Rehat Ramadhan (4) : Syetan ikut Sholat Berjamaah

on Selasa, 31 Juli 2012

Dikisahkan dalam sebuah masjid saat akan mulai sholat berjamaah ... imam masjidnya tampak bersemangat meminta jamaah untuk merapikan dan merapatkan shof, sementara jamaah-nya yang sebagian orang tua tampak enggan dan tak terbiasa. Imam masjid yang masih muda itu kembali mengulang dan mengingatkan bahwa jika ada celah antara dua jamaah, maka syetan lah yang akan menempatinya ...

Tentu hal ini adalah positif sesuai anjuran Rasulullah SAW dalam sabdanya : " “Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan." (HR Abu Daud)

Akan tetapi akhirnya, karena merasa jengah diingatkan terus menerus, salah seorang jamaah tua berbicara cukup lantang : " wahai anak muda, kalau memang ada syetan diantara celah-celah kami, maka biarkan saja ... bukankah kalau dia sholat bersama kita malah lebih baik ??? "

sumber : islamstory.com

Rehat Ramadhan (3) : Syeikh Badui dan Ramadhan

on Selasa, 24 Juli 2012

Dikisahkan dalam suatu Ramadhan, seorang pemuda yang sedang berpuasa memasuki sebuah perkampungan yang tinggal di dalamnya banyak orang badui. Dia memasuki kampung tersebut pada siang hari dan merasa heran bukan kepalang, karena dilihatnya dari rumah ke rumah, dan sudut-sudut kampung, orang-orang sedang makan tanpa beban. Maka pemuda tadi pun memberanikan diri bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya . Ia bertanya pada beberapa orang yang tengah berkumpul menikmati hidangan : " Mengapa kalian tidak berpuasa, bukankah kalian tahu saat ini sudah Ramadhan ? ".  Mereka serempak menjawab : " syeikh kami telah berpuasa mewakili kami semua !! ".

Bertambah sudah kebingungan sang pemuda, lalu ia bertanya rumah tempat Syaikh tersebut tinggal untuk bertanya dan memastikan yang sedang terjadi di kampung ini. Mereka pun menunjuki rumah syeik tersebut dengan jelas. Setelah salam dan diijinkan masuk oleh Syeikh tersebut, pemuda ini pun kembali kaget luar biasa, karena ternyata syeikh tadi juga tengah menikmati makanan. Bahkan di hadapan syeikh tersebut terhidang sejumlah besar makanan yang lezat dengan jumlah yang teramat banyak.

Ia mengingat perkataan penduduk kampung bahwa syeikh telah berpuasa mewakili mereka, namun pemandangan yang terhampar di hadapannya membuat ia tidak percaya begitu saja. Maka ia pun kembali memberanikan diri bertanya : " Wahai syeikh, sepengetahuanku bukankah engkau berpuasa mewakili penduduk kampung ini, lalu mengapa engkau malah makan dengan lahap di siang hari ? "

Syeikh tadi menoleh ke arah sang pemuda, dan menjawab dengan tanpa beban : " wahai pemuda bodoh, justru karena aku mewakili puasa seluruh penduduk kampung ini, maka setiap setengah jam akupun bersantap sahur mewakili mereka !!!! "

sumber : islamstory.com

Rehat Ramadhan (2) : Qodhi Yahya dan Nabi Palsu

on Minggu, 22 Juli 2012

Setiap Ramadhan tiba, di malam hari Khalifah Al-Makmun mempunyai kebiasaan bersantai sejenak di malam hari bersama para pejabat kekhalifahan. Diantara yang ikut berkumpul adalah hakim kerajaan yaitu Qodhi Yahya bin Aktsam. Suatu ketika saat sedang berkumpul, masuklah seorang laki-laki yang dikenal sering mengaku-mengaku menjadi nabi. Meskipun mengaku seorang nabi, nampaknya pihak kekhalifahan tidak mengambil sikap tegas, karena selain ia tidak mempunyai pengikut, juga karena sosoknya yang lucu.

Khalifah pun berdialog dengan laki-laki yang mengaku nabi tersebut :
Al-Makmun            : dahulu nabi Ibrohim memiliki mukjizat, yaitu api bisa berubah menjadi dingin dan nyaman saat ia dilemparkan ke dalamnya. Nah, bagaimana kalau sekarang kami melemparmu dalam api, jika api tidak menyentuhmu sama sekali, maka kami akan beriman.

Laki-laki                 :  itu berat sekali, aku menginginkan mukjizat yang lain saja ...
Al-Makmun            :  baiklah kalau begitu, bagaimana dengan mukjizat nabi Musa, yang bisa merubah tongkat menjadi ular, lalu membelah lautan dengannya. Apakah engkau bisa menunjukkan hal itu ?

Laki-laki                 : kalau yang itu justru lebih berat dari yang sebelumnya, aku ingin yang lebih ringan saja ...
Al-Makmun             : kalau begitu begini saja, tunjukkan pada kami mukjizat nabi Isa alaihissalam, yaitu menghidupkan mereka yang sudah mati

Laki-laki itu tampak berpikir sejenak, lalu ia menyanggupi seraya berkata : " baiklah, kalau itu aku terima tantanganmu. Aku akan membunuh terlebih dahulu Qodhi Yahya, kemudian aku akan menghidupkannya kembali setelah beberapa saat ... "

Qodhi Yahya yang berdiri di samping khalifah sedikit terkejut, lalu dengan cepat ia menyahut : " sudah ..sudah, kalau begitu, aku rela menjadi yang pertama beriman kepadamu dan membenarkanmu sobat !! "

Mendengar penuturan sang Qodhi, khalifah Al-Makmun tertawa terhibur dan bahkan kemudian memberikan hadiah kepada laki-laki lucu yang mengaku nabi, dan membiarkannya bebas begitu saja.

*diambil dari Kitab Romadhoniyat - Fan - wa Nawadhir karangan Ustadz Musthofa Utsman

Rehat Ramadhan (1) : Qodhi Syuraik dan Yaumu Syak

on Sabtu, 21 Juli 2012

Dalam fiqh shiyam sering disebut permasalahan yaumu syak (hari yang meragukan ). Yang dimaksud meragukan adalah diragukan apakah hari tersebut 30 sya'ban atau sudah masuk 1 Ramadhan. Penyebab keraguan karena belum ada laporan kesaksian kaum muslimin yang melihat hilal secara rukyat . Dalam hal ini jumhur ulama memang berpendapat haramnya berpuasa pada hari tersebut, berdasarkan riwayat dari Ammar Ibnu Yasir Radliyallaahu ‘anhu, ia  berkata: “Barangsiapa shaum pada hari yang meragukan, maka ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Muhammad) Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam (HR Bukhori secara muallaq, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Pendapat ini juga ditunjang dalil lain yang sudah terkenal, dimana kita diminta untuk menggenapkan sya'ban 30 hari ketika hilal tertutup mendung.

Nah, kali ini kita tidak membahas pendapat fiqh seputar Yaumu Syak, tapi sebuah kisah unik dalam sejarah berkaitan dengan yaumu syak tersebut :

Diriwayatkan pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid, pada sebuah yaumu syak khalifah tengah berkumpul bersama Syuraik -Qodhi atau Hakim kerajaan yang terkenal cerdas- dan juga para fuqoha lainnya. Nampaknya mereka tengah menunggu laporan rukyat dari berbagai penjuru negeri, dan semuanya dalam kondisi berpuasa. Kemudian setelah dhuhur akhirnya datang laporan yang memberitakan bahwa hilal tidak berhasil dirukyat dimana-mana.

Pada saat itu di hadapan kholifah telah dihidangkan buah apel. Maka kemudian kholifah segera menawarkan kepada semua yang hadir di hadapannya apel tersebut satu persatu. Maka merekapun menikmati apel tersebut, kecuali sang Qodhi, ia terlihat tidak menyentuh apel tersebut sedikitpun. Melihat hal ini, terlintas dalam pikiran imam Abu Yusuf untuk 'mengerjai' sang Qodhi. Maka Abu Yusuf pun berkata kepada khalifah : " wahai amirul mukminin, lihatlah kepada Qodhimu yang bermaksud menentangmu, dia tidak mau memakan apel dan ingin menyempurnakan puasanya hari ini "

Mendengar perkataan Abu Yusuf, Syuraik sang Qodhi awalnya merasa posisinya terjepit, tapi secepat kilat kecerdasannya muncul, ia melihat Khalifah belum makan apel tersebut. Qodhi segera berkata membela diri : " aku tidak menentangmu wahai Amirul mukminin, tapi justru di Abu Yusuf yang menentangmu. Engkau adalah pemimpin dan kami adalah rakyatmu, karenanya kami tidak mau berbuka sebelum engkau makan terlebih dahulu, kami tidak punya hak untuk mendahuluimu "

Khalifah Ar-Rosyid tersenyum sambil mengatakan " engkau benar wahai Qodhi ". Lalu khalifah pun menikmati buah apel tersebut, dan Syuraik sang Qodhi pun juga memakan setelahnya. Mereke semua terlihat terhibur dengan kejadian unik yang baru saja terjadi.

*dari kitab : Romadhoniyat .. Adab Fan Nawadir karangan Ustadz Musthofa Abdurrahman



semoga bermanfaat dan salam optimis

Download Powerpoint : Pendidikan Anak dalam Islam (Tarbiyatul Aulad)

on Minggu, 15 Juli 2012

Pada Sabtu 14 Juli 2012 yang lalu, saya diminta mengisi Tausiyah pada acara Silaturahim Orangtua Murid dan Guru (SOMG) pada TKIT Nur Hidayah, bertempat di Aula Perhutani Laweyan Solo. Materi yang diminta adalah seputar Tarbiyatul Aulad atau konsep Pendidikan Anak dalam Islam. Tema semacam ini tentu saat ini begitu marak dan banyak tersebar di media maupun buku-buku dengan label "parenting", pola pengasuhan dan pendidikan anak. Karenanya, saya tidak banyak memasuki lebih mendalam dan teknis dalam hal "parenting", apalagi dari sisi psikologi dan kejiwaan anak-anak,  karena rasanya banyak yang lebih pantas membahas dan menyajikan soal tersebut.

Maka saya mengampil porsi sejauh mana Islam mengajak dan memberikan panduan utama seputar pendidikan anak dalam Islam. Ayat-ayat Al-Quran dan hadits nabawi banyak memberikan arahan baik umum maupun teknis tentang tarbiyatul aulad, dan kesemuanya mengarahkan pada pentingnya penanaman aqidah sejak dini, serta mengajarkan bidang-bidang lainnya secara lebih komprehensif dan tawazun.

Inspirasi utama dari materi Tarbiyatul Aulad yang kami sampaikan adalah diambil dari doa yang berasal dari Al-Quran, yang mungkin setiap hari kita lantunkan : Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pempimpin bagi orang-orang yang bertakwa ( QS Furqon 74)

Dari doa diatas, ternyata kita bisa mengambil dua visi utama dalam tarbiyatul aulad, yaitu : menjadikan mereka sebagai qurrota a'yun (penyejuk mata dan hati orangtua) dan juga imaman lil muttaqin (pemimpin bagi masyarakatnya). Menjadikan anak sebagai qurrota a'yun berarti membentuk keshalihan individu dalam batas-batas tertentu, seperti pendidikan akidah, aklak dan ubudiyah. Banyak contoh riwayat dan ayat yang menganjurkan kita untuk melatih anak dari sisi itu. Kemudian juga mendidik anak sebagai imaman lil muttaqin berarti benar-benar menyiapkan generasi yang mempunyai kemampuan leadership dan ditunjang dengan skill penunjang yang dibutuhkan zamannya. Karenanya pada sisi ini, tarbiyah jasadiyah, fikriyah dan mihariyah (skill) mutlak harus diberikan kepada anak-anak kita.

Apapun dan bagaimanapun, kita para orangtua harus tak pernah jemu dan jenuh untuk terus belajar, dan sharing seputar tarbiyatul aulad. Semua orang mungkin punya metode yang berbeda, namun tentu semuanya merindukan kehadiran pribadi-pribadi sholih dan muslih yang muncul dari generasi dan keterunan mereka. Semoga Allah SWT memudahkan.

Bagi Anda yang ingin berbagi inspirasi dan motivasi seputar Tarbiyatul Aulad, silahkan download melalui link berikut :


http://www.4shared.com/file/SOzpW2Fu/Tarbiyatul_Aulad.html

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

Seminar Nasional Pengembangan & Penguatan Jaringan BMT (Plus Powerpoint)

on Sabtu, 07 Juli 2012

Pada hari Rabu 4 Juli 2012 kemarin, dideklarasikan Ikatan Persaudaran Koperasi Syariah yang disingkat IPKS tingkat Jawa Tengah. Deklarasi tersebut berlangsung di Hotel Sunan Solo yang dihadiri oleh sekitar 100-an utusan BMT / Koperasi Syariah di penjuru Jawa Tengah. Organisasi yang didirikan oleh Budi Santoso ini diharapkan mampu mengoptimalkan jaringan BMT agar bisa saling bersinergi dan menguatkan satu sama lainnya. Selain acara deklarasi juga ada paparan dari Kepala Cabang BSM Salatiga yang mengupas tentang perkembangan bank syariah dan BSM secara umum, serta kaitannya dengan peluang-peluang yang bisa disambut oleh pengurus BMT secara khusus.

Acara inti berikutnya adalah Seminar Nasional yang mengambil tema Pengembangan BMT baik dilihat dari aspek Regulasi, Syariah dan juga pengembangan jaringan. Tiga pembicara yang hadir adalah Muhammad Haris Wakil Walikota Salatiga, Masykuri dari KOSINDO Jogjakarta, dan saya sendiri. Pada paparan seminar tersebut saya menyampaikan Peluang dan Tantangan pengembangan BMT melalui inovasi akad syariah. Tidak mudah memang, karena selalu ada hambatan dan halangan, tapi langkah untuk menuju ke sana harus tetap di ayunkan.

Berikut kami share Materi PPT sederhana kami tentang Peluang dan Tantangan pengembangan BMT melalui inovasi akad syariah :

DOWNLOAD KLIK LINK BERIKUT -->  http://www.4shared.com/file/EjofBALp/aspek_syariah_BMT.html

Semoga bermanfaat dan salam optimis

Ada Apa dengan Malam Nisfu Sya'ban ?

on Rabu, 04 Juli 2012


Seluruh hari pada bulan Sya’ban sejatinya diliputi keberkahan dan kemuliaan. Sejak awal Rasulullah SAW telah memberitahukan dengan jelas kepada kita. Suatu ketika Usamah bin Zaid  bertanya pada beliau : “ Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan yang lebih banyak dari puasamu di bulan sya’ban ? “. Maka Rasulullah SAW menjawab :  “ (Sya’ban) itu adalah bulan yang kebanyakan manusia melalaikannya. antara Rojab dan Ramadhan. Sya’ban adalah bulan dimana amalan-amalan diangkat menuju sisi Tuhan Semesta Alam, dan aku suka ketika amal-amalku diangkat, saat aku dalam keadaaan berpuasa “ (HR Nasa’i).

Permasalahan kemudian terletak pada malam ke -15 di bulan Sya’ban ini. Apakah benar menjadi malam yang khusus dengan keutamaan yang khusus pula ? Ataukah tidak lebih dari malam bulan Sya’ban lainnya.  Dalam hal ini kita temukan di masyarakat kita dua kutub yang sangat berbeda dalam menyikapinya. Yang pertama begitu meriah menyambut dan merayakannya. Biasanya di awali dengan doa nishfu sya’ban selepas maghrib, kemudian bacaan yasin tiga kali setelahnya, dan juga puasa sunnah keesokan harinya. Kutub yang lainnya juga tidak kalah sibuknya, mereka tidak bisa adem ayem setiap malam 15 sya’ban menjelang, yang dilakukan adalah sibuk untuk mengcounter dan menjelaskan seputar salah dan bid’ahnya semua yang terkait dengan nisfhu sya’ban.

Mari berpikir lebih jernih dan cermat dalam masalah yang sensitif semacam ini. Apalagi tanpa kesiapan untuk berbeda, biasanya ukhuwah dan persatuan senantiasa menjadi taruhan. Saya ingin membedakan kaitan antara ‘keutamaan’ dan ‘amalan’ pada malam nishfu sya’ban. Jika kita tidak bisa membedakan antara keduanya, maka perdebatan semacam ini akan masih terus terjadi dan bisa jadi semakin menghebat di tengah umat.

Hadits-hadits yang berkaitan tentang nisfu sya’ban memang ada termasuk banyak, tetapi mohon dicermati, hanya satu yang tersisa yang paling kuat dan bisa dijadikan hujjah, namun itupun yang berkaitang dengan keutamaan malam nisfu sya’ban, bukan ragam amalannya. Hadits lainnya yang tersisa seputar amalan nishfu sya’ban lebih banyak dhoif dan maudhu’nya. Berikut hadits yang paling baik riwayatnya dalam masalah nisfu sya’ban.

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ , فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ , إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ.

Dari Abu Musa Al-Asyari, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah SWT turun pada malam nisfu sya’ban, Ia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali bagi mereka yang musyrik dan berseteru (saling membenci) .
Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah (Meninggal 273 H) dalam kitab sunan-nya ,dituliskan pada  no hadist 1390 terdapat pada  Juz 2 halaman 400 untuk terbitan Maktabah Abi Muaty. Kitab hadits lain yang mencatat riwayat di atas antara lain : Mu’jam Kabir yang disusun oleh imam Thobroni, Syuabul Iman yang disusun oleh Imam Baihaqi, dan juga pada sunan Ibnu Hibban, dimana Syu’aib Al-Arna’uth mengomentari hadits ini mengatakan : hadits shohih dengan saksi-saksi (riwayat) lainnya.

Tak kurang, ulama hadits kontemporer yang sering menjadi rujukan banyak tholabul ilmi pada masa sekarang,-dan juga dikenal dengan pendapatnya yang tegas serta teliti seputar hadits- syeikh Nasiruddin Al-bani juga memasukkan hadits di atas dalam Kitab Silsilah Ahadist Shohihah-nya yang monumental. Di dalam kitab tersebut jilid ketiga halaman 135 beliau mengatakan : Hadits shohih, diriwayatkan oleh beberapa dari shahabat dengan jalan yang berbeda-beda, satu sama lain saling menguatkan, diantara mereka : Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah, Abdullah bin Amru, Abi Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar As-Shiddiq, Auf bin Malik, dan juga Ummahatul mukminin Ai’syah ra.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kajian sederhana di atas ? Pertama, kita harus meyakini sepenuhnya tentang kemuliaan yang ada pada malam nishfu sya;ban, yang disebutkan sebagai malam penuh ampunan. Tentulah ini sebuah kesempatan yang senantiasa kita harap-harapkan dalam hidup kita. Kedua, tidak melakukan amalan-amalan yang dilandaskan khusus dengan nisfu sya’ban. Tetapi kita optimalkan melakukan amal fardiyah yang sejak awal sunnah dalam setiap kesempatan, seperti : memperbanyak doa, istighfar, tilawah dan juga qiyamul lail. Kita lakukan semua ini dalam rangka taqorrub ila Allahi ta’ala, mendekatkan diri kepada Allah SWT, seraya benar-benar diliputi pengharapan datangnya ampunan bagi kita semua. Selamat menghidupkan malam yang utama ini. Semoga Allah SWT memudahkan. Wallahu a'lam bisshowab