat tentang haramnya perayaan ulang tahun karena mengekor pada budaya dan kebiasaan barat, beliau mempunyai pemikiran tentang ‘perayaan’ pada anak-anak yang  bukan berdasarkan tanggal kelahirannya atau harus terulang setiap tahun, tapi berdasarkan peristiwa-peristiwa yang penting dalam kehidupan anak kita. Boleh juga dengan membuat jamuan dan mengundang sahabat, tapi tidak untuk pesta pora dan sia-sia, tapi memberikan nasehat kepada anak-anak terkait peristiwa tersebut.

Misalnya saat anak beranjak 7 tahun dibuat perayaan yang mengingatkan anak tersebut pentingnya sholat dan mulai komitmen membiasakan untuk sholat. Begitu pula pada saat menginjak usia baligh, atau pada saat anak wanita mulai berjilbab, pada saat anak menyelesaikan hafalan surat apa atau juz berapa, maka dibolehkan membuat perayaan yang juga mengundang teman dan kerabat, dengan jamuan, tapi bukan dengan niatan bermewah-mewah, apalagi menanggapnya bagian dari ibadah. Saya pribadi melihat ini sebuah hal yang menarik dan solutif dalam hal ini. Wallahu a’lam bisshowab.

*artikel dimuat dalam Rubrik Konsultasi Majalah Aitam : November 2014

Rabu, 12 November 2014

Bagaimana Seorang Masbuq melanjutkan Sholatnya ?


Pertanyaan : Assalamualaikum tadz. Afwan mau nanya. Saya masih bingung selama ini neh. Kalau kita telat sholat jamaah. Bacaannya yang dibaca apakah sama sesuai dengan urutan atau gerakan imam saat itu. Semisal, kita telat satu rakaat. Nah, di rakaat terakhir, waktu duduk tasyahud akhir, apakah kita juga membaca doa tahiyyaat akhir? Syukron atas jawabannya. (Budi)

Jawaban :Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih saudara Budi atas pertanyaannya yang sangat penting dan aplikatif dalam arti sehari-hari kita temui atau bahkan kita jalani.  Secara umum sholat wajib lima waktu harus kita upayakan untuk kita dirikan di awal waktunya, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang amalan apa yang paling utama, beliau menjawab : “ Shalat di awal waktunya” (HR Abu Daud) .  Bahkan Rasulullah SAW memotivasi kita untuk berusaha hadir sejak awal agar bisa mendapati takbiratul ihram bersama Imam. Beliau bersabda : “Siapa yang shalat empat puluh hari secara berjamaah sejak takbir pertama, dicatat baginya dua keterbebasan; keterbebasan dari api neraka dan keterbebasan dari kemunafikan. (HR Tirmidzi)

Namun secara khusus, tentu kondisi setiap orang berbeda-beda. Ada kalanya kesibukan pekerjaan, sakit, musafir, atau hal lainnya menjadikan kita terlambat dan menjadi makmum yang masbuq. Pengertian Masbuq sendiri secara istilah adalah : siapa saja yang didahului imam dengan beberapa rekaat sholat atau seluruhnya, atau siapa yang mendapati imam setelah satu rekaat atau lebih. (Qomus Al-Muhith & Qowaid Fiqh).

Permasalahan seputar masbuq sebenarnya cukup beragam, namun memang yang paling sering ditanyakan di lapangan seputar dua hal, yaitu : kapankah seorang masbuq terhitung mendapatkan satu rekaat bersama imam dan bagaimana seorang masbuq mendapati rekaatnya bersama imam, apakah awal sholat atau akhir sebagaimana yang dijalani imam ? Mari kita coba bahas kedua hal tersebut :

Bagaimana seorang masbuq terhitung mendapati satu rekaat bersama imam ? Mayoritas ulama termasuk diantaranya imam empat madzhab ( Hambali, Syafii, Abu Hanifah dan Malik) berpendapat bahwa masbuq yang masih mendapati rukuk imam terhitung mendapatkan satu rekaat bersama imam. Pendapat ini berlandaskan hadist dari Abu Hurairah dimana Rasulullah SAW bersabda : “ Apabila kamu datang untuk shalat, padahal kami sedang sujud, maka bersujudlah, dan jangan kamu hitung sesuatu (satu raka’at) dan siapa yang mendapatkan ruku’, bererti ia mendapat satu rak’at dalam sholat (nya) (HR Abu Daud). Yang dimaksud mendapati rukuk bersama imam disini adalah mendapati sebagian dari rukuk imam, meskipun tidak atau belum sampai thuma’ninah, demikian yang dinyatakan oleh Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali. (Lihat Mausu’ah Fiqhiyah Al Kuwaitiyah).

Selain pendapat jumhur ulama di atas, memang ada sebagian kecil ulama, diantaranya Imam Syaukani yang menolak pendapat di atas. Beliau menguraikan pendapatnya dengan pembahasan cukup panjang dalam kitab Nailul Author, yang intinya adalah seorang tidak terhitung mendapati rekaat bersama imam jika tidak sempat membaca surat Al Fatihah. Beliau mengatakan : “Telah diketahui sebelumnya bahwa kewajiban membaca Al-Fatihah itu untuk imam dan makmum pada setiap raka’at. Dan kami telah menjelaskan bahwa dalil-dalil tersebut sah untuk dijadikan hujjah bahwa membaca Al-Fatihah itu termasuk syarat sahnya sholat. Maka siapa saja yang mengira bahwa sholat itu sah tanpa membaca al-Fatihah, ia haruslah menunjukkan keterangan yang mengkhususkan dalil-dalil tersebut.” (Lihat: Nailul Author)

Adapun mengenai cara masbuq melanjutkan sholatnya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dimana Jumhur ulama (Hanafiyyah, Hanabilah dan Malikiyah) berpendapat bahwa apa yang didapati seorang masbuk dari sholatnya bersama imam maka itu adalah akhir sholatnya. Dan apa yang disempurnakan oleh seorang masbuk adalah raka’at awal sholatnya.  Pendapat ini berdasarkan hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Maka apa yang kamu dapati (bersama imam) sholatlah, dan apa yang kamu luput (bersama imam) maka qodho/gantilah ”. (HR Ahmad). Maka bagi yang mengikuti pendapat ini, jika mendapati imam pada rekaat keempat sholat Isya misalnya, maka ia tidak perlu membaca doa iftitah, surat setelah fatihah. Dan setelah imam salam maka ia berdiri dengan mulai membaca iftitah, al fatihah dengan jahr jika termasuk sholat jahr, dan surat setelah fatihah karena baginya itu adalah rekaat pertama. Hanya saja yang menjadi catatan,  ia tetap melakukan tasyahud awal setelahnya. Inilah yang digambarkan oleh Abu Hanifah : Apa yang diqodho oleh seorang yang masbuq adalah awal sholatnya secara hukum, bukan hakikatnya, dalam artian secara bacaan adalah awal sholatnya, tapi dalam tasyahud adalah akhir sholatnya. 

Sementara itu menurut Madzhab Syafi’i; Apa yang didapati masbuk dari sholat bersama imam maka itu adalah awal sholatnya. Dan apa yang disempurnakannya setelah imam salam adalah akhirnya. Pendapat ini berdasarkan sabda Rosulullah: “Maka apa yang kamu dapati (bersama imam) sholatlah, dan apa yang kamu luput (bersama imam) maka sempurnakanlah”. (HR Bukhori Muslim). Maka saat soerang masbuk mendapati rekaat terakhir magrib bersama imam misalnya, ia membaca iftitah, al fatihah dan surat.

Lantas pendapat mana yang paling tepat ? Tentu sebagai sebuah perbedaan fiqh ini harus sama-sama kita terima dan hormati.  Namun beberapa ulama mentarjih, memilih pendapat Syafi’I lebih tepat berdasarkan beberapa hal, yaitu riwayat hadits dengan lafadz “ apa yang kamu luput maka sempurnakanlah “ lebih banyak sehingga juga lebih kuat menjadi hujjah. Selain itu mereka juga menafsirkan kata “ faqdhuu”  maka qodho’lah “ juga bisa berarti maka jalankanlah atau dirikanlah sebagaimana ayat “ faidza qudiyatis sholatu”, sehingga dalam hal ini mereka mentarjih dengan cara jam’u baina riwayatain atau menggabungkan antara dua riwayat yang terlihat bertentangan.

Syeikh Abdullah bin Aziz Aqil dalam fatwa online islamway, ketika mentarjih pendapat imam syafi’I  mengatakan logika yang sederhana dan ringkas dalam masalah ini : dalil yang paling jelas dalam hal ini adalah diwajibkan tasyahud di akhir sholat walau bagaimana pun juga. Sekiranya apa yang didapati makmum bersama imam dianggap.dihitung sebagai akhir sholatnya, mestinya ia tidak perlu lagi mengulangi tasyahhud.
Wallahu a’lam bisshowab, demikian semoga paparan di atas sudah cukup menjawab apa yang ditanyakan oleh saudara Budi.

* dimuat dalam Rubrik Konsultasi Fiqh Majalah Bening Lazis Karanganyar Nov 2014

Jumat, 07 November 2014

Bolehkah Umroh sebelum Haji dan dengan Berhutang ?


PERTANYAAN :
Assalamua’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Bapak Ustadz kami akan bertanya seputar penawaran umroh yang saat ini begitu menjamur di mana, terlebih lagi antrian haji yang begitu lama hingga 15 tahun ke atas menjadikan masyarakat banyak tertarik untuk berangkat umroh, termasuk diantaranya kami  sekeluarga juga tentunya. Nah, terkait dengan hal tersebut ada tiga hal mendasar yang ingin kami tanyakan agar kami lebih tenang sebelum benar-benar mendaftar untuk berangkat umroh. 
Pertama : Bagaimana hukumnya umroh bagi mereka yang belum pernah berhaji ?
Kedua : Bagaimana hukum umroh dengan biaya berhutang, apakah diterima, sah atau tidak ?
Ketiga : Bagaimana dengan program talangan dana umroh/haji yang banyak ditawarkan saat ini , apakah diperbolehkan atau tidak kami menggunakannya ?


JAWABAN :Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Pertama kami ucapkan terima kasih atas pertanyaannya, yang saya kira juga mewakili sekian banyak pembaca Insani  dan masyarakat umum yang mungkin memendam rindu untuk berkunjung ke Baitullah, semoga niatan dan harapan baik bapak sekeluarga bisa segera terpenuhi.

Pertama, Pertanyaan atau kegelisahan seputar bolehkan berumroh sebelum menunaikan ibadah haji, biasanya berdasarkan pemahaman sebagian besar yang ada dalam benak masyarakat kita bahwa hukum umroh adalah sunnah, sementara haji itu wajib. Sehingga seolah menjadi sesuatu yang janggal saat mendahulukan sunnah daripada yang wajib.  Kalau kita memperdalam kajian soal hukum umroh, ternyata ada perbedaan pendapat diantara para ulama, khususnya imam madzhab.  Ulama Malikiyah dan sebagian Hanafiyah berpendapat hukum umroh adalah sunnah muakkad, dan menarikanya ulama Hambali dan Syafiiyah – madzhab yang paling banyak dianut di Indonesia- justru malah mengatakan bahwa hukum umroh itu wajib sekali seumur hidup. Mereka yang mewajibkan melandaskan pada ayat dimana Allah SWT berfirman :
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah." (Al-Baqarah: 196).
Memang meskipun ada perbedaan pendapat tentang hukum umroh diantara para ulama, tentu semuanya sepakat bahwa ibadah umroh mempunyai keutamaan dan kemulaan tersendiri, sebagaimana jelas disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :  “Kerjakanlah secara urut antara haji dan umrah, maka keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa, sebagaimana pandai besi menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji mabrur selain surga.”(HR. Tirmidzi)

Adapun tentang pertanyaan kebolehan umroh sebelum haji, maka sebenarnya para ulama semua bersepakat tentang kebolehannya. Apalagi jika kondisi saat ini yang benar-benar terkendala secara teknis untuk berangkat haji lebih dulu, karena antrian yang begitu panjang hingga belasan tahun, tentu menjadi semakin bertambah tingkat “kebolehannya’.  Dalam kitab Al-Majmu’ syarh Muhadzzab disebutkan : Para ulama berijmak (bersepakat) tentang kebolehan umroh sebelum haji, baik pada tahun yang sama atau tidak, begitu pula haji sebelum umroh. Berdasarkan hadits Ibnu Umar : “ bahwasanya Nabi SAW melaksanakan umroh sebelum haji” (HR Bukhori), dan juga berdasarkan hadits shohih yang masyhur bahwa Rasulullah SAW pernah tiga kali berumroh sebelum berhaji.

Kedua : Pertanyaan tentang berumroh dengan berhutang apakah sah ibadahnya, diterima atau ditolak. Tentang keabsahan sebuah ibadah tentu ditentukan dengan terpenuhinya syarat dan rukun umroh, jika terpenuhi dengan baik dan sempurnya tentu sebuah ibadah menjadi sah diterima disisi Allah SWT. Adapun jika ada unsur lain yang di luar ibadah yang bermasalah, maka pelakunya akan mendapatkan dosa sesuai dengan jenis pelanggarannya. Berhutang tentu jelas bukan sebuah dosa, bahkanada pertanyaan yang justru lebih mendalam tentang bagaimana haji dari harta yang harom, apakah sah diterima atau tidak ?. Dalam hal ini ulama Lajnah Daimah Saudi menjawan : 'Menunaikan haji dengan ongkos dari harta yang haram tidak menghalangi sahnya haji, namun dia tetap berdosa karena harta yang berasal dari harta yang haram. Hal itu dapat mengurangi pahala haji, namun tidak membatalkannya.' (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta, 11/43) . Sehingga dalam hal ini tentu berhutang jauh lebih terhormat daripada menunaikan haji atau umroh dengan harta harom.

Adapun soal kebolehannya, maka para ulama menyebutkan, diantaranya Imam Al Khottob dalam Mawahibul Jalil, Imam Al Khotib as-Syarbaini ulama Syafii, Syaikh Utsaimin, dan juga dalam fatwa islamweb.net, dengan redaksi beragam, tetapi semua menunjukkan tentang kebolehan umroh dengan berhutang, bagi yang mempunyai kemampuan untuk membayar atau melunasinya.
Inilah yang saya kira tepat untuk menggambarkan situasi sekarang, dimana seorang berhutang untuk umroh ternyata bukan karena kondisi miskin atau menderita lalu memaksakan diri, namun lebih karena model penghasilan di jaman ini yang identik dengan bulanan atau gajian, sehingga lebih membutuhkan “talangan” untuk kemudian dibayar secara berangsur dan rutin pada waktu berikutnya.

Ketiga : Adapun tentang bentuk penawaran umroh atau haji dengan menggunakan dana talangan yang banyak ditawarkan seperti saat ini, sebenarnya tentang kebolehannya sudah difatwakan secara khusus oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia pada Fatwa no 29 tahun 2002. Namun tentu saja perlu menjadi catatan penting, apakah lembaga keuangan syariah, baik bank syariah atau koperasi syariah yang menawarkan produk tersebut sudah memenuhi ketentuan dalam fatwa tersebut atau tidak.  Prinsip akad yang dibolehkan dalam fatwa itu adalah pengurusan haji, dimana pihak bank atau koperasi memang mempunyai kerjasama dengan pihak penyelenggara umroh dan haji.  Kemudian nasabah datang untuk mendaftar kepada bank/koperasi untuk melakukan serangkaian pengurusan umroh dan haji tersebut, dalam hal ini bank/koperasi syariah memfasilitasi dan menjadi jembatan antara nasabah dan biro penyelanggara haji/umroh. Karena pengurusan tersebut kemudian bank/koperasi berhak mendapatkan fee/ ujroh pengurusan sesuai kesepakatan, yang tidak boleh besarannya berdasarkan dana talangan yang diberikan bank/koperasi dengan prinsip Qardh atau pinjaman tanpa bunga dan tambahan lainnya. Fase berikutnya nasabah mengembalikan dana talangan tersebut secara mengangsur, tentu saja tidak lupa juga membayar ujroh/fee pengurusan sebagaimana telah disepakati.

Penting untuk dicatat, bahwa ujroh atau fee yang dibebankan bank/koperasi bukan karena memberikan pinjaman atau talangan, tapi karena memberikan layanan pengurusan dan memfasilitasi antara nasabah dan biro travel haji/umroh. Sehingga pada akhirnya, jika semua ketentuan yang ada dalam fatwa DSN MUI tersebut bisa dilaksanakan dan dipatuhi oleh sebuah bank atau koperasi syariah, maka produk tersebut tentu menjadi boleh dan bisa digunakan oleh masyarakat. Wallahu a’lam bisshowab.

Demikian jawaban kami semoga ada manfaatnya, semoga Allah SWT memudahkan langkah kita semua menuju baitullah.

*dimuat dalam Rubrik Konsultasi Majalah Insani, Lazis KJKS BIM Karanganyar