9 Jul 2013

Geliat Dakwah di Negeri Sakura (Dakwah Jepang Bag-1)

muslim jepang. sumber : republika
Alhamdulillah, setelah pada Ramadhan tahun 2011 di Negeri Formosa Taiwan, maka pada Ramadhan kali ini Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU kembali memberikan tugas kepada saya untuk melakukan safari dakwah, kali ini ke negeri Sakura, Jepang. Persiapan keberangkatan kali ini begitu cepat dibanding sebelumnya. Sempat keraguan terbersit untuk menunda. Membayangkan Ramadhan dengan berjauhan dari keluarga, tentu awalnya melahirkan kegamangan dalam hati. Tapi doa dan dukungan keluarga, ditambah menyadari kondisi muslimin di Jepang yang masih sangat minoritas, Alhamdulillah Allah SWT menguatkan tekad untuk segera melipat koper (memang bisa dilipat ?) dan  melangkah berangkat. Saya berangkat bersama Ustad Faisal Kunhi, MA, kami berdua mendapatkan tugas dari PKPU untuk safari dakwah Jepang tahun ini.

Tepat pada Sabtu 6 Juli 2013 pukul 10.00 pagi waktu Jepang, pesawat Garuda GA884 mendarat di Bandara Narita setelah selama 7 jam perjalanan kurang lebih, bertemankan dengan cuaca yang kurang bersahabat. Setidaknya demikian sering diulang-ulang oleh sang pilot yang berasal dari Bali. Udara musim panas Tokyo menyambut hangat, membuat kami menyeka keringat dengan penuh semangat.  Di Bandara kami dijemput oleh perwakilan PKPU di Jepang, Bang Rully. Beliau seorang peneliti dan mahasiswa S-3 pada Universitas Waseda Tokyo, dan sudah 20 tahun tinggal di Jepang. Dari Bandara Narita kami bertiga meluncur menuju Stasiun Tokyo dengan menggunakan bus khusus yang nyaman. Ternyata Narita berada di luar propinsi Tokyo. Perjalanan yang lancar tanpa hambatan berhasil dilampaui selama kurang lebih dua jam sampai akhirnya kami menjejakkan kaki di Stasiun Tokyo.

Di perjalanan bus, Bang Rully memberikan banyak cerita tentang dakwah di Jepang, perkembangannya dan juga agenda yang akan diberikan kepada kami berdua. Ustadz Faisal Kunhi akan lebih banyak di Tokyo dan Jepang bagian Utara, sedang saya sendiri akan banyak berkonsentrasi di Jepang bagian Selatan. Bang Rully juga bercerita tentang perkembangan Islam di Jepang. Banyak masjid yang didirikan oleh warga IPB, bukan universitas di Bogor tapi singkatan dari India, Pakistan dan Bangladesh. Mereka bersemangat dan berlomba untuk mendirikan masjid, dan kaum muslimin Indonesia turut berpartisipasi dalam meramaikan dan memakmurkannya, semacam bagi-bagi tugas sepertinya. Karena itulah, PKPU secara rutin mengagendakan mengirimkan para dai untuk safari dakwah ke negeri Sakura, khususnya saat Ramadhan tiba. Sekarang ini di Jepang tercatat sekitar 100 ribu Muslim tinggal dengan 50 masjid didirikan. Dari jumlah tersebut, hampir 90 persennya adalah para pendatang dari Indonesia, Pakistan, Iran dan Bangladesh. Sementara 10 persen sisanya adalah warga pribumi.

Bisa dibilang, pekerjaan rumah terbesar bagi kaum muslim di Jepang adalah untuk menyebarkan Islam di tengah penduduk asli Jepang sendiri. Bang Rully punya tesis menarik mengapa penduduk asli Jepang agar terhambat untuk menerima Islam. Secara sederhana beliau menyatakan, karena orang jepang sendiri sudah mempunyai tatanilai yang luar biasa hebat, jadi mereka tidak melihat sosok muslim sebagai teladan yang menarik, karena nilai-nilai islam sudah banyak menjadi bagian dari kebiasaan mereka sehari-hari. Sebut saja tentang kedispilinan, kebersihan dan kejujuran, adalah nilai yang sudah mendarah daging dan dilakukan dengan ringan oleh mereka. Sementara terkadang mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri, banyak warga muslim India, Pakistan, Bangladesh,- dan Indonesia juga tentunya- yang justru menunjukkan tidak kedisiplinan, kurangnya kebersihan, sehingga mereka berpikir seribu kali sebelum menerima ajaran Islam. Bahasa sederhananya, ajaran Islam yang sesungguhnya mulia menjadi terkena demarketing sendiri oleh para pemeluknya. Mendengar penjelasan Bang Rully ini, tidak tahu kenapa seolah rasanya pipi ini ada yang menampar luar biasa. Sebuah evaluasi diri bagi para muslim dan dai-dainya, khususnya di Jepang. Segera terngiang kembali ucapan sang pembaharu Muhammad Abduh saat sedang traveling ke negara Barat : “Saya melihat Islam di Barat tapi saya tidak temukan Kaum Muslim di sana. Sebaliknya, saya menemukan Kaum Muslim di Timur tapi saya tidak melihat ada Islam di sana.” . Tidak berlebihan jika memang banyak yang menyebutkan, kalau soal kedisplinan, kejujuran, kebersihan, dan akhlak mulia lainnya, banyak warga jepang sudah "Islam" sebelum bersyahadat. Plaaak !!! terasa ada yang menampar sekali lagi di pipi saya.

Japan Rail Pass
Sampai di Stasiun Tokyo, ternyata agenda sudah ada di hadapan, meski belum lama mendarat dari pesawat. Saya diagendakan untuk mengisi pengajian perdana tarhib Ramadhan masyarakat Indonesia di Kitakami. Dijadwalkan acara akan dimulai pada pukul 14.30 waktu setempat. Jarum jam tangan waktu itu belum bergeser dari arah angka 12. Bang Rully segera menguruskan kartu JR Pass agar saya bisa bebas naik kereta peluru shinkansen dan segera meluncur ke Kitakami. JR Pass hanya berlaku untuk turis, bukan mereka yang memiliki ijin tinggal seperti para mahasiswa atau pekerja. JR Pass yang seharga 5 juta rupiah terbilang sangat ekonomis, mengingat dengan masa berlaku 3 pekan saya bisa keliling Jepang sesuka hati (panitia ..eh), kapan saja dimana saja selama masih ada jalurnya. Sementara untuk satu kali perjalanan shinkanshen untuk jarak Tokyo-Sendai misalnya, harga tiket per individunya mencapai satu juta rupiah. Jadi untuk agenda safari dakwah yang berpindah-pindah antar kota hampir setiap harinya, tentu sebuah langkah ekonomis yang luar biasa.

Jadwal terdekat ke Kitakami pukul 12.40 dengan menggunakan Shinkanshen Yamabiko, sebuah kereta peluru dengan kecepatan mencapai 500km perjam. Pengalaman naik kereta peluru sebelumnya saat saya berada di negeri Formosa, kecepatan dan interiornya tidak jauh berbeda.  Pintu kereta terbuka dan tertutup pada waktunya dengan cepat sesuai jadwal, begitu pula dengan jadwal tiba dan keberangkatan. Tidak ada cerita seperti yang dituliskan Iwan Fals dalam lagunya " dua jam kereta terlambat itu biasa". Perjalanan menuju Kitakami melewati dan berhenti di beberapa stasiun besar seperti Utsunomiya, Fukushima, dan Sendai. Para penumpang keluar masuk dan asyik dengan kesibukannya masing-masing, terutama membaca dan menyentuh-nyentuh gadgetnya. Karena lelah teramat sangat, setelah menyantap nasi kepal onigiri khas jepang dengan lauk ikan salmon, saya pun tertidur. Kebiasaan Indonesia saat di perjalanan adalah tertidur, dan saya masih menjadi bagian dari orang Indonesia he2. Di Stasiun Sendai, Bro Jimmy bergabung naik kereta untuk menjadi guide saya selama di Kitakami. Jarak antara Tokyo-Kitakami jika ditarik garis lurus mencapai 430-an km, setara dengan jarak Jakarta-Semarang. Bedanya, dengan shinkansen ini jarak sejauh itu cukup ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan. Tolong jangan dibandingkan dengan Argo Muria, apalagi Senja Utama dari Semarang Poncol.

Sampai di Kitakami pukul 15.30. Udara sejuk menyambut, guyuran hujan beberapa waktu sebelumnya membuat musim panas sejenak terlupa. Untuk ulasan di Kitakami, insya Allah dalam postingan berikutnya

semoga bermanfaat dan salam optimis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar