19 Feb 2021

Kenangan Bersahaja di atas Metromini dan Kopaja

Ketika beberapa hari lalu sempat viral video "Prameks farewell ceremony" di linimasa media, banyak yang menuliskan kenangan bersama kereta Prameks Solo-Jogja-Kutoarjo. Meski tidak seintens teman-teman saya yang menjadi pelanggan harian Prameks, setidaknya kebersamaan hampir tiap akhir pekan selama tahun 2017-2019 juga telah menggoreskan kenangan yang layak dituliskan. Namun kali ini, sengaja saya tuliskan terlebih dahulu nostalgia bersama salah dua moda transportasi legendaris ibukota, Kopaja dan Metromini. 

Senasib dengan kereta Prameks, angkutan Metromini-Kopaja malah lebih dahulu pamitan dari belantara jalanan Jakarta pertengahan tahun lalu saat pandemi, dan kisah hidupnya berakhir di penimbangan besi bekas kiloan. Kenangan saya bersama Metromini dan Kopaja tentu lebih radikal dibanding dengan Prameks, mengingat waktu itu masih “darah muda”sekaligus lugu sebagai anak kampung merantau ke ibukota.

Menjalani masa awal perkuliahan sejak pertengahan 1999 sd akhir 2001, saya banyak menghabiskan waktu dengan bergelayutan dan naik turun metromini atau kopaja, menelusuri jalanan ibukota yang keras. Mengejar metromini yang kekeuh berjalan sok jual mahal, berebutan dengan calon penumpang lain, lalu tuntas meloncat masuk ke bus menghadirkan perasaan bak superhero Spiderman yang pencilakan. Apalagi ketika kedua kaki sukses landing di bagian depan bus, disambut dengan tatap mata geleng-geleng para emak-emak yang duduk di barisan depan, lengkap sudah perasaan gagah sebagai anak muda hari itu.   

Tiga tahun di jalanan Jakarta, jalur Bintaro-Blok M, Blok M-Rawamangun, dan PasarSenen-Lebakbulus adalah yang paling favorit sering saya gunakan, khususnya saat menjalani perkuliahan di STAN, AL-MANAR dan LIPIA Jakarta.  Banyak kenangan di jalanan Jakarta, yang herannya masih mudah teringat saat ini. Dari mulai melayani kondektur yang tidak “mahasiswa friendly”, beberapa kali harus bersitegang untuk meyakinkan bahwa saya masih mahasiswa dan berhak membayar dengan tarif diskon ala mahasiswa. Padahal soal penampilan tiap sebelum berangkat sudah saya sesuaikan untuk layak diidentifikasi sebagai mahasiswa, namun apa daya jenggot yang tumbuh berhamburan tak beraturan, serta rambut belah dua tanpa sentuhan sisir nampaknya menjadi alat bukti bagi para kondektur untuk meragukan status kemahasiswaan saya. Nah setiap kali ada ketegangan akhirnya keluarlah Kartu Mahasiswa andalan, yang menjadikan sang kondektur bersungut-sungut pergi meninggalkan saya yang sedikit mengulaskan senyum penuh kemenangan.

Kenangan lain di jalanan ibukota penuh beragam. Beberapa kali dipalak para preman, alhamdulillah lebih sering lolos. Preman waktu itu lebih mirip dengan teroris pembajak pesawat, mereka masuk bareng-bareng ke dalam bus dengan memasang muka sangar, beberapa terlihat seolah dalam kondisi mabuk, lalu satu demi satu memalak penumpang yang terlihat berpotensi memiliki aset berharga. Makanya aneh saja, ketika beberapa kali kok masih sempatnya ada yang rela memalak saya, padahal tampilan mahasiswa kucel begini apa yang diharapkan ? Tapi saya berhusnudzon mungkin para premannya sedang terdesak kebutuhan untuk nafkah anak istri, atau mungkin masih masa “magang” karenanya belum berpengalaman untuk memetakan target “potensial market” mereka dengan tepat. 

Alhamdulillah, setidaknya saya lebih sering lolos dipalak dengan menggunakan beberapa modus, dari mulai ganti gertak (kalau lagi merasa fit), pura-pura ngantuk gak mendengar, atau memasang senyum simpul, yang mungkin bagi para preman lebih terlihat seperti mengiba memohon belas kasihan. Modus yang terakhir ini paling sering saya lakukan, yang penting lolos dan selamat. Bukan apa-apa, para pemalak itu berombongan penuh muslihat dengan pengalaman terbang yang tinggi. Kalau saya nekat melawan asal-asalan misalnya, bisa jadi besoknya masuk headline harian Pos Kota dengan judul : “Pencopet ngaku mahasiswa diamuk massa”. Duh ! 

Pengalaman heroik lainnya sebenarnya standar, tapi mengharukan dan sedikit ada aura diskriminasi.  Saat kita berhasil mendapatkan satu bangku penuh di Metromini atau Kopaja, lalu tiba-tiba masuk serombongan penumpang lain dengan aneka ragam usia dan profesi. Maka mulailah jiwa kepahlawanan bertarung dengan insting egoisme, antara mempersilahkan mereka duduk di bangku kita, atau pura-pura tidur (waktu itu belum ada hape & headset untuk modus bersikap cuek), sambil benak kita merangkai alasan untuk melegitimasi bahwa hari itu kita juga letih kepayahan dan layak mendapat fasilitas kursi penuh. 

Kenapa ada diskriminasi ? ya tentu saja kita harus pilih-pilih orang yang tepat dan layak untuk menikmati fasilitas kita. Kalau emak-emak, nenek-nenek jelas tak perlu banyak cing-cong, jiwa heroisme masa muda tentu memberontak kalau saya diam saja saat mereka berdiri bergelayutan sementara saya duduk manja. Ini tidak ada masalah, segera proses pergantian pemain tuntas kalau sudah ketemu dengan emak-emak atau lansia seperti itu. Dan waktu itu pun terjadi begitu saja, tidak pernah kepikiran ada modus tertentu mungkin berharap mereka punya anak wanita yang layak dipinang dengan hamdalah … he2.  

Nah beda lagi saat yang melintas mendekati bangku saya adalah wanita muda, kalau yang penampilan dan dandanannya ngartis  biasanya saya abaikan begitu saja. Sementara kalau yang melintas adalah seorang akhwat berjilbab, maka dengan tetap menjaga pola ghoddul bashor saya tawarkan kursi saya bak pangeran ksatria dari negri dongeng menawarkan kudanya untuk dinaiki putri cinderella, Gubrak.  

Ini jelas perlakuan diskriminasi, dan untungnya waktu itu belum ada buzzer-buzzer yang pasti bersemangat untuk memviralkan hal-hal semacam itu. Memang sih terlihat seolah diskriminasi, tetapi yang terjadi sebenarnya adalah mengupayakan praktek itsar dalam ukhuwah, yang kadang diwarnai dengan sedikit modus dan harapan normal ala anak muda, siapa tahu ketemu jodohnya di kopaja he2.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar