Persahabatan Abadi

Add Comment
Manusia adalah makhluk sosial yang sudah fitrahnya suka bertemu dan berkumpul dengan yang lainnya. Berteman dan bersahabat adalah menjadi agenda tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Karena itulah yang namanya kumpul-kumpul, arisan, rapat, jalan-jalan banyak sekali dengan mudah kita jumpai. Begitu pula yang namanya komunitas, grup atau kelompok, banyak sekali dibentuk dengan aneka ragam alasan dan tujuan.

Terkadang juga, kebersamaan seseorang dengan sahabat-sahabatnya dalam suatu komunitas menuntut seseorang untuk meninggalkan waktu-waktu yang berharga dalam pekerjaannya, bahkan juga waktu untuk keluarganya. Ternyata, memilih sahabat dan bergaul dalam sebuah komunitas kadang menjadi suatu ujian tersendiri bagi seorang muslim, bahkan bisa menentukan bagaimana akhir dari nasib nya di akhirat kelak.

Islam sebagai agama yang sempurna, tentu memberikan panduan bagi setiap muslim dalam bersahabat dan memilih komunitas tempatnya bergaul dan berinteraksi. Rasulullah SAW sejak awal mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam memilih sahabat, karena pengaruh seorang sahabat akan sangat besar mewarnai dalam karakater dan kehidupan beragama. Beliau SAW mengingatkan : “agama seseorang  (diukur) sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Bahkan dalam kesempatan yang lain beliau memberikan ilustrasi yang tegas tentang urgensi sekaligus bahaya dalam memilih teman. Dalam sebuah hadits beliau mengatakan : “Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka peringatan Rasulullah SAW di atas benar-benar dengan mudah kita temukan buktinya di hari-hari ini. Betapa banyak mereka yang harus bangkrut dalam bisnisnya, karena bergaul dalam komunitas perjudian tingkat elit, atau berfoya-foya menghabiskan harta di tempat-tempat kemaksiata. Betapa banyak istri yang meninggalkan suami, atau suami yang berselingkuh, juga rumah tangga yang porak poranda di ujung prahara perceraian, karena salah dalam memilih teman untuk “curhat” menumpahkan masalah-masalah pribadinya. Bahkan sebagaimana yang kita dengar dalam berita akhir-akhir ini, bagaimana seorang bisa seolah tak peduli meninggalkan keluarga, orang-orang yang dicintai, karena berteman dengan mereka yang bergabung dalam aliran sesat. Sungguh benar apa yang telah Rasulullah SAW ingatkan pada kita tentang  pengaruh luar biasa sebuah pertemanan.

Allah SWT juga telah mengingatkan hal yang sama di dalam Al-Quran, melalui firman-Nya : “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa” (Surat Az-Zukhruf 67).  Ayat ini mengingatkan betapa banyak komunitas-komunitas, klub-klub, grup-grup dan kelompok-kelompok yang terlihat solid di dunia, mereka saling dekat satu sama lain dan menyayangi, namun jika kebersamaan dan persahabatan itu dalam menjalani kemaksiatan, maka persahabatan itu tak pernah abadi. Pada saatnya nanti di hari akhir, mereka semua akna bercerai berai menjadi musuh bagi yang lainnya. Saling menuduh dan saling berlepas diri dari apa yang dilakukan sahabat-sahabatnya di dunia dari kemaksiatan demi kemaksiatan.

Tetapi hal di atas tidak berlaku bagi mereka yang berkumpul dan bersahabat dalam kebaikan, yaitu orang-orang bertakwa. Persahabatan mereka akan abadi bahkan hingga di akhirat nanti, sebagaimana dalam riwayat Muslim disebutkan, ada orang-orang beriman yang telah lebih dahulu masuk surga, mereka akan mencari sahabat-sahabatnya dulu yang pernah bersama-sama melakukan amal kebaikan di dunia. Jika ternyata diantara mereka ada yang belum masuk surga, bahkan sedang disiksa di neraka, Allah SWT berikan kesempatan kepada mereka untuk memanggil dan menyelamatkan sahabat-sahabatnya tersebut, selama dalam hati mereka masih ada keimanan.  Riwayat tersebut menjadikan Imam Hasan Al Bashri berpesan , “Perbanyaklah berteman dengan orang – orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat”

Inilah hakikat sebuah persahabatan abadi, yaitu antara  orang-orang beriman dalam menjalankan kebaikan demi kebaikan. Sebuah persahabatan yang indah untuk dijalani, dan dikenang pada saatnya nanti. Wallahu a’lam bisshowab

*artikel dimuat dalam rubrik Tausiyah Suara Merdeka Suara Solo Jumat 15 Januari 2015

Nasehat dan Motivasi bagi Penghafal Al-Quran

Add Comment
Fenomena masyarakat lebih dekat terhadap Al-Quran mulai terasa tumbuh dan menyebar. Setelah program One Day One Juz yang mendapat sambutan luar biasa kaum muslimin di seantero negeri, menyusul berikutnya program-program tahfidz yang sederhana dan populer, seperti yang digagas oleh ustadz Yusuf Mansur melalui wisuda Tahfidz juz 30, keliling nusantara. Di Solo ada JRQ Haramain yang selain membuat Halaqoh-halaqoh Al-Quran di banyak daerah, juga rutin bulan membuat Camping Quran (Mukhoyyam Quran) sebagai sarana menambah hafalan dan murojaah bagi para pecinta Al-Quran.

Yang menyenangkan dan mengharukan, bahwa para pecinta dan penghafal alQuran tersebut terdiri dari berbagai latar belakang keilmuan dan bidang karya. Diantara mereka adalah para pelajar, mahasiswa dengan aneka ragam jurusannya, pengusaha dan karyawan, bahkan juga para pensiunan terlihat ada beberapa. Semuanya menunjukkan bahwa menghafal Al Quran bukan sebuah ketrampilan yang "eksklusif", namun sangat dimungkinkan untuk dijalani oleh setiap kaum muslimin. Bukankah Allah SWT telah menyebutkan secara jelas tentang bagaimana "mudahnya" Al-Quran.

Untuk menambah motivasi dan kecintaan kita untuk menjadi penghafal Quran, mari kita renungi sejenak nasehat-nasehat dari Rasulullah SAW dan para sahabat, diantaranya sebagai berikut :

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “ إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما ويضع به آخرين "رواه مسلم
Dari Umar bin Khottob ra, Rasulullah SAW bersabda :  “ Sesungguhnya Allah SWT dengan kitab (Al quran) ini mengangkat (derajat) beberapa kaum, dan (juga) merendahkan sebagian kaum lainnya dengannya” (HR Muslim)

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “ بئس ما لأحدكم أن يقول نَسيت آية كَيتَ وكَيتَ بل هو نُسِّي . استذكروا القرآن فَلَهُوَ أشد تَقَصُيا من صدور الرجال من النَعم “ . رواه الشيخان والترمذي
Dari Abdullah bin Masud ra berkata:Rasulullah saw bersabda: Buruk sekali orang yang berkata : Aku lupa ayat ini dan ayat itu, akan tetapi (katakanlah) aku terlupakan. Dan (untuk itu) seringlah mengingat-ingat (murojaah-red) al-Qur’an-lah kalian, sesungguhnya al-Qur’an itu lebih mudah terlepas dari dada seseorang daripada binatang ternak. (HR Bukhori Muslim dan Tirmidzi)

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “ وما منْ رجل تعلم القرآن ثم نَسِيَهُ إلا لَقِيَ الله يوم القيامة أجْذَم “ رواه الإمام أحمد

Dari Ubadah bin Shomit ra,Rasulullah SAW bersabda : Dan tidaklah ada seseorang yang belajar Al Quran lalu melupakannya, melainkan dia ia bertemu Allah SWT pada hari kiamat dalam keadaan cacat” (HR Ahmad)

عن أنس بن مالك رضي الله عنه  عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “ عرضت علي ذنوب أمتي فلم أرَ أعظم من سورة من القرآن أو آية أُوتيها رجل ثم نسيها “ رواه الترمذي وأبو داؤد
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda : Aku dihadapkan dengan dosa-dosa umatku, dan tidaklah aku lihat yang lebih besar dari sebuah surat dari Al-Quran atau ayat yang dihafalkan oleh seorang laki-laku, lalu ia melupakannya” (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

عن الحسن بن علي رضي الله عنه قال : " إن من كان قبلكم رأوا القرآن رسائل من ربهم فكانوا يتدبرونها بالليل ويتفقدونها في النهار “ .
Dari Hasan bin Ali ra, ia berkata : “ Sungguh mereka yang ada sebelum kalian, melihat Al Quran sebagai surat dari Tuhan mereka. Maka mereka merenunginya (tadabbur) di malam hari, dan mencari-carinya  di siang hari”.

عن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال : " ينبغي لحامل القرآن أن يعرف بليله إذا الناس نائمون وبنهاره إذا الناس مفطرون ، وبحزنه إذا الناس يفرحون ، وببكائه إذا الناس يختالون”
Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu: “Adalah selayaknya bagi para penghapal Qur`an       bisa diketahui (bedanya dengan yang lain) dengan (bangun) malamnya ketika manusia terlelap, dengan (puasa) siangnya ketika   manusia berbuka, dengan sedihnya ketika manusia bergembira, dengan       menangisnya ketika manusia (tertawa) tertipu”

قال عثمان بن عفان وحذيفة بن اليمان رضي الله عنهما: ( لو طهرت القلوب لم تشبع من قراءة القرآن )
Berkata Utsman bin Affan ra, dan Hudzaifah bin Yaman ra : “ Seandainya hati-hati itu suci, niscaya tak akan pernah kenyang dalam membaca Al Quran”

 عن الفضيل بن عياض قال : " حامل القرآن حامل راية الإسلام لا ينبغي أن يلهو مع من يلهو ولا يسهو مع من يسهو ولا يلغو مع من يلغو تعظيما لحق القرآن “ .
Dari Fudhoil bin `iyadh rahimahulloh: “Pembawa      (penghapal) al-quran adalah pembawa panji Islam, tidak selayaknya dia       bergurau bersama orang-orang yang bergurau, tidak lupa bersama orang-orang       yang lupa, serta tidak banyak cakap bersama orang-orang yang banyak cakap,       sebagai pemuliaan terhadap haqnya Al-quran”

قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : ( كنا نحفظ العشر آيات فلا ننتقل إلى ما بعدها حتى نعمل بهن ) وروي عنه أنه حفظ سورة البقرة في تسع سنين.. و ليس ذلك للإنشغال عن الحفظ أو رداءة الفهم حاشاه رضي الله عنه ولكن بسبب التدقيق والتطبيق ..
Dari Umar bin Khottob Ra : “Dulu kami menghafal sepuluh ayat  sepuluh ayat, dan kami tidak berpindah setelahnya kecuali kami telah mengamalkannya”. Diriwayatkan juga bahwa Umar bin Khottob hafal surat al Baqoroh dalam sembilan tahun. Dan itu bukan karena sibuk dengan yang lainnya atau lemah pemahaman, tapi karena benar-benar ia ingin mendalami dan mempraktekannya.

قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه : ( إنّا صعب علينا حفظ ألفاظ القرآن وسهل علينا العمل به ، وإنّ من بعدنا يسهل عليهم حفظ القرآن ويصعب عليهم العمل به  )
Dari Abdullah bin Mas’ud ra : Sungguh (dulu) sulit bagi kami menghafalkan lafadz-lafadz Quran, tetapi mudah bagi kami mengamalkannya. Dan sungguh yang datang setelah kami, mudah bagi mereka menghafalkan Al Quran tapi sulit mengamalkannya.

قال عبدالله بن مسعود رضي الله عنه : ( إذا أردتم العلم فانثروا القرآن فإن فيه علم الأولين والآخرين ).
Berkata Abdullah bin Mas’ud : Jika kalian menginginkan ilmu (pengetahuan) maka baca(cermati) lah Al-Quran, karena didalamnya ada ilmu orang-orang terdahulu dan yang kemudian.

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya mereka yang di dalam hatinya tidak ada sedikitpun dari (hafalan) Al Quran, seperti rumah yang rapuh (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Lebih lengkap silahkan rujuk  artikel : http://www.almaqraa.com/index.php/2013-11-13-18-42-37/83-2014-01-23-20-37-54

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

Gaji untuk Para Ibu Rumah Tangga

Add Comment
Masih dalam semangat hari Ibu, mari kita buka sedikit pembahasan tentang gaji untuk sang istri atau ibu rumah tangga. Pembahasan yang kontroversial, mengingat sebagian besar budaya masyarakat kita melihat bahwa “kerja”ibu rumah tangga itu merupakan kewajiban, pengabdian dan kewajaran. Bahkan ada idiom yang tegas menggambarkan posisi ranah kerja wanita di lingkup “sumur, kasur dan dapur”. Karenanya, penghargaan dan apresiasi dalam bentuk gaji sering dipandang keanehan tersendiri, karena bukankah itu semua adalah pengabdian dan pelayanan ?

Belum lagi jika kita lihat dari tinjauan syariat Islam, urusan gaji rumah tangga tentu akan menuai kontroversi tersendiri, masing-masing akan kukuh memengang pendapat dan kecenderungannya. Memang dalam hal ini ada perbedaan pendapat para ulama, dengan akar permasalahan : apakah mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah adalah kewajiban istri atau tidak ?. Perdebatan dengan tema ini juga cukup panjang nan menggelitik, masing-masing dengan dalil yang menguatkan.

Dalam buku Ensklipodi fiqh Islam Kuwait yang fenomenal, disebutkan beberapa pandangan fiqh seputar wajib tidaknya seorang istri berkhidmat pada suaminya. Pertama, pandangan Jumhur ulama yang terdiri dari Syafiiyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah menyatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi istri untuk berkhidmat (melayani mengurus pekerjaan rumah tangga) pada suami, tetapi lebih utama baginya jika mau mengerjakan hal tersebut sesuai kebiasaan yang ada. Sementara itu madzhab Hanafiyah melihat bahwa kewajiban istri berkhidmat pada suami secara diyanatan, yaitu mempunyai konsekuensi agama dosa tidaknya, bukan secara qodho’an atau tidak memiliki konsekuensi hukum.

Karena di Indonesia banyak menganut madzhab Syafi’I, maka sebagai gambaran singkat saja cukulah kita nukilkan ungkapan Abu Ishaq penulis Kitab Al-Majmu syarh Al-Muhadzdzab salah satu referensi induk madzhab Syafi’I, dimana beliau menyatakan : Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya, karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta'), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban. Pandangan lain adalah dari Madzhab Maliki yang menyatakan bahwa : wajib bagi seorang wanita untuk berkhidmat pada suami, melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik sesuai adat yang ada.Pendapat ini secara umum juga didukung oleh para ulama seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim al Jauziyah, dan juga ulama kontempores seperti Syeikh Bin Baz, dan Syeikh Utsaimin, Muhammad Abduh dan Syeikh Abu Zahroh, dan Dr Yusuf Qardhawi, masing-masing dengan pandangan dan dalil yang sedikit berbeda namun dengan kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Secara khusus Syeikh Qardhawi menyatakan kewajiban tersebut ada dan melekat pada istri karena suami wajib memberikan nafkah kepada istri. Nafkah yang dimaksud syeikh Qardhawi ini bukan semata “nafkah umum” yang menjadi kebutuhan rumah tangga seperti makanan, listrik, air dsb, namun juga termasuk “nafkah ekslusif” yang dikhususkan untuk para istri. Dari pendapat Qardhawi inilah kita bisa juga temukan isyarat tentang “gaji untuk ibu rumah tangga”.

Terlepas dari soal pandangan fiqih yang masih menyimpan perbedaan, soal “gaji ibu rumah tangga” secara rutin perbulan atau per periode waktu, ternyata sudah menjadi pembahasan di banyak negara, meski dalam nama, bentuk, alasan dan besaran yang berbeda. Mungkin karena sebuah logika sederhana, bahwa seorang biasa mengeluarkan dana untuk membayar tukang cuci, masak, dan sebagainya, maka semestinya pun saat sang istri melakukan pekerjaan tersebut, ia mendapatkan penghargaan yang serupa.

Di Australia misalnya, hal sejenis ‘gaji ibu rumah tangga’ bisa kita dapatkan dalam berbagai fasilitas yang diterima oleh penduduknya dalam beberapa kondisi. Misalnya, ada tunjangan sebesar $5000 (sekitar 50 juta) bagi para ibu yang melahirkan anak pertama atau $3000 (sekitar 30 juta) untuk anak kedua dan seterusnya. Kemudian juga bagi mereka yang tidak bisa bekerja di luar karena harus menjaga anak – anak, orang tua atau keluarga yang sakit, akan diberikan tunjangan rutin setiap 2 minggu sekali sampai bisa kembali bekerja di luar.

Di negera timur Tengah seperti Kuwait misalnya, juga sudah menerapkan aturan tentang gaji bagi para wanita yang “pensiun” dari pekerjaan dan memilih di rumah, dengan diberikan gaji rutin setiap bulan dikisaran 559 Kuwait Dinar, atau setara dengan 25 juta rupiah, tentu dengan syarat-syarat dan ketentuan khusus. Begitu pula di Arab Saudi, wacana tentang gaji rumah tangga bagi perempuan yang memilih bekerja di rumah cukup gencar dimunculkan di media, baik oleh kalangan peneliti sosial maupun oleh ulamanya, dan disambut luas oleh masyarakat Saudi berupa dukungan melalui twitter. Salah satu niatan yang mengemuka adalah untuk mengurangi ikhtilat antara laki-laki dan perempuan dalam dunia kerja. Bahkan “tuntutan” gaji ibu rumah tangga yang mengemuka ada dikisaran 3000 Riyal Saudi (10 juta) hingga 8000 Riyal Saudi (30 juta rupiah), bergantung dengan ijazah yang dimiliki sang wanita.

Menarik memang melihat tuntutan adanya gaji untuk ibu rumah tangga di beberapa negara, serta besaran yang cukup wah untuk ukuran di negara kita. Sebenarnya berapa ya besaran gaji bulanan yang pantas untuk diberikan pada sosok ibu rumah tangga ? Ternyata dalam hal ini sudah banyak dilakukan beberapa penelitian yang memunculkan angka-angka cukup mencengangkan. Laman berita detik com misalnya, pada tahun 2014 yang lalu pernah memuat hasil penelitian yang dilakukan oleh perusahan penerbitan Parragon di Inggris. Dalam survei yang melibatkan 2000 kaum ibu yang sehari-harinya menjalani berbagai tugas mulai dari memasak, bersih-bersih, mengurus anak hingga menjadi 'supir pribadi' untuk anak dan suami, muncul angka besaran gajinya yang layak minimal adalah 30 ribu poundsterling atau lebih dari Rp 611 juta setahun. Dalam hitingan rupiah berarti sekitar 5 juta perbulan, namun itupun belum dihitung lembur.

Angka lain yang lebih mencengangkan disebutkan oleh Hidayatullah com yang merujuk situs reuters com, dimana setelah dilakukan survei kepada 18.000 ibu-ibu rumah tangga di Toronto, Kanada, muncul angka gaji standar untuk ibu rumah tangga di sana adalah mencapai $124.000 perbulan, atau sekitar 1,6 Milyar per bulan dengan kurs hari ini. Angka ini juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dirilis oleh situs salary com tentang gaji seorang ibu rumah tangga, dari penelitian yang dilakukan di banyak wilayah di Amerika Serikat, keluar besaran angka sekitar 1,2 hingga 1,6 Milyar per bulan. Situs tersebut bahkan menjelaskan secara lebih rinci seputar apa saja jenis pekerjaan ibu rumah tangga, berapa jam rata-rata dikerjakan dalam setiap pekannya, serta tentu saja gaji yang layak untuk diberikan dengan aneka ragam pekerjaan semacam itu.

Akhirnya, tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membuka lahan sengketa baru antara suami istri. Kita meyakini bahwa wilayah pekerjaan rumah tangga bukan semata hitam putih, tuntut menuntut antara hak dan kewajiban. Kita meyakini bahwa ditengah itu semua ada cinta, pengabdian dan kemuliaan yang mendasari seorang istri saat berkhidmat mengurus suaminya, atau begitupula sebaliknya saat sang suami membantu banyak pekerjaan di rumah. Tulisan ini agar setidaknya para suami mengapresiasi dengan lebih baik lagi apa yang telah dilakukan oleh para istri di rumah, yang ternyata melakukan banyak pekerjaan multi tasking dari mulai laundry, office boy, chef, guru les, driver dan seterusnya.

Jika para suami mempunyai rejeki berlebih, tentu nafkah ekslusif berupa gaji layak untuk diberikan kepada sang istri, atau setidaknya diberikan seorang asisten rumah tangga untuk membantu kerepotan sang istri, atau tentu saja turut turun langsung membantu aneka pekerjaan rumah tangga, khususnya saat berada di rumah. Semuanya tentu tetap di dasari dengan rasa cinta sepenuh tanggung jawab. Juga buat para istri, jika apresiasi dari suami belum semestinya, belum ada jua gaji yang menyapa setiap bulan, teruslah tersenyum dan yakinlah bahwa ada nilai kemuliaan dalam setiap hal yang menyenangkan suami dan menghapus lelahnya. Insya Allah ada “gaji” yang rapih tercatat malaikat dan menanti untuk dirapel di akhir masa

Download Powerpoint Fiqh Berlibur dan Bersantai (update)

Add Comment
Pagi itu sahabat Hanzholah tak seperti biasanya, saat Abu Bakar ra menanyakan kabar padanya, ia justru menjawab : Hanzholah telah munafik !. Abu Bakar pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Apa pasal hati Handzholah risau tak terkira ?. Dia takut masuk dalam golongan munafik karena merasa mendua hatinya. Saat bersama majlis Rasulullah SAW dan mendengarkan nasehat-nasehat kenabian, merasakan kekhusyukan yang luar biasa hingga seolah neraka dan surga ada dihadapannya. Namun saat pulang ke rumah dan bertemu sang buah hati, anak istri tercinta, kekhusyukan itu hilang begitu saja. Berganti dengan canda tawa nan bahagia. Apakah ini pertanda kemunafikan ?

Lebih unik lagi, saat mendengar penjelasan Hazholah ternyata Abu Bakar justru merasakan hal yang sama persis, yaitu khusyuk saat bersama nabi, dan lalai saat bersama keluarga bercanda dalam tawa. Maka keduanya pun segera menemui Rasulullah SAW, untuk mendapatkan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.

Maka ketika keduanya pun sudah menemui Rasulullah SAW dan mengutarakan kerisauan dalam hati mereka, Rasulullah SAW dengan bijak mengatakan : “ Demi Allah, sekiranya kalian bisa merasakan (khusyuk) terus-terusan sebagaimana saat bersamaku, atau saat berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalamimu di tempat tidur dan jalan-jalan. Akan tetapi, ada waktunya (khusyuk) dan ada waktunya (bersantai bersama keluarga)  (diulang tiga kali)“ (HR Muslim).  Sebuah jawaban yang sederhana, namun mengandung sindiran yang telak bagi kedua sahabat tersebut. Seolah-olah Rasulullah SAW menyindir tajam: kalian ini masih manusia, bukan malaikat !. Seandainya kalian bisa 24 jam terus-terusan khusyuk, mungkin malaikat datang menyalami kalian seraya mengucapkan : Selamat bergabung dalam komunitas malaikat !!

 Dari jawaban Rasulullah SAW juga kita diberikan kelonggaran dalam membagi aktifitas kita dalam seharian, yaitu ada waktu untuk beribadah dan khusyuk kepada Allah SWT, dan ada waktu juga untuk bercanda bersama keluarga. Beliau sendiri tentu mempunyai banyak kisah "bercanda" dan bermesraan bersama keluarga beliau, yang sangat menginspirasi dan mencerahkan kita semua.

Maka hari-hari ini saat libur akhir tahun menjelang, perlu kiranya kita kembali menelaah tentang pandangan Islam tentang berlibur dan bersantai, tentunya secara khusus bersama keluarga. Banyak aktifitas "bersantai" yang bisa kita programkan, apalagi jika kemudian kita tambahkan unsur-unsur mengingat Allah, maka tentu akan menjadi lebih berkah nan manfaat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :  “segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada dzikrullah adalah sia-sia, kecuali empat hal : mencandai istrinya, melatih kudanya, belajar memanah dan belajar berenang (HR An Nasai)

Berikut pembahasan seputar Fiqh Berlibur dan Bersantai versi update, bisa Anda dapatkan dan download di link berikut.

DOWNLOAD POWERPOINT :

http://www.4shared.com/file/DejsA1r9ce/Fiqh_Berlibur_dan_Bergembira__.html?

semoga bermanfaat dan salam optimis.

Inilah Empat Langkah Sukses Sang Pemuda

1 Comment
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah SAW bersabda, manfaatkan waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.”. Apa saja yang perlu kita lakukan agar masa muda kita tidak berlalu sia-sia, namun penuh dengan hal positif yang akan mengasah potensi kita, untuk kemudian menjadi karya dan prestasi yang bermanfaat bagi sesama ? Mari kita lihat beberapa tips dan langkah-langkahnya.

TIPS 1 : Temukan Potensi dan Passion Diri
Setiap orang memiliki potensi diri dan kelebihan yang berbeda-beda. Sehingga tidak semua orang harus dituntut untuk sukses di bidang yang sama, sebagaiman siswa juga belum tentu bisa unggul di semua mata pelajaran atau ketrampilan. Karena itu hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan dan menyadari potensi diri, untuk kemudian mengasahnya. Jamil Azzaini, motivator sukses mulia berpesan : “ Carilah hal yang spesial dari diri kita. Jika kita ingin menang dalam hidup ini, maka kita harus mengetahui kelebihan kita agar menang “.

Ada banyak ragam potensi kecerdasan yang dimiliki oleh seorang manusia, salah satu atau lebih diantaranya bisa menjadi sangat dominan. Inilah yang perlu disadari, ditemukan dan diasah agar terus berkembang. Ilmu psikologi modern menyebutkan beberapa potensi kecerdasan yang kadang tidak disadari oleh banyak pemuda, antara lain : kemampuan berbahasa, menulis dan merangkai kata (linguistik), kemampuan berhitung dan menganalisa (matematis-logis), kemampuan menggambarkan dan mendeskripsikan sesuatu (spasial-visual), kemampuan gerak dan olah fisik (kinestesis-jasmani), kemampuan musik, kemampuan mempengaruhi orang lain, kemampuan mengelola keuangan, dan lain sebagainya.

Saat seorang telah menyadari kecerdasannya, maka pekerjaan rumah berikutnya adalah terus memupuk dan mengasahnya, bahkan menjadikannya sebagai passion dalam kehidupannya. Lalu apakah itu passion ?.  Passion adalah sesuatu yang kita tidak pernah bosan untuk melakukannya. Passion adalah sesuatu yg dikerjakan dengan ikhlas, tanpa paksaan dan suatu bentuk panggilan dari alam bawah sadar manusia . Passion adalah dimana kita tidak memikirkan untung dan rugi lagi saat mengerjakannya. Jika potensi bertemu passion, maka bisa jadi langkah utama meraih cita di masa depan. Ridwan Kamil, walikota Bandung yang eksentrik mengatakan : Hal yang paling enak adalah, menekuni hobby yang dibayar.

TIPS 2 : Tentukan Cita-cita Mulia
Setelah menemukan potensi diri dan menjadikannya sebagai sebuah passion, hobby yang dinikmati, maka langkah berikutnya adalah menentukan cita-cita, agar setiap langkah dan fase kehidupan mengarahkan pada sampainya keinginan mulia kita. Ibaratnya pepatah hikmah, manusia tanpa cita-cita itu bagaikan mayat hidup, nyaris tanpa gairah , semangat, dan arah dalam menjalani hidup.

Dalam menyusun cita-cita dalam kehidupan, hendaknya seorang pemuda melihat beberapa sisi yang sangat menentukan. Pertama, cita-cita harus besar dan bermanfaat. Kita sering mendengar ungkapan : kejarlah cita-citamu setinggi langit, maka dalam menentukan cita-cita pun harus yang tinggi sehingga usaha untuk mewujudkannya pun harus berlipat-lipat. Tapi cita-cita yang besar inipun harus bermanfaat, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Jangan bercita-cita sesuatu yang bombastis tapi tanpa makna, seperti berjalan kaki mundur keliling nusantara misalnya. Sebesar dan setinggi apapun cita-cita kita, maka kita minta sepenuhnya pada Allah SWT sebagaimana doa Nabi Sulaiman : "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi". (QS As-Shood 35) 

Kedua, cita-cita harus jelas dan menarik dan menyemangati hati untuk mengejarnya. Saat kecil hampir setiap kita mempunyai cita-cita yang terlampau seragam, yaitu menjadi orang bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama. Cita-cita yang terlalu general semacam itu nyaris tidak menggetarkan hati saat menyebutkannya, apalagi menggerakkan langkah dalam menggapainya. Kita bisa belajar dari obsesi dan cita-cita seorang Umar bin Abdul Aziz, yang begitu spesifik, menarik dan menggetarkan. Di akhir usianya, beliau bercerita tentang rangkaian panjang cita-cita dalam kehidupannya. Umar bin Abdul Azis berkata : “sesungguhnya aku ini memiliki jiwa yang obsesif. Tidaklah aku meraih suatu prestasi kecuali aku menginginkan yang lebih tinggi lagi. Dulu jiwaku berobsesi menikahi putri pamanku Fathimah binti Abdul Malik (putri khalifah), maka akupun bisa menikahinya. Kemudian jiwaku  berobsesi untuk menjadi gubernur, maka akupun mendapatkannya.  Kemudian setelahnya aku berobsesi menjadi khalifah, maka akupun mendapatkannya.  ..... dan sekarang ini (setelah menjadi khalifah) jiwaku berobsesi merindukan masuk surga, maka akupun berharap bisa menjadi penguninya.

Dan yang terakhir, dalam menentukan cita-cita harus juga melihat sisi potensi, passion serta prestasi-prestasi dan karya yang telah ditorehkan selama ini. Agar cita-cita kita masih dalam wilayah target, bukan angan-angan apalagi impian semata. Agar jangan sampai kita menjadi pungguk yang merindukan bulan.

TIPS 3 : Kesungguhan & Atasi Hambatan
Setelah menentukan cita-cita maka dalam langkah mewujudkannya pastilah terbentang sekian hambatan dan tantangan dihadapan. Terlebih lagi pada diri pemuda muslim, yang sejak awal memang menjadi target para musuh-musuh Islam untuk dilemahkan, dimanjakan, agar tidak serius dalam melangkah untuk kemudian gagal dalam merengkuh cita-citanya. Betapa banyak generasi muda yang cita-citanya harus porak poranda kandas di tengah jalan karena berbagai permasalahan yang melanda, seperti terjebak dalam obat-obatan terlarang, atau kasus hamil di luar nikah.

Dalam hal ini para pemuda harus sadar sepenuhnya bahwa langkah merengkuh cita-cita akan menempuh godaan yang kuat dalam perjalanannya. Al-Quran mengabadikan tekat musuh-musuh Islam untuk menarik generasi muda agar mengikuti life style ala barat, firman Allah SWT : “Dan sungguh Orang-orang Yahudi Nasrani tidak akan pernah ridho kepadamu sampai kamu mau mengikuti agama mereka. (QS. Al-Baqoroh:120). Lebih jelas lagi, seorang orientalis bernama Syatulyn mengungkapkan strategi melemahkan pemuda Islam dengan perkataannya : “Gelas dan artis mampu menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Maka tenggelamkanlah umat
Muhammad ke dalam cinta materi dan syahwat”

Maka segala macam produk dan life style penggoda pun diluncurkan dengan begitu mudah, murah dan meriah, menyasar para pemuda muslim yang terkadang tak sadar dengan hal ini. Pintu utamanya dari mulai budaya hura-hura dan hedonis, seperti pesta, musik, atau lebih jelas lagi masuk dalam jeratan minuman keras, obat-obatan terlarang, dan pergaulan bebas yang mengarah pada perzinaan. Tidak perlu kita ungkapkan angka dan data yang membuktikan betapa banyaknya kasus tersebut di negeri kita, yang jelas setiap pemuda harus sadar diri tentang siapa dan apa saja yang siap menghalangi mereka dalam mengejar cita-citanya.

TIPS 4 : Strategi Pencapaian
Setelah potensi diri ditemukan, kemudian cita-cita tinggi ditentukan, segala hambatan dan godaan disingkirkan, maka langkah berikutnya untuk sukses berkarya adalah merealisasikan strategi pencapaian. Banyak hal tentu yang harus dilakukan, dan semuanya membutuhkan daya upaya, kerja keras, keringat dan bisa jadi juga harus ada keringat dan air mata.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam langkah terakhir ini : Pertama, Terus mengaseh potensi, menambah jam terbang. Merujuk hasil riset Berlin Academy of Music, untuk menjadi ahli kelas dunia seseorang harus memiliki jam terbang sebanyak 10.000 jam. Itu berarti sekitar 3 jam perhari dalam jangka waktu 10 tahun, seorang terus meningkatkan kemampuan dan potensinya. Jika ia mempunyai potensi menulis, maka ia harus terus menulis (dan membaca tentunya) agar menghasilkan karya yang lebih baik dan lebih baik lagi setiap saat.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah, memperluas jaringan atau  Networking. Dengan menambah teman dan sahabat yang mempunyai kepakaran di bidang yang sama dengan yang kita tekuni, maka secara otomatis kita mendapatkan pembelajaran , pengalaman sekaligus jaringan. Banyak orang besar di dunia ini yang terlebih dahulu ditempa oleh sebuah komunitas, atau mentor di bidangnya masing-masing. Tidak perlu jauh-jauh menelisik, tokoh-tokoh besar pendiri negeri ini seperti Soekarno, Tan Malaka, Agus Salim, dahulunya berada di lingkaran dekat sang raja Jawa tanpa mahkota HOS. Cokroaminoto. Mereka menimba ilmu dari sang guru bangsa sekaligus mendapatkan peluang menambah pengalaman dalam praktek di lapangan.

Hal terakhir dalam strategi pencapaian adalah peningkatan kapasitas seorang pemuda, baik kapasitas intelektual dengan terus membaca sesuai bidangnya untuk memperdalam pengetahuan, ataupun kapasitas komunikasi dengan berlatih kemampuan menulis dan berkomunikasi, serta tentu saja adalah meningkatkan kapasitas ruhiyah, dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang terakhir ini amatlah penting, agar seluruh pencapaian dan karya yang kita hasilkan tidak menjadikan kita bersombong diri, karena sejatinya terwujudnya cita-cita pada saat yang sama adalah terkabulnya doa dan harapan kita kepada Allah SWT.  Semoga Allah SWT mudahkan.

*artikel dimuat dalam media Insani Desember 2015

Yang Muda Yang Berkarya (Bagian 3-Habis)

Add Comment
Pemuda Indonesia & Karya Nyata
Saat Bung Karno meneriakkan dengan lantang " Berilah aku sepuluh pemuda, niscaya dengannya akan aku goncangkan dunia" , dia tahu persis betapa perjuangannya membebaskan negeri ini banyak bergantung pada para pemuda. Mereka telah banyak membaktikan diri dan bersimbah darah demi cita-cita Kemerdekaan yang mulia. Bahkan bung Karno sendiri telah menggentarkan hati penjajah dan menciutkan nyali penjajah Belanda, jauh-jauh hari saat usia beliau masih 29 tahun, melalui pidato pembelaan di persidangan Landraad, Bandung yang diberi Judul "Indonesia Menggugat".
Begitu pula saat kemerdekaan negeri ini diproklamirkan, serta perjuangan revolusi kemerdekaan dimulai, sosok-sosok pahlawan muda mewarnai disana-sini. Soedirman terpilih menjadi panglima TKR pada usia 29 tahun, mengungguli senior jauh Urip Sumoharjo, mantan Mayor KNIL yang telah berusia 53 tahun. Bung Tomo dan Pak Harto yang mewarnai perjuangan di Surabaya dan Solo-Jogja pada masa itu juga berusia yang tak terpaut jauh berbeda, sekitar 26 tahunan. Di kemudian hari, baik Bung Karno maupun Pak Harto, tampil menjadi Presiden di usia yang juga tak jauh berbeda, sekitar usia 45 tahun.

Barangkali yang cukup fenomenal masa itu adalah sosok Achmadi Hadisoemarto di Surakarta, berusia pelajar 18 tahun ia mengumpulkan teman-teman sekolahnya dan sekolah sekitar solo, lalu memimpin mereka dalam sebuah kesatuan yang diberi nama "Laskar Kere", karena terbatasnya persenjataan yang dimiliki, meski semangat meluap-luap. Prestasi dan nama harumnya mempertahankan dan menjaga Surakarta, khususnya dalam serangan umum 7-9 Agustus 1949 tak akan lekang ditelan masa.

Di masa kemerdekaan dan di masa modern ini, meskipun banyak juga segala jenis kemaksiatan dan persoalan masyarakat ditimpakan kepada para pemuda, sesungguhnya masih banyak juga sosok-sosok pemuda yang bisa kita jadikan inspirasi di berbagai bidang. Mereka tampil dan berkarya di bidang nya masing-masing dengan perjuangan dan kerja keras, bukan nama besar orang tua dan keluarga.

Di bidang bisnis properti kita mengenal sosok Elang Gumilang yang begitu tekun dan ulet. Pemuda  kelahiran  Bogor tahun 1985 ini memulai usaha sejak menjadi mahasiswa IPB. Dari mulai mensuplai lampu ke kampusnya, kemudian beralih ke usaha minyak goreng, bahkan sempat juga sukses mendirikan lembaga kursus bahasa Inggris, hingga akhirnya menekuni bisnis properti mulai dari nol meskipun sang ayah juga bergerak di bidang yang sama. Berbagai penghargaan di peroleh sebagai bukti karya prestasinya di bidang bisnis properti, diantaranya pada tahun 2008  mendapatkan “Indonesias Top Young Enterpreneur” serta pada tahun 2007 menjadi Pemenang Wirausaha Muda Mandiri Kategori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana. Saat ini dengan bendera Elang Developer, ia telah mempekerjakan sekitar 30 tenaga administrasi dan 100 pekerja di setiap proyek siap membantunya, tentu dengan omset mencapai miliaran rupiah.

Di bidang sosial, nama Saptuari Sugiharto dari Jogja barangkali bisa menjadi salah satu pemuda inspiratif di jaman ini. Pemuda asli Jogja kelahiran 1979 ini juga seorang pengusaha yang tekun, meski mengenyam bangku kuliah di Fakultas Geografi UGM. Bisnis Kedai Digital sangat maju dan tersebar cabangnya di seluruh nusantara. Penghargaan demi penghargaan pun di raihnya, diantaranya tahun 2007 sebagai Pemenang II Wirausahamuda Mandiri Kategori Mahasiswa Program Pasca Sarjana dan Alumni, tahun 2008 mendapat Entrepreneur Award versi Majalah Wirausaha dan Keuangan. Tentu ia memulai semuanya dari kerja keras yang luar biasa. Uniknya, selain wirausaha saat ini konsentrasi pemuda ini juga digunakan untuk mengembangkan gerakan sosial “Sedekah Rombongan”.  Gerakan sedekah yang tanpa basa-basi dan prosedur yang rumit, dimana relawannya siap meluncur dengan aksi nyata tanpa bayaran. Operasional gerakan pun bukan dari dana yang dikumpulkan donatur. Banyak kisah relawan Sedekah Rombongan yang inspiratif, mengharukan sekaligus menggerakkan. Karenanya tidak heran semakin banyak donatur yang tertarik untuk menyedekahkan hartanya melalui gerakan “Sedekah Rombongan” ini.

Adapun di bidang teknologi, akademisi dan pemikiran banyak nama-nama pemuda negeri ini yang sudah mencetak prestasi tingkat internasional, diakui oleh negara lain dengan terhormat. Mereka adalah Habibie-habibie muda di jaman yang serba canggih ini.  Ada prof. Dr. Khairil Anwar , pemuda asli Kediri kelahiran tahun 1978 ini menyelesaikan kuliah S1 di ITB, dan melanjutkan program S2 dan S3 di Jepang. Saat ini masih berada di negeri Sakura menjadi asisten professor di Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) . Ia memegang beberapa hak paten teknologi salah satunya adalah menemukanteori 4G tanpa Cyclic Prefix, cikal bakal teknologi 4G.

Nama pemuda lain yang juga berkarya di bidang teknologi ada Ricky Elson, yang sering dijuluki putra petir. Pemuda kelahiran 1980 asal Padang ini mengenyam pendidikan di Jepang, dan juga berhasil mematenkan 14 penemuan terutama di bidang motor listrik. Kecerdasannya di bidang motor listrik pernah dilirik oleh Dahlan Iskan selaku mentri BUMN masa SBY, namun sayang berikutnya tidak ada dukungan yang signifikan.

Sementara itu, di bidang dakwah dan motivasi beragama, tentu nama Ustadz Yusuf Mansur patut menjadi sosok pemuda yang bisa dijadikan teladan dalam berkarya. Tak kurang dai internasional Syekh Toriq As-Suwaidan memujinya dalam lama Facebooknya dengan testomini yang berisi penuh kekaguman : “ Saat kunjungan saya ke Indonesia, saya bertemu dengan Syeikh Yusuf Mansur, pendiri dan kepala Pesantren Tahfidz Darul Qur’an, yang memiliki santri sebanyak 600rb, dan mempunyai 6000 cabang dibawah bimbingannya, dimana 3000 santri diantaranya memperoleh gratis biaya pendidikan. Buku yang telah beliau tulis sebanyak 230 judul, dan umurnya baru 40 tahun !!”. Sebuah pengakuan yang jujur nan tulus dari seorang dai kaliber internasional. Patut menjadi contoh bagi kita semua.

Akhirnya, masih banyak lagi tentunya sosok-sosok pemuda yang telah menunaikan amanah “kekuatan potensi” yang Allah SWT berikan kepadanya, hingga menebar kemanfaatannya bagi kita semua. Pertanyaan berikutnya justru ditujukan kepada diri kita semua, jika mereka bisa berkarya dengan segala keterbatasan dan penuh kerja keras, maka apa yang menghalangi kita untuk bisa meneladani, dan mulai menorehkan karya dari lingkungan yang terkecil di sekitar kita, sehingga benar-benar kita menjadi  sosok “yang muda yang berkarya”.