Rabu, 22 Oktober 2014

Bolehkan Wanita Sholat (Tarawih) Berjamaah di Masjid ?

PERTANYAAN : Assalamualaikum. Pak Ustadz, Saya mau bertanya tentang fiqh : Bagaimana hukum wanita shalat di masjid ? Terima kasih sebelumnya pak Ustadz. Wassalamu’alaikum wr wb.

JAWABAN :Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.
Pertanyaan tentang hukum wanita keluar untuk sholat di masjid berjamaah cukup sering kita dengar, khususnya pada saat bulan Ramadhan, dimana kaum muslimin berbondong-bondong menuju masjid di malam hari untuk menunaikan sholat tarawih berjamaah selepas sholat isya.  Pertanyaan semacam ini tentu harus kita apresiasi karena menunjukkan kepedulian dan kehati-hatian dalam menjalankan ajaran syariat.

Meski pada sisi lain, jika kita melihat dalam realitas dunia modern saat ini, justru lebih banyak wanita yang keluar rumah untuk menuju banyak tempat, seperti pasar, kampus, kantor, lapangan, tempat wisata dan lain sebagainya dari pada yang menuju masjid. Sehingga kadang terbersit pernyataan dalam hati, apakah mungkin sepinya masjid dari kaum wanita –sementara ke tempat-tempat lain banyak wanita-  karena memahami adanya larangan secara khusus bagi mereka untuk ke masjid ?

DIBOLEHKAN ATAU DILARANG ?
 Jika kita mencermati dalam Al-Quran maupun Hadits, jelas tidak pernah disebutkan larangan bagi wanita untuk sholat di masjid. Justru yang ada adalah anjuran atau perintah kepada para suami untuk tidak melarang istri-istri mereka ke masjid. Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid.” (HR. Ahmad dan Abu Daud). 

Dan hal itulah yang terjadi pada masyarakat madinah jaman Rasulullah SAW, dimana para wanita juga turut sholat berjamaah di masjid. Ada beberapa riwayat yang menunjukkan kaum wanita di masa Rasulullah SAW, mengikuti sholat berjamaah di masjid, salah satunya yang paling jelas adalah riwayat dari Aisyah ra, dimana beliau mengatakan : “Mereka wanita-wanita Mukminah menghadiri shalat shubuh bersama Rasulullah SAW dalam keadaan berselimut dengan kain-kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali ke rumah-rumah mereka hingga mereka (selesai) menunaikan shalat tanpa ada seorangpun yang mengenali mereka karena masih gelap.” (HR. Bukhari )

Berdasarkan hal di atas, menurut sebagian ulama seperti Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah, para wanita diperbolehkan untuk mengikuti sholat berjamaah di masjid khususnya jika bebas dari fitnah seperti sudah tua, dan sebagian ulama lain seperti Abu Hanifah  lebih berhati-hati dengan mengatakan makruh khususnya jika terdapat kemungkinan fitnah.

Sehingga menarik untuk dicatat, bahwa kebolehan ini tidak berlaku secara mutlak namun harus memenuhi setidaknya dua syarat, yaitu :

Pertama adalah ijin dari suami, karena Rasulullah SAW bersabda :  “jika istri-istrimu meminta izin ke masjid-masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban). Ijin ini diperlukan karena suami adalah pemimpin sekaligus penanggung jawab sebuah keluarga, yang harus ditaati oleh istri selama bukan dalam hal meninggalkan kewajiban syariat atau menjalankan kemaksiatan.

Adapun syarat Kedua, adalah :  Tidak memakai wangi-wangian dan hal lainnya yang mengundang ketertarikan dan fitnah bagi lawan jenis. Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu melarang hamba Allah pergi ke masjid-masjid Allah, tetapi hendaklah mereka keluar tanpa wangi-wangian.” (HR. Abu Dawud, Ahmad) . Dalam riwayat lain, beliau secara tegas mengungkapkan: “perempuan mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian ia pergi ke masjid, maka tidak diterima sholatnya sehingga dia mandi.” (HR. Ibnu Majah). Larangan wangi-wangian ini juga bisa diqiyaskan dengan hal-hal yang mengundang fitnah atau menggoda lawan jenis, seperti pakaian yang ketat, tipis, dan hal yang semacamnya.

MANA YANG LEBIH UTAMA ?
Setelah mengetahui hukum kebolehan seorang wanita sholat di masjid, biasanya hal berikutnya yang sering ditanyakan adalah mana yang lebih afdhol atau lebih utama antara sholat di masjid dan di rumah bagi seorang wanita.  Dalam hal ini kita bisa cermati sebuah riwayat dari dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As Saa’idiy. Wanita itu pernah mendatangi Nabi SAW dan berkata bahwa dia sangat senang sekali bila dapat shalat bersama beliau. Kemudian Nabi SAW pun menjawab : ”Aku telah mengetahui bahwa engkau senang sekali jika dapat shalat bersamaku. …  Shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” (HR Ahmad). 

Dari riwayat secara umum bisa kita tangkap bahwa sholat wanita di rumahnya lebih baik dari pada di masjid. Namun permasalahan tidak sesederhana itu, para ulama lebih memperinci bahasan ini, salah satunya dengan membandingkan dengan dari sisi berjamaah atau tidak. Karena sudah sama diketahui bahwa sholat berjamaah jauh lebih utama dari pada sholat sendirian, sebagaimana sabda Rasulillah SAW : ”Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim).   Karena itu dalam kondisi pilihan sama-sama berjamaah, maka sholat wanita di rumahnya lebih utama berdasarkan hadits di atas. Namun jika tidak, maka sholat berjamaah tentu lebih utama dari sendirian.

Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi, Ketua Persatuan Ulama Muslimin Internasional, memiliki cara pandang yang menarik tentang mana yang lebih afdhol bagi wanita, sholat di rumah atau di masjid. Beliau mengatakan : Sholat wanita di rumahnya lebih utama (afdhol) dari pada sholatnya di masjid, (dengan syarat) jika kepergiannya ke masjid tanpa kepentingan dan manfaat lainnya, jadi hanya sholat saja. Namun jika kepergiannya ke masjid juga untuk mendapatkan manfaat lainnya, seperti mendengarkan ceramah agama, mengikuti kajian keilmuan, mendengarkan tilawah Al-Quran dari para qori, maka kepergian mereka ke masjid menjadi lebih afdhol dan lebih utama.

Sisi pandang inilah yang saat ini dicermati oleh para ulama, khususnya saat sholat tarawih Ramadhan di zaman ini. Jika wanita sholat tarawih di rumah justru malah merasa malas, tidak semangat, tidak khusyuk, ingin cepat selesai, bahkan sebagian tidak berhasil menyempurnakan bilangan tarawihnya, sementara jika sholat tarawih berjamaah di masjid mereka bersemangat, bertemu dengan para saudarinya untuk saling mengingatkan dan meningkatkan ukhuwah, juga mendengarkan ceramah agama, serta lebih khusyuk dengan mendengarkan bacaan para qori yang merdu, maka pada saat itulah kondisi wanita ke masjid menjadi lebih dari sekedar dibolehkan, namun menjadi hal yang baik dan dianjurkan.

Dalam fatwa Nur ala Darbi yang dirilis Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiah Kerajaan Saudi, saat ada pertanyaan : Apakah boleh bagi wanita untuk sholat di masjid bersama kaum laki-laki saat sholat tarawih ? Maka mereka menjawab :  Betul boleh, dianjurkan bagi mereka untuk sholat tarawih di masjid jika dikhawatirkan mereka akan malas saat mengerjakan di rumahnya. Jika tidak, maka sholat dirumahnya lebih utama. Namun jika ada kepentingan untuk ke masjid maka hal itu menjadi tidak masalah. Karena dahulu para wanita sholat bersama Rasulullah SAW lima waktu, walaupun beliau bersabda : “ sholat di rumah lebih baik bagi mereka (para wanita)”.  Namun sebagian wanita bisa merasa malas dan menjadi lemah saat mau menjalankan tarawih di rumahnya. Maka jika keluarnya mereka ke masjid dengan kondisi tertutup, berhijab dan tidak tabarruj (berhias), dengan maksud sholat, dan mendengar ceramah para ahli ilmu, maka mereka akan mendapat pahala karena hal tersebut adalah tujuan yang baik.

Demikian, apa yang bisa kami jawab terkait hukum wanita mengikuti sholat berjamaah secara umum, dan secara khusus saat bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat dan wallahu a’lam bisshowab.

*artikel dimuat di rubrik konsultasi fiqh di majalah Al Abidin

Selasa, 14 Oktober 2014

Pendaftaran Beasiswa Universitas Ummul Quro via Online

Siapa yang tidak merindukan Mekkah dengan keutamaan Masjidil Harom dan fadhilah ibadah Umroh di dalamnya ? Apalagi jika diberi kesempatan untuk tinggal lebih lama disana untuk menuntut ilmu-ilmu keislaman ? Tentulah banyak dari santri atau pemuda muslim di tanah air yang merindukan kesempatan mulia tersebut. Adalah Universitas Ummul Quro yang dirintis sejak 1369 H oleh Raja Abdul Aziz, kini telah berkembang pesat dan membuka kepada seluruh pemuda-pemudi kaum muslimin di seluruh dunia untuk belajar disana. Selain program pembelajaran bahasa Arab, yang sering kali diminati oleh para pelajar tanah air adalah Fakultas Bahasa Arab, Syariah , dan Fakultas Dakwah Ushuluddin.

Meskipun minat pelajar Indonesia sangat banyak, namun sangat jarang sekali pelajar Indonesia yang berkesempatan untuk belajar di Universitas Ummul Quro. Selain karena memang kuota yang diberikan pihak universitas ke pelajar Indonesia sangat sedikit setiap tahunnya, juga karena dahulu proses pendaftaran hanya menggunakan sistem murosalah atau korespondensi, yang berarti proses pendaftaran melalui pengiriman berkas dokumen ke pihak univesitas.

Alhamdulillah, sekarang dengan perkembangan zaman yang ada. Pihak Universitas Ummul Quro (UQU) Mekkah mulai membuka kesempatan lebih luas dengan menerima pendaftaran secara online, dengan tentu saja tetap melampirkan berkas-berkas yang dibutuhkan dalam bentuk file hasil scan.

Berikut beberapa persyaratan dan berkas dokumen yang perlu disiapkan, pastikan semua sudah dalam bentuk file sebelum Anda melakukan pendaftaran secara online :
  1. Beragama islam
  2. Ijazah asli dan terjemahan (nilai rata rata di ijazah minimal 8 ke atas)
  3. Akte lahir dan terjemahan
  4. Surat keterangan sehat dan terjemahan
  5. Photokopi paspor
  6. Surat rekomendasi dari perseorangan atau yayasan islam
  7. Umur pendaftar tidak lebih dari 23 tahun
  8. Pas Foto terbaru
Setelah semua lengkap dalam bentuk file, anda bisa masuk ke situs berikut untuk memulai pendaftaran online :  http://uquweb.uqu.edu.sa/admission ,  Adapun lebih detil mengenai tatacara pengisian form dalam pendaftaran online, Anda bisa membaca terlebih dahulu tips yang diberikan dalam situs kabbar makkah yang cukup lengkap.

Setelah melengkapi pendaftaran, maka hal yang dilakukan berikutnya adalah menunggu dan terus berdoa. Jika Anda berhasil, maka insya Allah Pemerintah Arab Saudi akan memberikan fasilitas yang cukup lengkap dan memadai bagi para mahasiswanya, antara lain :
  • Fasilitas ruang belajar full AC
  • Dosen-dosen yang kompeten dan berpengalaman, 
  • Perpustakaan yang lengkap, 
  • Suasana kampus yang asri, 
  • Diktat kuliah gratis (sebagian universitas memberikan bantuan dalam bentuk uang buku per tahun)
  • Sarana olah raga dan kesehatan, 
  • Beasiswa per bulan yang berkisar antara SAR. 842-2500, 
  • Tiket pesawat pulang-pergi setiap liburan musim panas dan lain sebagainya. 
  • Asrama mahasiswa yang sangat nyaman dengan fasilitasnya yang lengkap
Semoga Allah SWT memudahkan, dan bantu sebarkan informasi ini agar bertambah luas kemanfaatan dan membuka peluang semakin luas bagi para pelajar tanah air untuk menuntut ilmu yang mulai langsung dari tanah harom.

Sumber :
1. https://sunnahlover.wordpress.com/2011/08/11/program-beasiswa-di-universitas-ummul-quro-makkah-al-mukarramah/
2. http://www.kabarmakkah.com/2013/12/cara-mendaftar-ke-universitas-ummulqura.html?m=1

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Persamaan dan Perbedaan antara Idul Fitri dan Idul Adha

Hari raya haruslah identik dengan kegembiraan dan kebahagiaan, karena untuk itulah hari Raya di syariatkan. Dua hari raya dalam Islam yang senantiasa kita nanti-nantikan yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Keduanya disyariatkan untuk menambah kebahagiaan kaum muslimin setelah selesai menunaikan kewajiban yang mulia. Kegembiraan Idul Fitri tiba tepat pada saat kita menuntaskan ibadah puasa ramadhan selama tiga puluh hari lamanya, adapun kegembiraan Idul Adha tercipta saat kita bersyukur dengan suksesnya pelaksanaan wukuf di arofah dan ritual manasik haji secara umum.


Kebahagiaan dan kegembiraan dalam kedua hari raya tersebut, jauh-jauh hari telah diisyaratkan bahkan diungkapkan dengan gamblang dalam sebuah hadits. Dari Anas Radliallahu ‘anhu ia berkata : "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah . Maka beliau bersabda (yang artinya) : “Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu : hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri". (HR Ahmad dan Daud)

Syariat Islam tidak pernah membedakan cara kita menyambut kedua hari raya tersebut, keduanya dianjurkan untuk disambut dengan suka cita dan sepenuh hati. Namun sayangnya, kondisi realitas menunjukkan hal yang berbeda. Di negara kita khususnya, Idul Fitri menjadi perhelaran akbar yang penuh fenomena, sementara Idul Adha menjadi sekedar ajang teknis berqurban tanpa hiruk pikuk kebahagiaan yang seoptimal saat lebaran tiba.

Sikap pilih kasih terhadap dua hari raya ini tentu perlu kita hapus atau kurangi. Mari bersama menyambut dan mengisi Idul Adha dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang tak jauh berbeda saat lebaran kemarin. Untuk memudahkan itu semua, mari kita lihat lebih jeli apa saja titik persamaan dan perbedaan antara keduanya. Harapan sederhananya, dengan demikian kita akan lebih menyadari betapa Idul Adha juga sebuah hari Raya yang sangat-sangat layak kita agungkan dan ramaikan.


 Persamaan Idul Adha dan Idul Fitri :

1. Sama-sama disunnahkan memakai wangi-wangian (bagi pria) dan pakaian terbaik (bukan terbaru)
2. Sama-sama disunnahkan berangkat dan pergi melewati jalan yang berbeda
3. Sama-sama disunnahkan pergi sholat ke tanah lapang, bahkan mengajak anak gadis dan wanita haid sekalipun untuk mendengarkan khutbah, dengan menjauhi tempat sholat.
4. Sama-sama tidak diperbolehkan berpuasa, karena memang itu hari untuk bergembira.
5. Sama-sama dianjurkan untuk saling mengucapkan selamat "tahniah", sebagaimana kebiasaan Sahabat di kedua hari raya tersebut dengan mengatakan : Taqobbalallahu minna wa minkum

Perbedaan Idul Adha dan Idul Fitri :

1. Takbir di Idul adha lebih lama waktunya, dari mulai shubuh hari Arofah hingga Akhir Hari Tasyriq menjelang Ashar, sementara idul fitri mulai malam ied hingga sebelum sholat ied.
2. Waktu sholat Idul Adha dianjurkan lebih pagi agar segera bisa dilanjutkan dengan prosesi penyembelihan, sementara pada Idul Fitri dianjurkan tidak terlalu pagi untuk memberi kesempatan mereka yang akan membayar zakat fitrah.
3. Pada Idul Adha termasuk sunnah untuk tidak makan kecuali setelah sholat ied, sedangkan pada Idul Fitri sebaliknya : dianjurkan untuk makan terlebih dahulu sebelum sholat Ied

Nah, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat untuk mengembalikan motovasi kita dalam menyambut hari-hari yang mulia ini. Selamat Hari Raya Idul Adha 1431 H , Taqobbalallahu minna wa minkum

Salam Optimis

PROFIL SINGKAT


HATTA SYAMSUDDIN
Penulis, Trainer Motivasi Keislaman dan Keluarga Romantis, Pengajar Pesantren Mahasiswa Arroyan Solo, Konsultan & Pengawas Lembaga Zakat & Bisnis Syariah , Owner Lezati Cake & Roti.

Silahkan download kumpulan presentasi kami DI SINI. Untuk permintaan mengisi Seminar, Ceramah dan Training silahkan hubungi kami di no 081329078646 atau sirohcenter@gmail.com

Profil Lengkap >>