Breaking

LightBlog

21 Jul 2010

Sastra untuk Dakwah (Plus Powerpoint)

Dakwah bagaikan burung elang yang siap melanglang buana melintasi samudera bahkan benua. Medan dakwah selalu bertambah dan terus bertambah, tak lekang oleh waktu dan zaman. Keberkahannya terus meliputi para dai-dainya. Buahnya selalu dinanti umat manusia dimanapun berada. Karena itulah dakwah begitu elegan menembus batas ruang, waktu, dan sekat-sekat dalam kehidupan manusia. Bukan lagi berkutat dan berputar di sekeliling masjid, tapi telah jauh melewati pasar, gedung olahraga, sekolah, parlemen, bahkan bioskop sekalipun.

Tak terkecuali di bidang penulisan dan sastra. Sering disebut sebagai jurnalistik dakwah, atau sastra dakwah. Meski sebenarnya, bidang sastra memang jauh sejak lama sudah terlibat dalam perjuangan mengawal kemenangan Islam dalam banyak kancah peperangan dan jihad. Setiap pasukan mempunyai penyair khusus yang bertugas untuk memompa semangat perajuritnya. Atau bahkan tiap panglima punya senandung khusus yang selalu menggetarkan jiwa pasukannya. Kita lihat sejenak apa yang terjadi dalam perang Mu'tah yang begitu berat .

Panglima pasukan Islam yang sekaligus sepupu Rasulullah SAW, Ja'far bin Abi Thalib,  melantunkan syair untuk melangitkan semangat pasukannya.

Hai orang-orang, apakah tidak baik surga itu
Dan surga itu sudah dekat
Betapa indahnya ia
Dan betapa sejuknya air surga
Telah dekat masa siksa bagi raja Romawi
Dan saya mempunyai kewajiban untuk membunuhnya”

Setelah panglima Jafar mendapatkan cita-cita tertinggi dengan menemui syahidnya. Tampillah Abdullah bin Rawahah menggantikannya..Beliau pun tetap menyenandungkan syair motivasi indah nan menggetarkan jiwa mujahid sejati. Beliau melantangkan syairnya :

"Wahai hati, kamu harus turun
Meskipun dengan senang hati, ataupun dengan berat hati
Kamu telah hidup dengan ketenangan beberapa lama.
Berpikirlah, pada hakikatnya, kamu berasal dari setetes air mani
Lihatlah orang-orang kafir telah menyerang orang-orang Islam
Apakah kamu tidak menyukai surga jika kamu tidak mati sekarang suatu saat nanti, akhirnya kamu akan mati juga". 

Demikian seterusnya dalam perjalanan sejarah Islam, sastra dan syair menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kaum muslimin. Begitu pula dalam kancah dakwah, sastra selalu memainkan peran penting dalam menarik hati umat, menggetarkannya dan membuatnya menjadi lebih lembut agar siap menerima petuah-petuah kebaikan selanjutnya.

Betapa banyak air mata yang keluar setelah usai membaca cerpen Ketika mas Gagah pergi sekitar dua belas tahunan yang lalu. Betapa banyak hati yang terpukau membaca kisah Pingkan yang begitu gigih dan teguh dengan identitas keislamannya. Contoh demi contoh sungguh akan terus bertambah dari waktu ke waktu.

Rasa-rasanya perlu kita berikan sebuah penghargaan, simpati dan terima kasih kepada Forum Lingkar Pena dalam masalan ini. FLP menjadi sebuah lumbung penghasil penulis produktif yang melahirkan generasi baru sastra untuk dakwah yang lebih tertata dan tajam. Rak buku sastra di toko buku manapun senantiasa berhiaskan karya anak-anak muda yang berbakat dan bersemangat. Tapi perjalanan tentu belum selesai, dan perjuangan tak akan pernah usai, FLP masih dan akan senantiasa mencari dan mencetak da'i-da'i baru yang siap mengusung sastra untuk dakwah.

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan untuk bergabung di FLP, terlibat dalam sekian kegiatan-kegiatan yang ada, meski tidak bisa dibilang aktif. Secara khusus, beberapa kali saya diminta mengisi acara FLP Solo, terutama saat acara PELATPULPEN ( Pelatihan Penulisan Lingkar Pena) , untuk memotivasi para calon penulis muda agar tegas melangkahkan kaki di dunia sastra dakwah. Sebuah materi yang diamanahkan kepada saya untuk disampaikan : SASTRA untuk DAKWAH .

Silahkan download materi powerpointnya di bawah ini :

1 komentar:

  1. teruskan perjuangan sastra untuk dakwah demi kemajuan umat islam dan mudah-mudahan menjadi inspirasi yang baik bagi kita semua yang membacanya dan selalu semangat menyebarkan dakwahnya. hidup tanpa agama terasa hidup tak terarah, hidup tanpa sastra terasa hampa.....
    Sastra untuk dakwah memang Is the best. Life!!!

    BalasHapus

Adbox