7 Jun 2011

Polemik Istri menjadi Pelacur bagi Suami

Kelompok Islam di Malaysia Global Ikhwan kembali mengagetkan pemberitaan baik di Malaysia maupun Indonesia. Setelah sebelumnya mendeklarasikan klub Poligami, maka yang terbaru adalah dilaunchingnya Klub Istri Patuh Suami, yang salah satu visi utamanya adalah kesiapan melayani suami di atas ranjang.

Penggagas klub tersebut berpendapat bahwa urusan 'ranjang' dapat menyembuhkan masalah sosial seperti pelacuran dan perceraian dengan mengajar perempuan untuk tunduk dan patuh pada suami serta menjaga mereka bahagia di kamar tidur. Rohayah Mohamad, salah satu pendiri klub, secara terbuka menyatakan : “Seks adalah tabu dalam masyarakat Asia. Kami telah mengabaikannya dalam  pernikahan kita, tapi semua urusan rumah tangga berpulang pada urusan ranjang. Seorang istri yang baik adalah pekerja seks yang baik kepada suaminya. Apa yang salah dengan menjadi pelacur untuk suami Anda?".(Republika online 7/6)

Untuk menjawab pertanyaan dalam judul di atas, setidaknya beberapa hal bisa kita bahas dengan sederhana, yaitu : seputar ketaatan istri, urusan seks dalam keluarga dan pemaknaan atau pengistilahan pelacur itu sendiri.

Pertama : Kepatuhan atau Ketaatan Istri
Jika kita melihat dari sisi ini, maka sesungguhnya yang dilakukan oleh Klub Istri Patuh adalah sesuatu yang positif, dalam arti gerakannya adalah mengingatkan kembali sekaligus upaya meningkatkan ketaatan istri kepada suami.  Hal ini menjadi begitu penting khususnya di jaman ini, dimana banyak para istri yang sukses memainkan peran di luar rumah. Penghasilan take home pay para istri pun terkadang lebih banyak dari suami. Belum lagi dengan kehadiran media sosial yang berpeluang menambah ‘kerenggangan’ antar suami istri. Maka atas dasar itu semua, seluruh upaya untuk meningkatkan ketaatan pada suami sungguh layak untuk diapresiasi.
Persoalan kepatuhan istri dalam Islam merupakan hal yang harus selalu diusahakan dan diupayakan. Gambaran hadits Rasulullah SAW berikut ini cukup menggambarkan penekanan hal ini, beliau bersabda : "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud dan Al-Hakim).

Meski demikian, kepatuhan seorang istri tidak boleh diartikan kebebasan seorang suami untuk berlaku sewenang-wenang kepada istrinya. Bahkan sebaliknya, ukuran kebaikan dalam Islam salah satunya adalah akhlak mulia seorang suami kepada istrinya. Rasulullah SAW bersabda : "Orang terbaik dan kalian ialah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang terbaik dan kalian terhadap keluarganya." (HR Ath-Thabrani).

Kedua : Urgensi Masalah Seks dalam Rumah Tangga.
Jika kita meneliti angka statistika penyebab perceraian di manapun, maka salah satu penyebab yang sering mencuat adalah karena permasalahan seksual. Ragam rinciannya pun beragam, dari mulai ketidakpuasan salah satu pihak, atau keterpaksaan salah satu pihak, bahkan lebih jauh lagi karena kebutuhan seksual tidak terpenuhi dengan baik sehingga mencari kepuasan di tempat yang lain.

Barangkali titik inilah yang dijadikan starting point bagi Klub Istri Patuh di Malaysia, yaitu sebagai bentuk riil menghindari ketidakpuasan suami atas pelayanan suami. Maka salah satu agenda unggulan adalah : siap melayani sang suami dan memberikan layanan yang optimal dalam masalah ranjang. Jika kita menilai dari sisi ini, maka yang dilakukan klub Istri Patuh sungguh layak untuk diapresiasi dengan baik. Ajaran Islam yang mulia sejak awal meminta para istri untuk menyiapkan diri melayani suami agar stand by 24 jam, tentu saja bukan atas nama eksploitasi seks namun langkah pencegahan agar suami terpuaskan dan tidak terbersit sekalipun untuk jajan di luar.  Dua hadits berikut ini menjelaskan dengan begitu gamblang tentang makna di atas:

 Rasulullah SAW bersabda : "Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian istrinya tidak datang kepadanya, dan suaminya pun marah kepadanya pada malam itu, maka istrinya dilaknat para malaikat hingga pagi harinya." (Muttafaq Alaih).

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk memenuhi kebutuhannya, hendaknya si istri mendatanginya meski ia sedang berada di dapur.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Dari isyarat hadits di atas, sesungguhnya menjadi sebuah kewajiban sekaligus kemuliaan bagi istri saat siap sedia melayani sang suami. Pada saat itu sang istri tengah melakukan anjuran agama 100%, bukan sedang menjalankan perbuatan nista bak seorang pelacur.

Ketiga : Masalah Penyebutan Pelacur bagi sosok Istri
Pertanyaan penting berikutnya adalah: apakah penyebutan istilah pelacur bagi istri adalah suatu yang baik atau tidak ? dan apakah sudah sedemikian penting atau mendesak ?.  Satu jawaban logis yang coba saya tangkap, jika yang dimaksudkan istilah pelacur ini adalah istri diminta untuk berhias dengan optimal khusus bagi suaminya di dalam kamar, dengan maksud tujuan untuk meningkatkan gairah sang suami, maka hal ini juga termasuk hal yang baik-baik saja dan bukan hal yang tercela. Anjuran Islam dalam hal ini pun begitu jelas : "Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. " (HR Muslim dan Ahmad).

Namun jika semua hal di atas kemudian melegalkan penyebutan pelacur bagi seorang istri, maka sungguh hal ini perlu dipertimbangkan matang-matang. Karena istilah pelacur sendiri begitu merendahkan kehormatan dan kemuliaan wanita secara umum, apalagi wanita sholihat. Dalam Islam seorang istri yang sholihah diberikan panggilan yang mulia yaitu : sholihat, qonitat dan hafidhot. Firman Allah Ta'ala, "Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)." (An-Nisa': 34).

Bahkan dalam riwayat hadits pun, seorang istri sholihat diibaratkans sebagai perhiasan dunia yang terbaik. Rasulullah SAW bersabda :“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim). Maka apakah sebutan-sebutan mulia itu dengan mudah kita hapus dengan label pelacur atas nama kebaikan juga ? Mari kita berpikir ulang sebelum benar-benar menganggukkan kepala.
Terakhir, pelabelan istilah pelacur dalam Islam, tidak pernah dimaksudkan untuk menyebutkan wanita yang sholihah atau dengan tujuan dan alasan positif, namun justru untuk menyebutkan wanita yang melakukan penyimpangan, sebagaimana gambaran sebuah hadits : “Perempuan manapun yang menggunakan parfum, kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium bau wanginya, maka dia adalah seorang pezina”. (HR Ahmad).

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

8 komentar:

  1. Arroyan Kuffa7 Juni 2011 20.00

    sedikit komentar pak ustadz:
    1. istri tidak boleh menolak ajakan suaminya.dengan catatan, suami harus betul2paham dengan kondisi istri.pendekatan dan komunikasi yang baik akan menjadi satu kunci pokok dalam membina rumah-tangga,terlebih dalam hubungan suami istri. tetunya kita tidak bisa memungkiri bahwa manusia adalah makhluk biologis,sehingga dalam urusan seks,terdapat fase2seksual yang harus dilewati.tidak bisa asal tubruk...hehehehe
    2. mungkin yang dimaksud sebagai pelacur bagi suami adalah istri bisa melayani dengan sangat baik, sehingga suami tidak akan memalingkan wajah ketika melihat wanita lain..atau mungkin agak lebay penyebutannya?hahaha...
    3. suami seperti apa yang harus dipatuhi?tentunya seorang suami yang bisa menjadi imam.baik urusan dunia terlebih akhirat.bukan begitu pak ustadz?
    4.mohon koreksi dan pencerahannya kalo salah... :)

    BalasHapus
  2. wah mantap nih pak dokter komentarnya, trims atas spesial visitnya di malam ini

    soal point 1 dan 3 ane sepakat 100%, yang ane tampilkan di atas terkait kewajiban patuh dan melayani, tentu dalam kondisi yang normal dan ideal .. dalam kondisi yang berbeda, maka : syarat dan ketentuan berlaku ... syariah kita luas dan luwes, indah dan solutif kok ..

    begitu pula dg point 4, sebagaimana ana sebutkan berulang2 dalam tulisan, kalau yang dimaksud dg pelacur itu berarti berhias untuk suami, melayani dg baik maka secara substansi kita semua setuju ..

    yang menjadi agak berkerut kalau kemudian dilabeli dg istilah pelacur ..he2, benar nih kata ente.. agak lebay kayaknya

    BalasHapus
  3. Arroyan Kuffa8 Juni 2011 09.14

    mungkin "diksi" nya kurang tepat ya Tadz..semms like dia bermaksud menganalogkan seorang istri harus melayani suami dengan senakal mungkin layaknya seorang pelacur.bukan rahasia umum,kejenuhan dalam hubungan suami-istri pasti ada.dan tidak bisa disalahkan ketika otak kita berputar arah mencari variasi dalam berhubungan.tidak bermaksud menghakimi,tapi mayoritas wanita masih beranggapan bahwa seks itu tabu untuk dibicarakan,wanita cenderung dalam posisi kalah atau bahkan pasrah.sehingga otomatis seorang suami akan sangat dominan.
    mustinya tidak bisa seperti itu,karena pada dasarnya upaya pemenuhan hasrat adalah insting.wanita juga punya,bukan cuma laki2.dan ketika "berhadapan" dengan suami, bukan tidak sah seorang istri "meminta" atau bahkan memiliki "inisiatif" sendiri untuk lebih memuaskan suami.suami istri gitu loh...dalam bahasa jawa saja disebut Garwo (sigare nyowo).kenapa harus ragu dan malu...?hehehehe...
    mungkin,sekali lagi mungkin,hal seperti itu yang disimpelkan dengan kalimat "pelacur bagi suami"

    :)

    BalasHapus
  4. Ikut nimbrung Tadz. Agaknya kita harus menyelami betul "ruh" dan kondisi yang mengiringi kenapa kata "Pelacur" itu sampai muncul. but lepas dari itu memang Nggak sopan ungkapan itu. semestinya bisa cari kata lebih sopan.

    Kalau Ane lebih setuju, jika meletakan kata "patuh pada suami" termasuk diatas ranjang itu pada posisi equal. tidak ada yang dirugikan dan dalam kondisi berat, serta tidak sampai maksiat.

    BalasHapus
  5. ya pada dasarnya kita sepakat pada substansi, bahwa kepatuhan dan kesiapan istri, juga kesigapan dalam melayani suami,atau bahkan pandai membahagiakan suami di atas ranjang dengan berbagai macam inovasi yg halal, atau bahkan mempersiapkan kecantikan dan tampilan dalam menyambut suami ... adalah hal2 yang positif dan amalan bagi istri yang mulia, bukan istri yang pelacur he2

    BalasHapus
  6. Mungkin jangan pakai istilah pelacur, tapi "wanita penghibur" / bagi suami


    sofwan

    BalasHapus
  7. Bodoh dan terlalu dangkal memahami hadist hadist tersebut, hingga mengatakan istri sendiri "pelacur".
    Kalo saya nggak ada setujunya sama sekali dengan pendapat orang orang Malingshit bloon itu Tadz.
    Kalo boleh saya bilang, orang orang malingshit itu hanya cari sensasi. Tapi pemahamannya dangkal.

    BalasHapus
  8. Kenapa harus memanggil suatu bangsa dengan istilah keji "Maling" (apalagi sesama Muslim) bila tidak setuju dengan pendapat suatu organisasi, bukankah kita dilarang memanggil seseorang dengan panggilan yang buruk....bila ada dari mereka melakukannya bukan berarti kita juga melakukan hal yang sama, dilarang meniru dalam keburukan.

    BalasHapus