30 Nov 2015

Spirit Kesederhanaan Rasulullah SAW

ilustrasi pemimpin sederhana : Ismail Haniyya
Kesederhanaan dan kepemimpinan sering tidak berjalan beriringan. Kepemimpinan hampir selalu identik dengan kekuatan dan kemewahan serta berlimpah fasilitas. Gambaran tentang kedua hal yang berpadu itupun dengan mudah kita temukan, baik dalam catatan sejarah ataupun ulasan berita di media hari-hari ini. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Rasulullah SAW, banyak sekali momen-momen dalam kisah hidup beliau (siroh nabawiyah) yang menunjukkan betapa sederhananya kehidupan beliau. Tentu kita juga harus meyakini bahwa kesederhanaan tidak berarti kemiskinan, sebagaimana gaya hidup mewah juga tidak selalu menunjukkan kekayaan. Sebelum kita menelaah lebih jauh tentang kesederhanaan Rasulullah SAW dalam keseharian, kita mulai dengan mendedah sebuah kisah seputar kesederhanaan beliau selaku pemimpin dan panglima besar sebuah pasukan.

Kesederhanaan Rasulullah SAW sebagai Pemimpin
Kisah ini terjadi saat persiapan keberangkatan pasukan muslimin dalam perang Badar. Kita semua sama tahu, peperangan Badar adalah peperangan besar pertama kali yang dihadapi kaum muslimin di Madinah, melawan kaum kafir Qurays di Mekkah. Bahkan rencana awal peperangan yang berupa operasi penyergapan kafilah dagang Abu Sufyan, berubah menjadi berhadap-hadapan dengan pasukan besar kaum kafir Qurays, yang berjumlah 1300 pasukan dengan kelengkapan perang dan logistik yang berlipat-lipat.

Sungguh berbeda dengan kondisi pasukan muslim, yang hanya membawa sekitar 300-an prajurit lebih sedikit, yang bukan hanya minim secara jumlah, namun juga peralatan, sarana pengangkutan perang. Hanya ada sekian unta dan sedikit kuda yang tentu saja masih jauh sangat kurang dari jumlah yang semestinya diharapkan. Belum lagi medan perang Badar yang terpampang cukup jauh dari Madinah sekitar 230 km, dengan cuaca panas yang bisa melumerkan semangat orang-orang kebanyakan.

Namun tentu hal tersebut tidak berlaku bagi kaum Anshor dan Muhajirin, yang sejak awal telah melekat kuat semangat terpatri dalam dada, ikut bersama Rasulullah SAW kemanapun menyongsong surga. Mereka tak sudi disamakan dengan Bani Israil pengikut nabi Musa as, yang dengan penuh kesombongan dan kemalasan berteriak kepada pemimpin sekaligus nabi-nya : " pergilah Anda dan Tuhan Anda untuk berperang,  sungguh kami disini saja duduk-duduk menunggu "(QS Al Maidah 24).  Karenanya, meskipun sedikit perbekalan dan minimnya kendaraan, merekapun tetap teguh melanjutkan perjalanan.

Untuk efektifitas keberangkatan pasukan, maka kemudian dibagilah kendaraan yang ada, dimana seekor onta untuk jatah tiga sampai empat orang, untuk ditunggangi bergantian, sementara yang lainnya berjalan kaki. Tentu saja seekor unta tidak bisa dipaksakan untuk dinaiki tiga atau empat orang sekaligus, maka pembagian giliran berupa dua orang naik onta, dan satu orang berjalan. Begitu bergantian seterusnya hingga sampai di tujuan.

Saat pembagian tersebut, tercatat Rasulullah SAW ikut dalam rombongan pembagian unta bersama Ali bin Abi Tholib dan Abu Lubabah. Kita berhenti sejenak di sini. Ini bukan hal yang biasa dan sederhana, apalagi dilihat dari logika dan kepemimpinan yang terserak hari ini. Rasulullah SAW tidak melihat dirinya sebagainya pemimpin besar yang harus disediakan fasilitas berlimpah nan berbeda. Jangan bayangkan pesawat kepresidenan atau air force one, bahkan untuk tunggangan seekor unta nan bersahaja pun beliau siap berbagi. Dalam logika sederhana kita, bisa saja beliau meminta jatah satu unta yang terkuat nan hebat, dan tidak ikut dalam pembagian pasukan. Namun beliau tidak melakukannya, karena kondisi kekurangan yang ada pada waktu itu salah satunya. Memang dalam perkembangan zaman berikutnya, saat kaum muslimin telah berkembang dari semua sisinya, termasuk perekonomian dan perlengkapan perangnya, beliau memang memiliki kuda nan gagah yang dijuluki dengan al-qoshwa.

Apa yang terjadi kemudian saat perjalanan pasukan sepanjang 230 km itu mulai bergerak. Saat tiba giliran Rasulullah SAW untuk berjalan kaki, maka dengan serta merta Abu Lubabah dan Ali bin Abi Tholib berebutan menawarkan diri untuk menggantikan Rasulullah SAW dalam berjalan kaki. Keduanya tak rela dan segan jika harus naik unta sementara pemimpin dan nabi mereka berjalan disamping. Lalu apa jawab Rasulullah SAW melihat dua sahabat mudanya bersemangat menggantikan dirinya berjalan kaki ? Sejarah mencatat jawaban sederhana beliau penuh keakraban : " Kalian berdua ini belum tentu lebih kuat dari diriku, dan aku juga masih butuh pahala sebagaimana kalian berdua ". Bisa kita bayangkan, di saat usia beliau menapaki 55 tahunan, sementara Ali bin Abi Tholib berusia 38 tahun jauh lebih muda, tak terbersit dalam pikiran beliau untuk memanfaatkan ketulusan sang prajurit.

Pemimpin yang tidak ingin berlimpah dalam fasilitas, dan juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya, tidak tenggelam dalam lautan harta dan fasilitas kemudahan yang memabukkan. Kita tentu semua merindukannya. Kita mulai dari diri kita, dengan mengambil inspirasi dari sekelumit kisah kepemimpinan Rasulullah SAW di atas.

Kesederhanaan dalam Keseharian
Jika dalam hal kepemimpinan pun beliu menunjukkan inspirasi kesederhanaan yang luar biasa, begitu pula dalam kehidupan sehari-hari yang bersahaja. Dimulai dari hal yang paling mendasar, yaitu bagaimana rumah tempat beliau tinggal. Rumah Rasulullah SAW bukanlah bak istana raja yang bergelimang dekorasi mewah disana-sini, berbahan marmer atau keramik nan mahal, ditambah dengan luas dan banyaknya ruangan berlimpah. Namun rumah yang beliau tinggali panjangnya tidak lebih dari 5 meter dan lebarnya 3 meter, serta tinggi atap sekitar 2,5 meter. Rumah mungil nan sederhana itupun hanya terbuat dari bahan sederhana, dari pelepah kurma yang berbalut serabut, demikian dituliskan dalam kitab Shohih Adabul Mufrod.

Untuk urusan perabot rumah tangga Rasulullah SAW juga mencontohkan kesederhanaan yang luar biasa, termasuk tempat tidur yang sehari-hari beliau gunakan untuk beristirahat menyandarkan punggung. Ibnu Masud pernah berkisah tentang kondisi tempat tidur Rasulullah SAW yang hanya beralaskan tikar kasar, ia berkata :  “Saya menemui Rasulullah SAW, saat itu beliau sedang tidur di atas tikar yang membekas pada pinggangnya, saya menangis”. Beliau berkata, “Apa yang menjadikanmu menangis ?” saya berkata, “Raja Kisro dan Qoisar tidur diatas kain sutra sedang engkau tidur diatas tikar”. Kemudian beliau bersabda, “Perumpamaanku dan dunia ini adalah tidak lain seperti pengendara yang berlindung di bawah pohon kemudian dia meninggalkannya”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) .

Beliau memberikan alasan mengapa beliau memilih tikar kasar sebagai alas tidur, sebagaimana juga beliau memilih banyak kesederhanaan dalam kehidupannya, yaitu karena sesungguhnya beliau tidak memandang dunia kecuali dengan pandangan asing, hanya sementara dan segera akan meninggalkannya. Tidak menjadikan dunia sebagai objek kenikmatan apalagi tujuan, namun hanya sebagai ladang amal menuju hari akhirat yang lebih kekal abadi nan menjanjikan.

Bahkan dalam riwayat lain Rasulullah SAW punya alasan lain mengapa menjauhi fasilitas dan kenyamanan, bahkan dalam urusan istirahat. Hafshah, istri beliau suatu ketika ditanya, “Apa yang menjadi tempat tidur Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Kain dari bulu yang kami lipat dua. Di atas itulah  Rasulullah SAW tidur. Kemudian, Hafsah berinisiatif pada suatu malam melipat kain tersebut menjadi empat lapis, agar terasa lebih empuk bagi Rasulullah SAW. Ternyata saat shubuh menjelang, Rasulullah SAW bertanya kepada Hafshah : “Apa yang engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” . Hafshoh pun menjawab dengan jujur dan alasan ia melipat kain menjadi empat lipatan. Ternyata Rasulullah SAW kurang senang dan mengatakan : “Kembalikan kepada asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam hari.” (HR At-Tirmidzi). Beliau tidak ingin kenyamanan justru akan menjauhkannya dari semangat beribadah kepada Allah SWT. Satu hal yang barangkali sering menjadikan kita malas beribadah tanpa kita sadari, yaitu kenyamanan dan juga kekenyangan.

Dalam urusan makan sehari-hari, cukuplah kesaksian Aisyah mengingatkan kita tentang betapa bersahajanya beliau dalam urusan ini. Dari sisi ketersediaan makanan, di rumah beliau ternyata tidak setiap saat tersedia makanan. Aisyah Ra berkata, “Kadangkala sebulan kami tidak menyalakan api di dapur. Kami hanya makan kurma dan air saja kecuali jika ada seseorang yang menghadiahkan sedikit daging kepada kami” [HR Bukhari]. Jika ada seorang sahabat yang menghadiahkan makanan, maka beliau terkadang justru mengundang sahabat lainnya, terutama para ahlu suffah untuk bersama-sama menikmatinya. Soal menu makanan sehari-hari, beliau tidak pernah rewel dengan selera lidahnya. Beliau tidak pernah mencela makanan sama sekali, jia ia suka maka beliau memakannya, dan jika tidak suka beliau meninggalkannya.

Adapun sebagai suami dan kepala rumah tangga dalam keseharian, Rasulullah SAW juga memberikan contoh kepada kita tentang kesederhanaan, apa adanya, siap menjalani apa adanya pekerjaan rumah, tanpa ongkang-ongkang kaki menyuruh sana-sini. Segala hal yang bisa beliau lakukan, beliau pun melakukannya dengan sepenuh suka cita. Istri beliau Aisyah Ra menceritakan kondisi beliau di rumahnya, “Rasulullah menjahit bajunya, sendalnya dan melakukan apa yang selayaknya dikerjakan para lelaki di rumahnya” (HR. Ahmad ). Dalam riwayat yang lain Aisyah Ra semakin menegaskan “Beliau adalah manusia selayaknya manusia biasa, beliau membersihkan kotoran yang menempel pada bajunya, memerah susu dan mengurus dirinya sendiri”.


Banyak sudah episode kesederhanaan dalam kehidupan Rasulullah SAW, baik sebagai pemimpin umat maupun sebagai individu di rumahnya. Kita umat yang mencintai beliau, tidak punya banyak alasan kecuali berusaha untuk meneladani beliau dalam segala hal, termasuk dalam urusan kesederhanaan. Bukankah Allah SWT telah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. al-Ahzab: 21). Wallahu a’lam bisshowab

1 komentar:

  1. INDOMONOPOLY.COM MERUPAKAN SITUS JUDI ONLINE YANG TERBAIK & TERPERCAYA DI INDONESIA.
    KAMI MENYEDIAKAN GAME TERBARU MONOPOLY YANG TELAH TERPERCAYA OLEH MASYARAKAT INDONESIA
    PROMO CASHBACK 10% DARI NILAI KEKALAHAN ANDA INDOMONOPOLY ADALAH GAME ONLINE TERBAIK
    DENGAN PROSES DEPOSIT DAN WITHDRAW PALING LAMBAT HANYA 2 MENIT (SELAMA BANK ONLINE).
    TERTARIK / BERMINAT ,TAPI BINGUNG BAGAIMANA CARA GABUNG DI GAME KAMI?? BISA LANGSUNG HUBUNGI
    LIVE CHAT KAMI SETIA MELAYANI ANDA 24JAM. KEMUDAHAN HANYA BERSAMA KAMI DI INDOMONOPOLY
    SETIA MEMBANTU ANDA SEMUA. KUNJUNGI WEB KAMI : http://bit.ly/1QULFBI

    BalasHapus