5 Apr 2010

Tarian Uang : Untuk Rekan-rekan Gayus yang Tahan Godaan


Sebuah cerpen yang saya buat tahun 2004 lampau, jauh sebelum marak pemberitaan tentang kasus Gayus Tambunan. Cerpen ini kami persembahkan kepada mereka, yang berjuang untuk tetap istiqomah.

TARIAN UANG

Oleh : Hatta Syamsuddin

" Allahu Akbar…. Allahu Akbar ..!!! "

Kawasan Jurang mangu, Bintaro, menjelang sholat Isya'. Haru dan bisu. Masjid Baitul Mal (MBM) Kampus STAN Jakarta tepat dihadapanku. Tiga tahun lebih hati dan ragaku berlabuh di dalamnya. Mencoba mereguk arti hidup sebenarnya. Masjid itu masih seperti yang dulu. Tidak terlalu besar, namun mempunyai arsitektur yang unik. Sederhana, namun menyimpan beribu makna.

Betapa tidak, masjid itu dan kegiatan-kegiatan di dalamnya telah mengubah jalan hidup puluhan bahkan ratusan anak manusia yang mengenalnya. Ari, sahabat karib dan temanku se-SMU di kampung dulu, adalah salah satunya. Sejak SMU ia dikenal anak berandal. Motor-motoran, minuman keras, bahkan gonta ganti cewek sudah jadi kebiasaannya. Orangtuanya sudah lepas tangan dan menyerahkan ke pihak sekolah. Bahkan, hampir-hampir kepala sekolah pernah akan mengeluarkannya.
Namun lihat Ari yang kini. Tiga tahun sejak meninggalkan kampung halamannya. Dari penampilannya orangpun tahu, ia bukan Ari yang dulu. Wajah berjenggot tipis yang sejuk dan khusyuk. Mushaf kecil tak pernah lepas dari saku baju atau tas kuliahnya. Aku sih maklum, hafalannya saja mencapai duapuluh juz. Apalagi, jika ia sedang menjadi imam di masjid kampus. Bacaan khas Hudzaifi, imam masjid Nabawi, berkumandang menambah kekhusyukan jama'ah.

Ah, kalau mau jujur. Aku juga salah satu yang bermetamorfosis sejak aktif di kegiatan MBM. Jelek-jelek gini, aku pernah punya pacar juga. Salah satu siswi tercantik di sekolahku ! Yach. Kata orang sih itu cinta monyet atau gorila yang selalu bertabur bunga. Janji seia sekata, sehidup semati. Belum lagi orangtuanya yang selalu ramah saat aku rutin ngapel di akhir pekan. Ada kesan mendukung penuh. Suit..suiit

Piuuh, merinding aku saat mengingat masa lalu. Alhamdulillah, hidayah Allah mengetuk pintu hatiku. Kini yang ada dalam benakku, bukan lagi pacaran. Tapi dakwah, maisyah, dan nikah ! ups ! Ngelantur !

" Qod qoomatish sholah….Qod qoomatish sholaaah … "

Wah, sempat ngelamun juga nih. Maklum, saat-saat perpisahan yang mengharukan. Sebentar lagi lulusan tahun 2000 ini akan segera penempatan kerja di instansinya masing-masing. Bergegas aku melangkah menuju pintu utama masjid. Selepas Isya ada acara pembekalan alumni sekaligus mabit.
Alunan surah al-Fatihah ala Hudzaifi mulai terdengar dari lisan sahabat karibku, Ari.

*************************

Acara Mabit dan pembekalan belum di mulai. Panitia pelaksana masih sibuk mengatur sound system dan dekorasi. Selintas kudengar ucapan salam yang tak asing lagi bagiku.
" Akh Fatih, Assalamu'alaikum. Jadi berangkat ke Sorong? Udah istikhoroh belum ?. Ana denger antum cuma bertiga di KPP sana ya ? " . Sahabatku Ari dengan wajah teduhnya menyapa hangat.
" Walaikum salam akhii, Alhamdulillah, ana sudah mantap untuk memulai medan dakwah baru di Sorong. Doakan kami bertiga istiqomah. Insya Allah lusa kami berangkat. Antum sendiri di kantor Pajak mana ?

" Alhamdulillah, sesuai dengan pilihan kedua orangtuaku. Aku ditempatkan di Padang. Disana ada sanak saudaraku. Mungkin, sekitar dua minggu lagi berangkat. Sebelumnya, aku akan pulang sebentar ke kampung untuk pamitan. Antum ada titipan buat keluarga ? " " Ooo, syukron akhi… ana sudah pamitan ke ayah ibu ana di kampung, tiga hari yang lalu… "

" Wah nggak kebayang ya berdakwah di tengah suku terpencil di Indonesia Timur. Pasti antum semakin tsabat nantinya. Eh, acara hampir di mulai. Yuk, kita gabung dengan ikhwah yang lain.. "
Bismillah, kami berdua beranjak. Serempak menuju barisan depan. Akh Firman, ikhwah Akuntansi Tingkat III, nampak sudah siap membawakan acara malam ini.

Acara berlangsung dengan khusyuk dan tertib. Ustad Syauqi, alumni LIPIA yang sering diundang ceramah di MBM membawakan materi pertama. Judulnya : Istiqomah dan Tsabat di jalan dakwah. Materi Kedua yang berjudul ' Yang berguguran di dunia kerja ' di sampaikan Bang Mahmud, Alumni tahun 1992 yang sekarang mengajar di kampus. Sebelumnya ia sempat tujuh tahun berkeliling Sumatra Utara. Mutasi kerja dari satu kota ke kota yang lainnya.

Acara Mabit dan pembekalan seperti ini rutin diadakan MBM untuk melepas para alumni sebelum memulai dunia kerjanya. Tujuannya jelas, agar para alumni MBM bisa tetap teguh dengan idealisme dakwah di kantornya nanti.

Sudah menjadi rahasia umum, instansi tempat mereka bekerja nantinya dikenal sebagian orang bagai 'lahan basah' atau 'rimba belantara' yang menyimpan seribu misteri tentang korupsi dan manipulasi uang negara. Hiiii…. Bergetar hatiku saat mendengar kalimat dunia kerja dan korupsi. Mampukah aku bertahan ??

Perlahan tausiyah Bang Mahmud terdengar mengalun jelas di telingaku,
" Di dunia kerja nanti, antum akan bertemu dengan berbagai macam karakter dan kepribadian. Sebagian besar dari mereka menjadikan uang, harta dan jabatan sebagai tuhan-tuhan baru. Godaan uang bukan datang silih berganti dalam hitungan hari, tapi hitungan jam !. Kibarkan bendera idealisme antum, tetaplah selalu beraktifitas bersama senior-senior antum yang telah teguh bertahan di sana, Jangan jauhi mereka…."

Malam terus merambat pelan. Isak tangis para peserta mabit saat qiyamul lail dan muhasabah membuat hatiku miris. Dunia kerja yang penuh godaan keimanan di depan kami. Perpisahan yang cukup mengharukan. Setelah tiga tahun merenda dakwah bersama di Kampus Jurangmangu. Bersama dalam suka dan duka. Di masjid ini kami bertemu, dan kini, di sini pula kami akan berpisah.

Bahkan bukan sekedar berpisah. Kami semua akan ditempatkan berpencar dan tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Memulai hidup baru dalam dunia kerja yang masih asing. Sendiri. Jauh dari sanak keluarga. Aaah…ujian dakwah baru saja di mulai.

Perlahan kulangkahkan kaki gontai. Meninggalkan masjid MBM tercinta. Meninggalkan sejuta kesan indah tentang dakwah dan ukhuwah. Perlahan aku menengok sebentar ke belakang. Aaah, masjid itu tetap diam, anggun. Kembali ia melepas kader-kader terbaiknya. Semoga aku ada diantara mereka.
" ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam kecintaan kepada-Mu…. "
Aku menangis dalam langkah terakhirku meninggalkan masjid dan kampusku. Menangis. Dan harus menangis.

****************


Bandara Soekarno-Hatta, Terminal penerbangan domestik. Dua jam lagi pesawat Merpati rute Jakarta - Jayapura akan bertolak. Aku, Ahmad dan Hari akan berangkat bersama. Kami semua akan di tempatkan di Kantor Pelayanan Pajak Sorong. Sebuah kota yang tidak pernah aku tahu letaknya di dalam peta.

Kami baru saja selesai mengurus boarding pass. Perlahan aku menuju sekumpulan temanku yang ikut mengantar. Ari, tentu saja ada diantara mereka. Ia sahabat setiaku. Sejak SMU, di perkuliahan, sampai aktifitas di MBM kami sering bersama. Bagiku, ia sahabat terbaik. Sedih rasanya harus berpisah dan berpamitan dengannya.

" Well, Akhi Ari.. saatnya kita berpisah, Semoga Allah mempertemukan kita kembali. Di dunia, dan di surga nantinya… dan semoga Allah memudahkan setiap urusanmu .."
" Jazakallah Akhi, dan semoga antum juga. Inni ihibbuka fillah…. "
" Ahabbakallahu fiima ahbabtani fiih….. "
" Tetap teguh dalam jalan ini akhi.. "
" Insya Allah, kita akan teguh bersama akhi.. "

Kami berpelukan. Kembali menangis sebagaimana dua hari yang lalu di masjid. Dada kami berguncang hebat menahan isakan tangis yang semakin mengeras. Kalau saja Ahmad tidak mengingatkan bahwa kami sedang ditempat umum, mungkin aku dan Ari akan tenggelam lebih lama dalam pelukan perpisahan ini.

Dalam lambaian tangannya yang terakhir. Ari sempat bercanda ringan penuh makna.
" Akh Fatih, jangan lupa undangan walimahnya kita tunggu selalu… "

**************************
*********

Setengah tahun berlalu. Tidak ada kabar dari Ari. Sudah dua kali aku mencoba mengirim kabar ke alamat saudaranya di Padang. Beberapa kali aku juga menghubungi rekan di MBM, kalau-kalau mereka tahu alamat terakhirnya. Tapi hasilnya; nihil !.

Hari ini sudah enam bulan lebih aku memulai hidup baruku di Sorong. Dunia kerja memang penuh godaan. Benar apa yang dikatakan Bang Mahmud dan senior yang lain. Hampir setiap minggu ada saja amplop tak bernama mampir di meja kerjaku. Saat kubuka, masya Allaah ! paling sedikit nominalnya tiga ratus ribu !

Aku tidak ragu. Ini jelas harta yang meragukan. Dan berkali-kali terjadi tanpa aku tahu kemana aku harus mengembalikannya. Akhirnya ku simpan saja amplop berisi uang itu di laci meja kerjaku. Setiap minggu tanpa sedikitpun aku menyentuhnya.

Akhirnya, tepat dua bulan aku tak tahan lagi. Kuberanikan diri menghadap Pak Hendrik, Kepala Seksi berusia limapuluhan yang mempunyai rumah besar plus tiga mobil terbaru. Ya Allah, kuatkan hati ini……
" Assalamu'alaikum Pak, boleh saya duduk……."
" oya Wa'alaikum salam,… Nak Fatih, silahkan… sepertinya ada yang mau di bicarakan… ".
Suara pak Hendrik terdengar datar dan bijak. Namun ia memang cukup berwibawa di kantor ini. Lalu dengan perlahan ku ceritakan perihal amplop tak bernama itu. Tentu lengkap dengan cerita laci meja kerjaku. Tidak kurang, tidak lebih.

" Jadi, Nak Fatih menolak uang yang ada di amplop itu karena tidak jelas asal-usulnya "
" Iya, Pak.. begitulah kira-kira "
"Lalu bagaimana kalau saya katakan bahwa uang itu adalah hadiah, wujud rasa terima kasih dari Bapak kepada seluruh anak buah bapak di Seksi ini "
" Tapi Pak, kami telah digaji untuk seluruh kerja kami di sini .."
Wajah pak Hendrik agak berubah. Tapi ia bisa menyembunyikan rasa tidak senangnya. Ia hanya sedikit menggeser tempat duduknya.

" Benar nak Hendrik tidak butuh uang lagi ? Tidak ingin menabung untuk pernikahan, beli rumah, atau mengirim ke orang tua di kampung ? "
" Bukan begitu maksud saya Pak, Alhamdulillah gaji saya selama ini cukup memenuhi kebutuhan hidup saya.."
" Jika begitu, terserah Nak Fatih mau dikemanakan uangnya. Yang jelas, amplop itu sudah tradisi di kantor ini bertahun-tahun lamanya. Tidak bisa dihindari. Silahkan mau menerimanya atau tidak. Yang jelas, mengembalikannya ke sini adalah penghinaan bagi saya. Mengerti ?? Sudah, sekarang Bapak mau meeting dengan Kepala KPP.."

Pembicaraan seolah selesai bagi Pak Hendrik. Tapi bagiku, ini menyisakan banyak misteri yang semakin mengganggu idealismeku.
Dan demikian seterusnya. Amplop itu masih saja berdatangan. Apalagi saat ku dengar ada beberapa proyek yang telah berhasil diselesaikan oleh rekan-rekan di ruanganku.

Sampai suatu ketika kubuka laci mejaku. Ku hitung jumlah uang di dalam seluruh amplop itu. Astaghfirullah !! Bergetar tanganku memegangnya. Jumlahnya mencapai sepuluh juta rupiah!. Sebanding dengan delapan kali gaji bulananku sebagai calon pegawai negri sipil !!
Akhirnya, aku konsultasikan permasalahan ini dengan beberapa ustad di Sorong. Kata mereka, dana itu bisa di sumbangkan untuk perbaikan sarana umum masyarakat, seperti jembatan, WC Umum, jalan dan sekolahan. Syaratnya, bukan untuk tempat ibadah dan sembako untuk para fakir miskin.
Allahu Akbar ! Hamba-Mu memohon keteguhan ya Rabb !

**************

Waktu terus berjalan. Hari kerja penuh ujian terus menghiasi gerak langkahku.Alhamdulillah, aktifitas bersama ikhwah di kantor membuat sejauh ini aku dapat bertahan. Godaan demi godaan terus datang silih berganti. Dengan berbagai macam modus operandi, persis kata Bang Mahmud dulu.

Alhamdulillah. Satu tahun telah berlalu. Hari ini ku terima sepucuk surat yang telah lama ku tunggu-tunggu. Ya, dari Ari sahabat karibku sejak SMU. Ah, dia bercerita banyak tentang dunia kerjanya di Kantor Pajak kota Padang.
Dia juga bercerita tentang ujian demi ujian yang datang begitu membabi buta. Bahkan beberapa kali ia mengaku sempat agak tergoda dengan semua itu. Astgahfirullah, semoga kau tetap bertahan saudaraku. Dan kamipun terus berhubungan melalui surat dan sesekali lewat telpon.

Dalam telponnya ia pernah bercerita. Suatu ketika ia ditugaskan ke luar kota untuk memeriksa keuangan di suatu perusahaan berskala lokal di daerah. Baru saja sampai di kota tersebut, ia disambut bak seorang pejabat. Ia diajak keliling menikmati pemandangan daerah tersebut. Restoran mewah lengkap dengan makanan khasnya pun ikut menyambut kedatangannya.
Malam harinya, di hotel bintang empat yang dipesankan khusus untuknya. Seorang gadis cantik dengan pakain minim mengetuk pintu kamarnya. Ia menawarkan diri untuk menemani Ari malam itu. Bahkan gadis itu memaksa masuk. Katanya, ia tidak akan di gaji bahkan diancam oleh seseorang jika tidak melayani Ari malam itu. Tentu saja Ari menolak keras tawaran itu.

Alhamdulillah, aku percaya padamu Ari. Meski dulu saat SMU kau suka gonta-gnati pacar. Namun aku merasa tiga tahun di kampus cukup membawa banyak perubahan yang berarti bagi dirimu.
Pernah juga dalam suratnya ia bercerita…..
Suatu ketika ia ditugaskan untuk menghitung pajak di sebuah perusahaan berskala skala nasional di Padang. Setelah selesai, seorang konsultan perusahaan masalah perpajakan mendekatinya dengan ramah.
" Jadi berapa total jumlah kewajiban kami dik Ari….. ? "
" Total kewajiban pajak perusahaan Bapak, sesuai dengan hitungan tahun berjalan, tiga ratus juta lebih sekian sekian…… ", jawab Ari dengan mantap.
" Sudah benar hitungan adik itu ? ", kata sang Konsultan menyelidik.
" Benar Pak, saya tidak melakukannya sendiri. Tapi bersama Tim "
" Apakah tidak bisa dikomunikasikan lagi jumlahnya ? "
" Maksud Bapak bagaimana ? " Wajah Ari penuh tanda tanya.
" Begini, Bagaimana jika nominalnya di ganti seratus juta saja. Tentu saja Tim yang adik pimpin akan mendapatan kontraprestasi sebesar lima puluh juta dari perusahaan kami. Dan ini sudah wajar kok. Tim-tim yang datang sebelumnya juga seperti itu ? "

Ari tidak menyebutkan akhir cerita dalam suratnya. Ia hanya menyebutkan bahwa ia akan menikah dengan wanita Padang dan mungkin membutuhkan banyak biaya. Semoga kau tetap bertahan Ari. Dalam hati aku bangga kau akan segera menikah.
Ah, dari dulu dia memang lebih baik dari aku. Lihat saja hafalan Qurannya saat kuliah yang mencapai dua puluh juz. Sementara aku saat ini saja masih terseok-seok dengan lima juzku. Wajar kan kalau akhirnya dia lebih dulu menikah.
Setelah undangan pernikahannya datang, tak pernah kudengar lagi berita dari sahabatku itu.

*************

Agustus 2003..
Jakarta, Aku kembali. Kampus Jurang Mangu, aku datang lagi. Tiga tahun sudah aku menanam benih keteguhan di belahan timur tanah air, Sorong. Keteguhan yang bagi sebagian rekan kerja dan atasanku adalah sebuah keanehan dan keterasingan. Mereka selalu berpikir, tidak waras orang yang menolak uang dan fasilitas yang ada di hadapan.
Segala puji bagi Allah, aku mendapatkan kesempatan untuk kuliah kembali di kampus mengambil program DIV. Tidak semua alumni DIII berkesempatan mendapatkan kehormatan ini. Aku tersanjung dalam rasa syukur.

" Selamat datang kembali Akhi, selamat datang di medan dakwah kampus yang telah membina antum di masa-masa yang lampau. Selamat atas keteguhan antum dalam jalan dakwah ini. Namun jangan berbesar hati, ujian setelah ini akan lebih besar dari yang sebelumnya…"
Pesan dan tausiyah Bang Mahmud kembali menghangati semangat dakwah dan ukhuwah kami. Hari ini acara penyambutan diadakan oleh MBM. Banyak teman sesama aktifis satu angkatan kembali
berkumpul di sini.

Mataku sibuk menelusuri sudut-sudut MBM. Setiap wajah yang terasa asing aku tatap satu persatu. Sekali, dua dan tiga kali. Tapi masih saja tak ku temukan wajah yang ku cari-cari.
Yah, wajah Ari.. sahabatku itu. Kemana ia ? aku penasaran. Rasanya sudah berkali-kali kulihat namanya tercantum dalam daftar mahasiswa yang diterima kembali di program DIV.

Sebuah jawaban yang mengambang ku dengar dari Riyan, seorang rekannya yang sama-sama di bertugas di Padang.
" Afwan akh Fatih, .. Ari memang di terima juga di sini. Tapi ia bukan Ari yang dulu. Antum akan segera tahu saat bertemu nanti…. Ana tak bisa mengungkapkannya…"
Wajahnya tampak muram. Aku menebak-nebak apa yang sedang terjadi pada sahabatku. Jangan-jangan … jangan-jangan !!. Ah, tidak. Aku tidak boleh buruk sangka pada sahabatku itu. Tidak, aku mengenalnya dengan baik. Ia sangat lebih baik dari pada aku !!

Kerinduan ku pada seorang Ari sekaligus rasa penasaran membuatku terus mencarinya. Sampai suatu ketika…..

Saat ku hentikan sepeda motorku di pelataran parkir Bintaro Plasa sore hari itu. Sudah lama tidak ku kunjungi Gramedia sebagaimana kebiasaan rutin akhir pekanku saat kuliah DIII dulu.
Dari jauh kulihat Ari, sahabatku ……. Baru saja ia keluar dari sebuah mobil Escudo keluaran terbaru. Pakaiannya yang dikenakannya menunjukkan status ekonominya yang sangat mapan. Disampingnya bergelayut manja seorang gadis cantik berambut panjang menggendong seorang bayi.
Mobil Escudo keluaran terbaru ? Punya Istri tak berjilbab ?. Tiba-tiba saja aku merasa pusing. Ingat cerita Ryan tentang Ari. Mataku ikut berkunang-kunang.
Sahabatku Ari, yang selalu menjadi tempat curhatku saat gundah gulana melanda. Kini dihadapanku bagai makhluk asing dari dunia luar. Perlahan kuberanikan diri melangkah menghampiri sosok asing tersebut…

" Akh Ariiii……… kaifa haluka ya Akhiii ??? "
Sosok asing itu menoleh. Matanya sekilas melotot namun tak bergeming. Bahkan seolah tidak peduli dengan teriakanku. Meski aku yakin wajahnya sempat sekilas berubah. Namun langkah cepatnya bersama sang istri semakin jauh meninggalkan tempatku berpijak.

Aku terpekur dalam diam. Benar kata Akhi Riyan, ia bukan Ari yang dulu. Ari yang imam masjid. Ari yang aktifis MBM. Ari yang hafalannya dua puluh juz dengan tilawah khas Hudzaifinya.
Ia Ari yang asing. Wajahnya tidak teduh dan khusyuk lagi. Bahkan pada sinar kedua bola matanya, sempat kulihat uang menari-menari. Ya..dalam pandangan yang sekilas tadi. Aku yakin, aku melihat tarian uang ! tarian uang dalam matanya.
Astaghfirullah !

Bayang wajah-wajah sejuk Bang Mahmud, Ustad Syauqi, Akhi Riyan, dan para senior MBM lainnya seolah menari-menari juga di hadapanku.
" ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam kecintaan kepada-Mu…. "

Khartoum, 13 Jumadil Akhir 1424 / 30 Juli 2004

3 komentar:

  1. Mohon do'anya ustadz. Kami memang sedang mengalami masa-masa yang berat...

    Wah nama saya kepake juga nih buat salah satu tokohnya...

    BalasHapus
  2. tetap semangat akhi, semoga istiqomah hingga menutup mata .... jadi tokoh yg mana akh ? ndak sengaja nih

    BalasHapus
  3. Jadi tertarik dengan note ustad Hatta yang satu ini, semoga doa ustadz juga untuk calon saya... Amin... Bismillah yaa Robb
    Jazakallah Ustadz

    BalasHapus