DOWNLOAD

More on this category »

AKTIFITAS

More on this category »

TERBARU

Indahnya Persatuan

Jumat, 30 Oktober 2009

Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh umat manusia, sejak awal telah mengajarkan budaya persatuan. Bukan saja dalam koridor sesama kaum muslimin atau yang biasa disebut dengan ukhuwah islamiyah, tetapi juga dalam konteks masyarakat berbangsa dan bernegara. Bahkan dalam sejarah dan realitas terkini pun akan mudah kita temukan, bahwa sejatinya persatuan umat memberikan kontribusi besar dalam menambah kualitas persatuan bangsa. Ajaran Islam melalui Al-Quran dan Sunnah banyak memberikan inspirasi bagi kaum muslimin untuk mengaplikasikan budaya persatuan dalam menjalani kehidupannya.

Setidaknya ada tiga aplikasi ajaran Islam yang berkaitan erat dengan upaya menuju persatuan yang lebih kuat, baik sesama kaum muslimin secara khusus, maupun sebagai bagian utuh dari masyarakat Indonesia. Tiga aplikasi dari ajaran persatuan dalam Islam tersebut adalah :

Pertama : Saling mengenal dan berinteraksi

Allah SWT berfirman : “ Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. (QS Al-Hujurot 13). Ajaran persatuan yang paling mendasar dalam Islam adalah dengan saling mengenal dan berinteraksi. Ini artinya pendapat Islam sebagai agama yang eksklusif sangat tidak relevan. Seorang muslim diharapkan mau membuka diri untuk bergaul dengan masyarakatnya. Ia harus menjadi yang pertama menyadari bahwa keragamaan suku, budaya dan bahasa adalah kepastian bahkan menjadi sunnatullah tersendiri. Ia harus memperbanyak relasi, kenalan, dan jaringan, karena bisa jadi dari situlah ia mendapatkan peluang berbagi kebaikan lebih banyak lagi.

Kedua : Saling memahami & bertoleransi

Ajaran kedua yang berkaitan dengan budaya persatuan adalah sikap saling memahami dan bertoleransi. Setiap individu mempunyai kelebihan dan kelemahan, begitu pula kumpulan individu, organisasi, lembaga bahkan juga suku dan ras sekalipun. Dalam Islam, kelemahan itu untuk dipahami, bukan malah dieksplorasi dan dijadikan bahan kritikan, celaan yang tak pernah kunjung usai. Jika hanya sekedar mengenal tanpa berusaha memahami dan bertoleransi, maka persatuan dalam skala apapun hanya menjadi impian yang semakin menjauh. Islam mengingatkan kita untuk saling memahami dan bertoleransi, diantaranya melalui larangan saling mencela dan menghina. Allah SWT berfirman : janganlah sebuah kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) itu lebih baik dari mereka. (QS Hujurot 11)

Tiga : Saling bekerja sama dan bersinergi

Setelah saling mengenal dan memahami, maka ajaran Islam menyempurnakan budaya persatuan dengan memerintahkan untuk saling bekerja sama dan bersinergi. Allah SWT berfirman : “ … dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” ( Maidah 2). Wilayah kerja sama yang ditawarkan dalam ayat di atas sangat luas cakupannya. Imam Qurtubi dalam tafsirnya menukil ungkapan Imam Mawardhi : bahwa al-bir (kebajikan) adalah keridhoan manusia secara umum, sedangkan ‘at-taqwa’ adalah keridhoan Allah SWT. Dalam bahasa sederhananya, seorang muslim diperintahkan untuk saling bekerjasama, baik dalam lapangan kebaikan yang universal (kemanusiaan) maupun kebaikan dalam kacamata syariah. Disinilah kita perlu menyadari sepenuhnya, bahwa pada saat seorang muslim bekerja sama dalam mengerjakan sebuah kebaikan yang bersifat umum ( kemasyarakatan dan kebangsaan) maka sejatinya ia sedang menjalankan amanat ajaran Islam.

Akhirnya, jika ketiga langkah di atas mampu dijalankan dengan baik oleh seorang muslim, insya Allah akan mendatangkan persatuan yang lebih kuat dan indah dalam setiap tataran kehidupan. Semoga kita semua mampu menjalankannya. Wallahu a’lam bisshowab.

*dimuat di Rubrik Tausiyah Suara Merdeka - Suara Solo 30 Okt 2009

Urgensi dan Fungsi Blogger Dakwah

Selasa, 27 Oktober 2009

Aktifitas dakwah memang tidak mengenal waktu dan tempat. Tak cukup dunia nyata, kini dunia maya pun dirambahnya. Banyak blogger-blogger dakwah bermunculan bak jamur di musim hujan, dengan satu semangat yang sama " mengenalkan Islam ". Semua pasti sepakat bahwa 'dunia maya' adalah wilayah dakwah yang cakupannya sangat luas. Target pemasaran dakwahnya pun begitu beragam, dari yang masih 'abangan' bahkan hingga mereka yang selama ini menjadi musuh dakwah sekalipun.

Tema untuk berdakwah pun menjadi begitu luas dan beragam. Semua tema dalam blog begitu menarik untuk diolah menjadi sebuah tema dakwah. Ini juga menjadi salah satu bukti betapa Islam begitu kaya akan khazanah pemikiran yang tak pernah bisa habis untuk digali dan terus digali. So inspiring .. begitu bahasa sederhananya.

Namun betapapun demikian, kita meyakini bahwa dakwah sebagai sebuah misi mulia membutuhkan rambu-rambu (baca:fiqh dakwah) agar tetap terjaga kemuliaannya. Semangat blogger-blogger dakwah dalam mengolah kata dan menyuarakan Islam perlu dijaga agar tetap pada jalurnya. Dakwah via blog adalah bentuk lain sekaligus pengembangan dari 'dakwah bil qolam' yang sejak lama telah dirintis para ulama dan pemikir Islam. Dakwah via blog lebih sederhana, lebih umum, dan tentu saja dengan bahasan yang lebih beragam. Ini semua justru akan menunjukkan komprehensifnya Islam, sebagai agama yang mempunyai solusi dan jawaban atas setiap permasalahan dan bahasan.

Urgensi Dakwah via Blog

Untuk lebih memotivasi kita yang bergerak di ranah dakwah via blog, ada baiknya kita membekali diri kita dengan visi umum 'dakwah bil qolam', karena sejatinya keduanya hampir tidak bisa dibedakan. Visi umum dakwah bil qolam tersebut bisa tercermin dalam beberapa urgensi berikut ini :

1. Keutamaan Dakwah secara umum, baik berupa tulisan maupun lisan. Bahkan dalam khazanah Arab, tulisan sering juga disebut 'ahadu lisananain', yaitu satu dari dua lisan. Allah SWT berfirman : " Dan siapakah yang lebih baik perkatannya dari menyeru (dakwah) kepada Allah, dan beramal shalih serta mengatakan sesunggahnya aku termasuk kaum muslimin " ( Fushilat 33)

2. Keutamaan dan keagungan Dakwah tulisan ( bil qolam), sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa ayat Al-Quran. Diantaranya di awal surat Al Qolam, Allah SWT bersumpah dengan qolam (pena) dan apa-apa yang dituliskan. Secara sederhana, dalam kaidah tafsir telah dikenal bahwa objek yang dijadikan sumpah oleh Allah SWT berarti adalah sesuatu yang agung dan penting.

3. Konsekuensi keutamaan 'Membaca' dalam Al-Quran (QS Al-Alaq 1-5), berarti pada saat yang sama diperlukan bahan bacaan yang bermutu dan berkualitas. Karenanya, dakwah bil qolam adalah jawaban langsung dan efektif dari perintah membaca dalam Al-Quran. Dakwah bil qolam menghadirkan bacaan-bacaan yang layak, penting dan bermanfaat bagi kehidupan umat di dunia dan akhirat.

4. Dakwah bil qolam adalah dakwah lintas batas dan lintas waktu. 'keabadian' Al-Quran serta kitab-kitab turots (warisan) khazanah pemikiran islam beratus-ratus tahun yang lalu adalah bukti yang sangat nyata dalam masalah ini. Al-Quran, meskipun sejatinya telah dijamin oleh Allah SWT orisinalitasnya, tetap saja ada perintah untuk menuliskannya secara khusus. Ini juga tidak lain untuk lebih menjaga keabadian al-quran. Saat ini kita bisa menjadi 'murid' imam As-Syafi'I,Ibnu Taimiyah, berinteraksi dengan pemikiran-pemikirannya melalui buku dan kitab
.
5. Pengaruh dakwah bil qolam lebih 'paten'dan lebih menggerakkan bagi sebagian besar orang. Ini karena sebuah tulisan bisa terus diulang dan dibaca setiap saat. Dikaji, dipuji, dan bahkan juga dikritisi. Banyak tulisan yang terbukti bisa menggerakkan manusia dan juga mengubah sejarah. Dalam sejarah nasional kita misalnya, tulisan 'Andai Aku Seorang Belanda" karya Max Haveelar ternyata kemudian memunculkan kebijakan Politik Etis, yang akhirnya memunculkan banyak pemikir muda yang maju dari tanah air kita.

Fungsi dakwah via Blog

Sebelum posting, hendaklah para da'I blogger memastikan bahwa apa yang ditulis telah 'senada' dengan komitmennya di awal untuk berdakwah via blogger. Ia tidak menulis kecuali hal yang produktif untuk dakwah secara umum. Ini bukan berarti mengajak para blogger untuk menjadi 'serius' secara berlebihan. Bukan pula membebani para blogger harus memastikan posting full ayat dan hadits. Tidak, sekali-kali tidak. Yang diperlukan hanyalah sedikit kemauan untuk memastikan dan memetakan bahwa apa yang kita tulis bisa 'berfungsi' sebagai dakwah via blogger. Berikut beberapa fungsi dakwah via blog yang bisa kita jadikan acuan dalam content posting kita.

1. Fungsi Bayan / Penjelas ( Hukum atau suatu masalah dalam Islam)

Ini memang tergolong serius dan berat. Yaitu posting tema-tema kajian Islam dan pernik-perniknya. Yang ini tentu saja melibatkan dalil, pendapat ulama, dan juga argumen yang perlu 'hati-hati' dalam menuliskannya. Tentu tidak semua blogger harus menuliskan posting dengan fungsi di atas. Semua mengambil sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

2. Fungsi Tausiyah dan Motivasi beramal

Sudah menjadi karakter orang yang sukses dalam surat Al-Ashr adalah membudayakan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Ini berarti saling memotivasi untuk beramal shalih sekaligus menghilangkan kesedihan. Begitu pula dalam posting, bisa disajikan secara khusus tausiyah, dan nasehat-nasehat kebaikan. Tidak harus bingung mencari dalil, karena setiap kebaikan mempunyai dalil fitrahnya dalam hati masing-masing dari kita. Meskipun tentu saja, bukan berarti dalil tidak penting dalam postingan ini.

3. Fungsi Pelurus Anggapan salah / wacana yang salah di masyarakat

Yaitu meluruskan hal-hal yang telah mewacana dan mendarah daging dalam masyarakat, begitula mitos, budaya yang tidak selaras dengan ajaran kemuliaan Islam. Ini penting agar postingan kita benar-benar 'membumi' tidak bicara terlalu berlebihan tentang gagasan-gagasan idealis, yang bisa saja dilihat sebagai mimpi oleh sebagian besar pembaca blog kita.

4. Fungsi Pengarah Alternatif Islami ( Ta'shiil)

Yaitu memberikan alternatif Islami dalam banyak hal kehidupan masyarakat. Jadi tidak sekedar menyalahkan atau meluruskan, tetapi juga memberikan solusi Islami yang benar dan teruji. Misalnya ketika membahas gaya hidup (life style), kita bisa menghadirkan bagaimana Islam mempunyai banyak variasi dalam 'menikmati' hidup, bukan sekedar agama 'akhirat' saja tetapi juga agama kebahagiaan dunia. Bagaimana kita memberikan 'rambu-rambu' penjaga dalam banyak aktifitas modern agar tidak bertentangan dengan Islam.

5. Fungsi Informasi, Inspirasi & Ibroh

Yaitu memberikan informasi baik berita, peristiwa, kisah dan pengalaman hidup untuk memotivasi dan menginspirasi pembaca blog kita. Kita harus meyakini, bahwa setiap kejadian pastilah menyimpan beragam hikmah, dan setiap hikmah harus kita ambil sebagai charger optimisme dalam menyambut masa depan.

Jumat : Hari Raya Pekanan Kita

Jumat, 23 Oktober 2009

Apa yang kita rasakan saat hari raya di depan mata ? Bertaburan bahagia itu sudah jelas dan harus. Kemudian muncul rasa haru dari hati yang penuh syukur. Lalu tiba-tiba kita ingin berkumpul ditengah-tengah orang-orang yang kita cintai : ayah, ibu, saudara, anak, dan tentu saja istri sang pendamping hidup. Subhanallah.
Lalu tahukah Anda ? bahwa sesungguhnya Allah SWT memberikan kesempatan bagi kita uintuk berhari raya setiap pekan sekali : pada hari Jumat. Namun sayangnya, betapa sering hari Jumat itu terlewat begitu saja. Tanpa makna sebuah hari raya.

Bahkan sholat Jumat malah menjadi acara selingan di sela-sela istirahat siang. Nyaris sama dengan hari-hari yang lainnya, saat bumi ini bagai sarang lebah yang terus berdengung. Orang-orang hilir mudik dari rumah, pasar, kantor juga sekolah. Sebuah pertanyaan kembali singgah : Mungkin saja mereka tidak tahu.
Karenanya, tulisan ini ingin menghadirkan kesadaran tentang hari Jumat. Bahwa ia adalah hari raya dengan segenap artiannya. Suatu hari, yang bisa dibilang membutuhkan perlakuan khusus. Spesial. Jika masih ragu, barangkali dua hadits dibawah ini bisa membuat kita lebih tergerak untuk memaknai hari Jumat sebagai sebuah hari raya.

Pertama : Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda tentang hari Jumat : Sesungguhnya ini adalah hari raya yang dijadikan Allah untuk kaum muslimin (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Kedua :Dari Abu Hurairah ra, Pada suatu hari Jumat, Rasulullah SAW bersabda : Wahai segenap muslimin, hari ini Allah telah menjadikannya sebagai hari raya untuk kalian, maka hendaklah kalian mandi dan bersiwak " (HR Thobroni dalam Al-Ausat Al-Kabir)

Sungguh terasa aneh jika pada hari raya tidak ada kebahagiaan khusus. Tidak pula sambutan khusus. Sementara Allah SWT Rabb yang Maha Agung justru menempatkannya sebagai hari yang agung. Lalu mengapa kita yang lemah ini terlampau lugu hingga membiarkannya berlalu ? Dari Abu Lubanah Al-Badri ra, Rasulullah SAW bersabda : " Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia paling agung di sisi Allah, lebih agung di sisi Allah dari hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha " ( HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Akhirnya, kita sudah mengumpulkan banyak alasan untuk memperlakukan hari Jumat secara khusus sebagai hari raya kita. Setidak-tidaknya, mari membiasakan diri menyambut fajar hari raya pekanan kita dengan sebuah doa khusus yang terlantun dari hati yang paling tulus :

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Barang siapa mengucapkan di pagi hari Jumat sebelum sembahyang shubuh : Astaghfirullah alladzi laa ila ha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaihi sebanyak tiga kali, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih laut. ( HR Ibnu Sunni dalam Al-Adzkaar Nawawi )

Kesamaan Hari Raya Jumat dengan Idul Fitri dan Idul Adha

Adalah merupakan hikmah, rahasia sekaligus keunikan tersendiri bagi hari Jumat. Ketika Allah dan Rasul-Nya menyebut hari Jumat sebagai hari raya, ternyata disana memang ada serangkaian tipikal kesamaan antara hari Jumat dengan hari raya yang lainnya ( Idul Adha & Idul Fitri), diantaranya adalah :

a. Sama-sama diawali dengan puasa pada hari sebelumnya.

Jika hari raya Idul Fitri ada puasa wajib Romadhon sebagai pendahuluannya, kemudian Idul Adha ada puasa sunnah 9 Dzulhijjah (yaitu puasa Arafat bagi yang tidak haji). Sementara untuk hari Jumat, telah kita mengenal puasa sunnah Senin- Kamis. Subhanallah.

b. Sama-sama dilarang puasa pada hari tersebut.

Kita tahu bahwa dalam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha kita diharamkan untuk berpuasa, karena memang hari tersebut adalah hari untuk mengoptimalkan rasa bahagia dan syukur kepada Ilahi. Bukan hari untuk berlapar-lapar dan menderita secara sengaja. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang hari raya : Itu adalah hari-hari (untuk) makan dan minum. (Fiqh Sunnah : I/598) Maka demikian pula pada hari Jumat, dimakruhkan mengkhususkannya untuk berpuasa (tanpa berpuasa sebelum atau sesudahnya), kecuali mereka yang terbiasa dengan puasa sunnah ( Daud ) atau bertepatan dengan puasa-puasa sunnah tertentu seperti : puasa Arafat 9 Dzulhijjah dan Asyuro 10 Muharrom. (Lihat Fiqh Sunnah I/474).

Dan hebatnya, tentang kesamaan tipikal yang ini pun telah dilegitimasi oleh Rasulullah SAW dengan haditsnya : Dari Amir al-Asy'ari, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya hari Jumat adalah hari raya kalian, maka janganlah kalian berpuasa (pada hari itu) kecuali jika kalian berpuasa sebelumnya atau sesudahnya ". ( HR Al-Barroz dengan sanad Hasan)

c. Sama-sama ada Sholat 2 rekaat dan Khutbahnya.
Ini bukan rahasia lagi, namun kadang kita tidak menyadarinya. Bukankah kebanyakan kita selalu menganggap bahwa inti dari hari raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah sholat Ied bersama di lapangan atau di masjid ? Hingga kita pun mempersiapkan sedemikian rupa untuk menghadirinya bersama keluarga kita ?. Lalu setelahnya kita mendengarkan khutbah penuh kekhusyukan. Subhanallah. Maka demikian pula dengan hari Jumat, acara intinya adalah dengan sholat Jumat 2 rekaat yang sebelumnya didahului khutbah. Alangkah sayangnya mereka yang menganggapnya sebagaimana shalat dhuhur di hari-hari yang lainnya.

d. Sama-sama ada anjuran untuk memakai pakaian yang paling bagus dan minyak wangi.
Tentang anjuran hal ini pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dari Al-Hasan As-Sabt ra, ia berkata : Rasulullah SAW memerintahkan pada dua hari raya, agar kami memakai pakaian yang terbaik yang kami punya, dan memakai wewangian yang terbaik yang kami punya, dan juga untuk berkurban dengan harga paling tinggi yang kami mampu" (HR Ibnu Hakim)

Sementara untuk hari Jumat, ada beberapa hadits yang menganjurkan hal yang sama. Diantaranya yang diriwayatkan oleh Abu Said ra, Rasulullah SAW bersabda : Hendaklah kalian mandi pada hari Jumat, lalu memakai pakaiannya yang paling baik, dan jika ia punya wewangian maka hendaklah memakainya " ( HR Ahmad, Bukhori dan Muslim )

Lebih khusus lagi, bahkan teladan kita Rasulullah SAW pun memiliki baju istimewa yang spesial dipakai pada setiap hari raya dan hari Jumat.

e. Sama-sama dijanjikan terbebas dari dosa pada hari itu.
Sebenarnya apa sih yang membuat kita merasa paling bahagia saat hari raya ? Apakah pakaian baru, makanan yang terhidang begitu lengkapnya, atau berkumpulnya semua keluarga ? Saya yakin itu adalah beberapa hal penguat saja. Ada hal lain yang membuat kita layak untuk bergembira pada hari itu : dibersihkannya dosa-dosa kita. Untuk hari Raya Idul Fitri dan Hari Jumat, hadits di bawah ini cukup bisa kita jadikan pegangan. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Sholat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan Romadhon ke Romadhon, adalah penghapus dosa antara satu dan lainnya selama dijauhi dosa-dosa besar. (HR Muslim dan lainnya) Subhanallah. Sementara untuk hari raya Idul Adha, juga dijanjikan hal yang sama – dengan syarat kita berpuasa sehari sebelumnya (hari Arafah). Dari Abu Qotadah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Puasa hari Arafah, menghapus dosa selama dua tahun, setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya " ( HR Jama'ah kecuali Bukhori dan Tirmidzi).

Nah, tunggu apa lagi ? Selamat berhari raya sepekan sekali. Semoga selalu indah dan berkah !

Antara Cinta & Virus Merah Jambu

Rabu, 21 Oktober 2009

Tanpa bermaksud memperbesar masalah, saya kembali menuliskan seputar Virus Merah Jambu dalam note sederhana ini. Betapapun, permasalahan ini cukup berkembang di tengah aktifitas dakwah : dimana saja, kapan saja, dan bahkan bisa menyerang siapa saja.
Hasrat hati sebenarnya ingin mengingkari, tidak ingin membahas VMJ agar tidak menjadi ‘negative brand’ aktifitas dakwah yang mulia, agar tidak terngiang-ngiang di telinga para aktifisnya hingga menginspirasi yang belum ternodai. Tapi realita di lapangan menuntut untuk kembali bicara.

Bukan satu dua, tapi banyak jumlahnya yang mendatangi saya : baik secara langsung, maupun via sms dan email untuk curhat seputar Virus Merah Jambu tersebut. Sebagian mereka terkena telak menghujam, hingga susah untuk menghindar dan menjauhi. Sebagian masih terjaga penuh malu-malu, berharap ada solusi yang mengamini kecenderungan hatinya. Sungguh kita dan mereka itu sama, tak lebih dari sekedar manusia yang berhati dan mempunyai rasa.

Dari berbagai permasalahan seputar VMJ yang saya dapati, setidaknya ada dua fenomena yang masing-masing harus disikapi dengan bijak dan elegan.

Pertama : Virus Merah Jambu yang Full version !

Yaitu ketika aktifis dakwak terjebak dalam cinta lokasi. Berawal dari kekaguman yang diikuti dengan pola interaksi yang berkelanjutan baik sms, telpon, imel bahkan facebook sekalipun. Mengatasnamakan aktifitas dakwah dan koordinasi untuk menutupi kegelisahan di hati. Selalu berharap menemukan momentum untuk bertemu, beraktifitas bersama, bahkan berinteraksi secara pribadi. Agenda dakwah tidak lagi menjadi hal utama. Dakwah dan aktifitasnya menjadi ‘tumpangan’ yang enak untuk bisa terus menghubungi tambatan hati. Ia merajut hari dengan harapan segera keluar dari kungkungan virus ini, berharap ada malaikat penyelamat yang akan menikahkan mereka dengan mudah dan berkah. Tujuannya begitu mulia, menikah secepat mungkin agar hati menemukan ketentramannya. Tanpa melihat kesiapan diri sama sekali, dimana kuliah belum usai, biaya hidup pun masih menunggu kiriman orang tua tercinta. Inilah versi sesungguhnya dari virus merah jambu. Ia adalah obsesi dan gelora jiwa di usia muda, tak lebih dari sekedar ‘cinta monyet’ yang akan mengganggu konsentrasi kuliah dan dakwahnya.

Kepada mereka yang terkena pada tahapan ini, segeralah beristighfar dan menyibukkan dari dengan aktifitas kuliah dan dakwah. Kali ini dengan benar2 menjaga hati. Kepada para murobbi yang menangani kasus semacam ini : segera saja diarahkan untuk mengoptimalkan kesibukan dakwah, berikan tausiyah tentang bahaya virus merah jambu dalam menggerogoti dakwah ini. Maaf, tidak perlu kata ampun bahkan toleransi dalam tahapan ini.

Kali ini saya harus benar-benar tidak membuka peluang lebih lanjut, karena betapa banyak dakwah ternodai, orangtua cemas, kuliah tak berujung karena kita mencoba mencari solusi VMJ dalam tahapan ini.
Saya katakan sekali lagi : virus ini tidak ada hubungannya dengan pernikahan dini, ia tidak lebih dari ‘cinta monyet’ para aktifis dakwah yang harus segera dilawan dengan kesibukan dan kesadaran akan pentingnya masa depan !

Kedua : Kecenderungan dan Cinta yang Tumbuh di Hati

Yang ini adalah kecendungan pada seseorang dan cinta yang tumbuh di hati. Nyaris tanpa ekspressi apalagi interaksi. Ia hanya mengagumi tanpa mengeksplorasi lebih jauh objek kekagumannya. Ia bagaikan pungguk merindukan bulan, lalu enggan memikirkan hal tersebut lebih jauh dalam hari-hari dakwahnya. Ia menyimpan begitu dalam rasa itu, bahkan terkadang tidak menyadarinya. Ia mempunyai kesibukan dan agenda yang jelas menuju masa depannya.

Lalu tiba-tiba ia merasa siap untuk menikah. Perkuliahan yang dijalani tinggal satu dua bulan lagi atau mungkin telah lama ia pungkasi. Persiapan menuju pernikahanpun lebih tertata dan teruji. Orangtuanya pun tak merasa dilangkahi, mereka benar2 menyadari kedewasaan dan kesiapan sang buah hati dalam membina bahteranya sendiri. Lalu dengan siapa ia akan menikah ? Maka ia teringat kembali pada sosok yang pernah dikagumi, atau membuatnya simpati, atau membuatnya tertarik secara manusiawi begitu saja. Apakah ini cinta yang sudah tumbuh di hati ? Sungguh ia ingin berontak, karena selama ini ia mengingkari kecenderungan itu. Ia terbukti bisa menenggelamkan dan melawannya bahkan tanpa bekas dalam kehidupannya sehari-hari. Lalu mengapa rasa itu kembali muncul mengganggu lintasan pikirannya.

Rasa bingung segera menyergap pikirannya ? Apakah ia harus mengatakan yang sejujurnya pada sang Murobbi ? bahwa ada kecenderungan pada seseorang yang sudah tumbuh di hati ? Ataukah ia kembali menenggelamkannya sebagaimana hari-hari sebelumnya, lalu berusaha menumbuhkan rasa baru entah kepada siapa nantinya ?

Lantas, Bagaimana sikap Anda jika anda adalah para Murobbi ?

Jika suatu hari nanti kita mendapati kasus yang serupa dengan yang tertulis di atas. Kecenderungan di hati yang tumbuh pada diri seorang aktifis nyaris tanpa ekspressi apalagi interaksi yg berlebihan. Maka sungguh pilihan Anda cukup sederhana : jadilah seorang yang memudahkan pertemuan dua hati yang telah mempunyai kecenderungan itu. Jadilah ‘ustadz cinta’ yang mengelola kecenderungan menjadi tahapan dan langkah yang tertata menuju sebuah pernikahan. Semoga Anda termasuk mereka yang diberkahi karena membantu pernikahan karena ingin menjaga hati : Dari Abu Hurairah ra , Rasulullah SAW bersabda : “ Ada tiga orang yang wajib bagi Allah menolongnya : orang yang berjihad di jalan Allah, budak ‘Mukatib’ yang ingin membayar pembebasannya, dan seorang yang ingin menikah untuk menjaga dirinya “ (HR Tirmidzi)

Namun setidaknya ada tiga hal yang bisa menjadi pertimbangan kita, sebelum melangkah lebih lanjut dalam proses ini :
1- Pastikan dengan pertimbangan syar’I : bahwa seseorang yang diinginkannya bukan termasuk mahrom atau musyrik .
2- Pastikan dengan pertimbangan da’awi : bahkan seseorang yang diinginkannya tidak akan menghambat dakwahnya, justru malah mendukung dan menambah semangatnya dalam berdakwah.
3- Pastikan bahwa tidak ada pola interaksi yang salah sebelumnya. Tidak ada hubungan ‘backstreet’ yang telah lama dipupuk dan menyemaikan cinta lebih luas lagi hatinya.

Jika ada yang bertanya, apakah yang semacam itu ( menikah dengan cinta dan ketertarikan hati) adalah syar’I ? maka biarkan saya menjawabnya cukup dengan dua hadist yang sederhana.

Pertama : Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seseorang di antara kalian ingin meminang seorang wanita, jika ia bisa melihat apa-apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah!”( HR Ahmad dan Abu Daud), dalam riwayat lain : “Lihatlah wanita tersebut, sebab hal itu lebih patut untuk melanggengkan (cinta kasih) antara kalian berdua (HR Tirmidzi dan Nasa'i)

Jika kita lihat secara lebih mendalam, maka hadits tersebut bukan saja ‘sekedar’ berisi kebolehan nadzhor atau melihat calon pasangan yang akan dikhitbah, tetapi juga memuat isyarat tentang boleh dan wajarnya sebuah “kecenderungan, dorongan dan ketertarikan” sebelum melangkah dalam pernikahan.

Kedua : Lebih spesifik lagi, Rasulullah saw bersabda : “ Tidak pernah terlihat (lebih menakjubkan) bagi dua orang yang saling mencintai seperti pernikahan “ HR Ibnu Majah (1847) dan Ibnu Abi Syaibah (III/454)
Dalam Kitab Al-Luma’ fi asbabil wurud hadits , diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah tentang sebab wurudnya hadits di atas : Datang seorang laki-laki pada Rasulullah SAW dan berkata : Ya Rasulullah, kami mempunyai seorang anak gadis yatim yang dikhitbah oleh dua orang, yang satu miskin dan yang satu adalah orang kaya. Dia (anak gadis kami) cenderung (cinta) pada yang miskin, sementara kami lebih menyukai pada yang kaya. Maka Rasulullah bersabda dg hadits diatas : “ Tidak pernah terlihat (lebih menakjubkan) bagi dua orang yang saling mencintai seperti pernikahan “

Wallahu a’lam bisshowab. Semoga tulisan ini tidak menjadi hujjah bagi mereka yang lemah dalam menjaga hati dan pandangan, tidak pula menjadi legitimasi bagi mereka yang terkotori hatinya dan ternodai dakwahnya dengan virus merah jambu.

Apapun yang kita alami, dalam dakwah ini kita tidak pernah sendiri. Segera hubungi murobbi untuk berkonsultasi, agar lebih terjaga diri dan tertata langkah dalam memperbaiki diri. Semua ini kami tulus untuk menjaga kualitas aktifis dakwah, agar semakin dekat kemuliaan dakwah dan kejayaan Islam yang dinanti-nanti. Saya tutup dengan ungkapan Abdullah bin Mas’ud : Cinta itu dari Allah dan kebencian itu dari syaitan, yang bermaksud memasukkan rasa benci dalam hatimu, terhadap apa yang dihalalkan Allah bagimu ( HR Abdurrozaq (VI/191) dinukil pula oleh Albani dalam Adab Zifaf)

Menitipkan Indonesia hanya pada mereka yang Optimis *

Selasa, 20 Oktober 2009

Tahun berganti dan kita harus tetap optimis. Di Indonesia masih teramat banyak orang baik. Meskipun setiap hari pemberitaan di media massa yang ada adalah korupsi, kolusi, pembunuhan, pemerkosaan, dan pesta narkoba, percayalah bahwa masih banyak orang baik dan bersahaja di negri kita. Mari kita lihat sejenak, dalam sebuah bus kota yang melenggang di teriknya panas ibukota. Memang ada satu, dua atau tiga yang berprofesi copet. Sementara yang lainnya adalah orang-orang biasa yang sibuk dengan urusannya masing-masing.Tapi tunggu dan perhatikanlah barang sejenak. Bukankah ada satu dua orang baik yang memberikan tempat duduknya pada kaum wanita dan mereka yang berusia renta. Sementara peluh mereka keluar bercucuran tapi hati terasa begitu lapang. Ternyata Indonesia kita memang masih menyimpan banyak orang baik.

Saat segerombolan wakil rakyat ingin meningkatkan prestasinya dengan studi banding ke luar negri (Belanda -silaturahmi ke mantan penjajah, dan Mesir-ziaroh ke makam firaun), ada saja satu aleg yang menolak ikut berangkat karena ada harga psikologis yang tak terbayarkan saat melihat kondisi rakyat yang kelaparan penuh derita. Cerita lain, saat para pejabat negara ingin menunaikan sunnah Nabi ‘kendaraan yang nyaman’ dengan berlomba-lomba membeli Jaguar dan sejenisnya seharga milyaran, ada saja satu dua wakil rakyat dan hakim agung yang dengan ‘angkuh’nya mengendarai ‘kuda beroda dua’ menuju tempat kerjanya sehari-hari. Hingga menuai salah paham antara mereka dengan petugas keamanan di Senayan.

Bahkan saat bencana tiba, dari Aceh, Nias, hingga yang terbaru di Jember dan Banjarnegara. Saat semua masih hanyut dalam kedukaan dan tangis yang mendayu-dayu. Saat semua mata masih asyik mengikuti perkembangan berita dari televisi detik demi detik. Ada saja tangan-tangan kokoh dan kaki-kaki yang melangkah tegap berjibaku dengan tanah, lumpur, darah, dan mayat sekalipun. Menyelamatkan seuntai jiwa yang tersisa. Tak kenal menyerah dan putus asa, meski banyak komentar dan cemoohan yang meragukan niat dan ketulusan mereka. Saat seorang tokoh nasional menyatakan dengan sinis di televisi, “ Ada partai politik yang berkampanye di tengah bencana ! “. Maka mereka menjawab dengan raut muka yang tak berubah, “ Mohon jangan ganggu, kami sedang bekerja ! “. Tegas, jujur dan peduli. Demikian slogan nurani yang terdengar jelas dari sikap orang-orang baik itu.

Masih teramat banyak orang baik di Indonesia. Orang baik itu akan terus menjadi baik selama mereka optimis bahwa kebaikan mereka akan berbuah suatu ketika nanti. Mereka senantiasa mencari alasan untuk optimis, ditengah semua kerusakan yang melanda bangsa ini. Bahwa suatu saat nanti, akan ada perubahan yang baik bagi bangsa Indonesia tercinta ini. Demikian pula kita bangsa Indonesia, harus belajar memupuk rasa optimis dalam memperbaiki nasib bangsa ini. Kita harus selalu optimis dan mencari-cari momentum untuk memperluas wilayah optimis dalam ruang pikiran kita.

Peringatan Hijrah Nabi Muhammad Saw adalah salah satu momentum yang tepat untuk belajar lebih benar tentang sikap optimis. Optimis bahwa bangsa ini bisa berubah dari kegelapan menuju cahaya kemajuan. Sebagaimana umat muslim di Mekkah yang tertindas, ketidakstabilan, dan mengalami embargo ekonomi sepanajang tiga tahun dari masyarakat sekelilingnya, kemudian berubah menjadi negara potensial Madinah , yang akhirnya menguasai lebih dari dua pertiga belahan bumi, hanya dalam hitungan dasawarsa.

Bangsa kita sedang mengalami keadaan yang menjadikan banyak rakyatnya ‘terpaksa’ menjadi pesimis. Bayangkan saja, korupsi yang begitu akut tak terobati ditambah keadilan hukum yang begitu taat pada kepentingan politik.. Siapapun akan kecewa dan pesimis saat mendapati terdakwa korupsi lepas bebas bertebaran ke ujung dunia, sementara ada maling kelas teri yang jasadnya teronggok membusuk di selokan. Mati kedinginan dan tenggelam karena menghindari kejaran massa yang tak mengenal ampun lagi.

Optimis adalah pesan singkat yang terus berulang saat kita ingin memaknai hijrah Nabi saw. Keadaan yang begitu berat penuh penyiksaan di Mekkah tidak mematikan semangat beliau saw dalam membangun kejayaan masyarakat muslim. Maka muncullah sebuah perintah hijrah untuk seluruh kaum muslimin tanpa kecuali. Sungguh salah jika ada anggapan ini adalah tindakan putus asa atau melarikan diri dari medan perjuangan. Namun justru sebaliknya, hijrah adalah puncak optimisme dari kaum muslimin waktu itu. Berbondong-bondong meninggalkan tanah kelahiran, harta, bahkan sanak keluarga demi sebuah episode perjuangan baru. Melakukan perjalanan jauh yang untuk ukuran masa kini dengan mobil ber-AC pun cukup melelahkan. Apakah proyek hijrah yang penuh pengorbanan seperti ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang pesimis ? Jawabnya mustahil.

Optimis yang ditunjukkan dalam peristiwa hijrah bukan milik pribadi Rasulullah semata, melainkan adalah rasa yang melekat dalam sanubari semua penduduk muslim pada waktu itu. Baik yang muda, tua, wanita, anak-anak, bahkan mereka yang telah seattle baik secara ekonomi, politik dan sosial juga ikut berangkat. Sejarah mencatat gelombang hijrah yang berturut-turut dari Mekkah menuju Madinah, hingga terakhir kaum mustadh’afin (golongan lemah yang terhalangi fisik dan keadaannya untuk hijrah) pun dijemput melalui operasi khusus hingga tiba berkumpul semua di Madinah. Optimisme dalam melangkah menuju kebaikan memang harus berlaku bagi semua, bukan segolongan orang saja. Begitupun yang terjadi pada bangsa kita. Keinginan untuk mengupayakan kebaikan, berhijrah, juga harus muncul dan bergerak dari setiap nurani. Rakyat, juga pemerintah. PNS, polisi, hakim, politisi, juga mereka yang di jalan dan pasar-pasar. Para koruptor, baik tingkatan tender proyek nasional hingga calo paspor atau KTP harus sama-sama jera dan menghijrahkan diri bersama-sama memperbaiki bangsa.

Akhirnya, momentum hijrah ini bagaikan bunyi alarm yang begitu nyaring terdengar. Terserah pada kita, apakah kita akan bangkit tersadar dari tidur panjang ini dan memupuk rasa optimis untuk membangun bangsa ini? Atau hanya sekedar bangkit dan mematikan alarm, lalu kembali terbuai mimpi ? Kita semua tidak ingin bangsa Indonesia hanya menjadi bangsa pemimpi. Memang haruslah ada yang berubah. Harus ada yang berhijrah. Minimal hijrah dari rasa pesimis menuju optimis. Dari mental pecundang menjadi mental pemenang. Maka, esok hari bangunlah pagi-pagi. Lalu bertanyalah pada diri kita masing-masing ; sudahkah rasa optimis membangun Indonesia itu tumbuh melekat di benak kita masing-masiang ?. Jika tidak, maka silahkan undur diri dan tidur kembali. Jangan berharap kekuasaan dan jabatan apapun. Apalagi merebutnya dengan cara yang curang. Mundur saja, lalu dengan lapang dada kita akan titipkan Indonesia kita ini, hanya pada mereka yang optimis.

*tulisan yang saya tulis sekitar lima tahun yang lampau (2004) di negeri dua nil : Sudan.