24 Okt 2017

Berbuat Baik pada Orangtua Sepenuh Cinta ( Wawancara Majalah Arroyan)

Beberapa waktu yang lalu Redaksi Majalah Arroyan di Wonogiri meminta wawancara kepada saya secara tertulis, dengan tema seputar Berbuat Baik kepada Orang Tua (Birrul Walidain). Berikut naskah wawancara dan jawabannya, kami posting di blog ini untuk menambah kemanfaatan bagi kita semua.

1. Bagaimana sebenarnya agama islam memposisikan orang tua dan seberapa penting?

Seberapa penting posisi orangtua bagi seorang muslim ?, Jawabannya bisa kita lihat melalui banyaknya dalil yang menganjurkan kita untuk berbuat baik kepada orangtua. Perintah untuk birrul walidain misalnya, ditempatkan secara urutan setalah perintah untuk mentauhidkan Allah SWT. Firman Allah SWT : “Sembahlah allah dan jangan kamu mempersekutukan-nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua ibu bapak”. (QS AN Nisa’ : 36). Dalam hadits juga disebutkan berbuat baik kepada orangtua adalah amal yang utama dan paling dicintai Allah setelah kewajiban sholat.

Bahkan yang paling jelas menunjukkan posisi orangtua bagi seorang muslim, adalah dalam kewajiban jihad sekalipun seseorang harus minta ijin kepada orangtuanya. Dari Abdullah bin ‘Amr RA, ia berkata : Datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW meminta izin untuk berjihad, maka beliau bersabda :” Apakah kedua orangtuamu masih hidup ?” Ia menjawab : Ya, Nabi bersabda : “(berbakti) kepada keduanya merupakan jihad”.  Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menjawab : ‘Kembalilah kepada keduanya lalu minta izinlah, jika mereka mengizinkan maka berjihadlah, jika tidak maka berbaktilah kepada keduanya”(HR Abu Daud).

Semua hal tentang kedudukan orangtua bagi seorang muslim, bisa terangkum dalam hadits yang singkat nan jelas : “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad, Tirmidzi, AlHakim).

2. Kenapa pesan penting agar kita menghormati orang tua kurang atau bahkan lemah kita taati?

Mungkin banyak sebab mengapa hal tersebut bisa terjadi, biasanya itu terjadi karena dua hal, pertama karena faktor pemahaman atau kesibukan dengan urusan pekerjaan dan keluarga inti (anak dan istri).  Banyak yang merasa menghormati dan berbakti pada  orangtua, khususnya saat kita sudah mandiri sementara orangtua bertambah lemah, adalah sesuatu yang merepotkan, dan mengganggu aktifitas kita. Mereka terkadang ingin sekedar ngobrol dan menyapa kita, namun kita merasa hal itu bisa dilakukan nanti-nanti saja bukan saat jam kerja.

Ada juga faktor lain sebenarnya yang membuat anak kemudian kurang hormat atau berbakti kepada orangtua, yaitu karena faktor mendapatkan pendidikan yang salah dari kedua orangtuanya tersebut. Bisa jadi karena terlalu memanjakan, sehingga sang anak tumbuh berkembang bak seorang “majikan” bagi orangtuanya. Sehingga hal tersebut berkelanjutan hingga si anak tumbuh dewasa. Atau bisa jadi karena sebaliknya, karena kedua orangtua terlalu keras dalam keseharian saat anak masih kecil, hingga benih-benih sayang sang anak kepada orangtua gagal tumbuh bersemi sebagaimana mestinya.

Kita masih ingat, bagaimana doa yang diajarkan Allah SWT terkait orangtua kita dalam firman-Nya : dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS Al Isra 24). Doa dari ayat di atas, mengisyaratkan satu pengakuan tulus dari sang anak, bahwasanya kedua orangtuanya telah mendidik mereka dengan baik di waktu kecil. Bukan membiarkan, memanjakan, atau bahkan menzalimi mereka dengan kekerasan dan kekerasan.

3. Menurut ustadz,bagaimana cara menghormati orang tua yang benar?

Saya hanya menyampaikan apa yang dijelaskan para ulama tentang berbuat baik/ihsan kepada orangtua, diantaranya yaitu : berlaku lemah lembut kepada keduanya, serta memelihara urusan dan kondisi mereka, serta tidak berbuat buruk kepada mereka. Lebih jauh, Hasan Al Bashri saat ditanya tentang arti birrul walidain, ia menjawab : Engkau mempersembahkan kepada mereka berdua apa yang engkau miliki, dan engkau mentaati mereka berdua selama tidak dalam kemaksiatan.

Dengan demikian, semua perbuatan baik masuk dalam kategori birrul walidain, dan secara khusus bisa kita simpulkan dalam tiga hal : kasih sayang, pemeliharaan (kondisi dan kebutuhan), serta ketaatan.

Kalau konteks kekinian, secara teknis maka sempatkanlah untuk menyapa orangtua kita dalam keseharian, meskipun hanya melalui telepon misalnya. Menanyakan kabar serta bermusyawarah atas urusan kita akan menjadikan mereka tetap merasa dihargai, sesuatu yang menjadi motivasi dalam kehidupan hari tuanya.

4. Banyak diantara kita setelah berumahtangga lalai 'menjaga' orangtua atau mertua.malah sibuk dng urusan rumah tangga sendiri.apa pendapat ustadz dan solusinya?

Setiap pernikahan selalu diawali dengan pengorbanan para orangtua dalam “melepas” anak-anaknya, setelah sekian lama mereka didik dengan baik sejak kecil. Orangtua kita ikhlas “melepas” kita dengan sepenuh harapan kita akan hidup bahagia setelah menemukan jodohnya.

Namun sejatinya tidak ada status “lepas” sebagai anak meskipun kita sudah menikah. Yang terjadi adalah kesibukan dunia kerja, atau juga perhatian yang terpecah karena kelahiran anak-anak menjadikan kemudian kita seolah berlaku “cuek” kepada orangtua kita. Menyayangi anak memang dalam tahapan tertentu, cukup bisa menyibukkan kita dalam birrul walidain. Allah SWT  mengisyaratkan tentang hal ini dalam firman-Nya : (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu . (QS An Nisa ayat 11)

Solusinya justru terlihat sederhana, mari kita ajari anak-anak kita untuk berbakti kepada orangtua dengan sering kita mengajak mereka untuk mengunjungi orangtua kita. Begitu pula kita ajak istri dan sekeluarga menjalankan hal tersebut secara rutin sesuai dengan kemampuan, jangan hanya setahun sekali saat berlebaran. Agar orangtua kita tidak merasa anaknya benar-benar “lepas” setelah pernikahan dan sibuk dengan keluarga barunya.

5. Bagaimana menjalankan konsep keseimbangan antara berbakti pada orang tua dengan urusan rumah tangga?

Ada pemahaman yang sering dipahami salah baik oleh anak yang sudah menikah, maupun orangtua. Kemudian keduanya sama-sama menuntut dalam posisi yang dipahami tersebut. Maka yang terjadi kemudian adalah ketegangan demi ketegangan, atau benturan demi benturan. Salah paham disini adalah dalam memahami hadits –hadits terkait prioritas antara suami atau orangtua, atau antara ibu dan istri. Dalam hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda : Orang yang paling besar haknya atas seorang perempuan adalah suaminya, dan orang yang paling besar haknya atas seorang laki-laki adalah ibunya” (HR Al Hakim dalam AlMustadrok).  Kemudian ditambah lagi dengan hadits dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi).

Maka atas dasar riwayat-riwayat tadi kemudian, banyak suami yang merasa berkuasa penuh atas istrinya, termasuk kemudian membatasi istri dalam berbuat baik kepada orangtuanya. Begitu pula banyak ibu yang merasa berkuasa atas sang anak laki-laki, hingga kemudian malah menzalimi sang istri atau menantunya.  Pemisahan dan pengkotak-kotakan semacam itu bisa menimbulkan ketegangan serta keseimbangan dalam birrul walidain.

Sehingga semangat yang harus dimunculkan adalah, mertua adalah sama dengan orangtua. Pahala birrul walidain juga berlaku atas keduanya. Sehingga suami juga bersemangat dan bahkan memotivasi istri untuk bisa berbuat baik kepada orangtuanya, bukan membatasi dan menghalangi. Begitu pula sang istri, turut bahagia dan mendukung saat sang suami dituntut untuk berbuat birrul walidain kepada orangtua.

6. Banyak anak yang menelantarkan orangtua mereka,bahkan seolah olah merelakan orangtuanya hidup di panti jompo.apa pendapat ustadz?

Jika ada yang melakukan demikian, berarti mereka secara sadar telah melepaskan peluang emas mendapatkan surga. Karena birrul walidain itu justru lebih dituntut saat kedua orangtua kita telah menua dan lemah, serta membutuhkan kita. Momentum emas “birrul walidain” saat mereka berusia lanjut, dengan merawat dan menjaga mereka.  Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” (HR Muslim)

Belum dari sisi balas budi, justru saat mereka berusia tua lah saat paling tepat untuk menunjukkan kita adalah anak yang tahu balas budi, meskipun itupun tak pernah bisa setimpal membalas kebaikan orangtua kita, yang mengandung dan merawat kita saat kecil.  Abdullah bin Umar pernah ditanya seseorang yang menggendong ibunya saat thawaf di Ka’bah : “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?. Maka Abdullah bin Umar ra pun menjawab :  “Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu”.

7. Apa pesan ustadz terhadap pembaca majalah Ar Rayyan?

Ini pesan bagi diri saya pribadi juga, dan kepada pembaca majalah Arroyan yang masih diberi kesempatan untuk mendampingi kedua orangtua yang masih hidup. Manfaatkan kesempatan emas birrul walidain ini dengan baik, jangan lewatkan satu haripun kecuali kita sempatkan untuk menyapa dan bertanya kabar kepada mereka. Buatlah mereka tersenyum meski sejenak. Dalam riwayat disebutkan seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis.” Maka Rasulullah SAW pun menegurnya dengan mengatakan : “Kembalilah kepada kedua orangtuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Al-Baihaqi dan Al-Hakim, shahih).


Dan secara khusus bagi yang mendapatkan kesempatan bisa hidup bersama dan berdampingan, Anda terpilih untuk menjadi insan mulia dan masuk surga saat bisa merawat mereka dengan tekun dan baik. Ingat satu ungkapan yang benar adanya “ setangkai bunga Anda berikan kepada orangtua Anda saat masih hidup, jauh lebih bermakna dari ribuan kuntum bunga engkau sebarkan di atas pusaranya”.

 Semoga Allah SWT berikan kita bimbingan dan kekuatan dalam birrul walidain. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar