4 Jun 2009

Canda Tawa Romantis

Rasulullah SAW bersabda : “ Segala sesuatu selain dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan kecuali terhadap empat hal : Yaitu seorang suami yang mencandai isterinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (memanah) dan seorang yang berlatih renang ( HR An- Nasai )
Subhanallah. Hadits di atas memberikan legitimasi secara penuh tentang bolehnya bercanda dengan pasangan kita. Ia bukanlah permainan sia-sia yang akan dengan mudah menghabiskan waktu kita. Bercanda secara umum mampu mengurangi kepenatan fikiran kita, apalagi jika bercanda dan bermain-main dengan istri ? Insya Allah bukan sekedar mengurangi, namun justru memberi energi dan semangat baru dalam menjalani aktifitas kita selanjutnya. Bahkan jauh-jauh hari Rasulullah SAW telah merekomendasikan untuk memilih istri yang perawan agar lebih fleksibel dan elegan ketika bermain dan bercanda bersama. Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda : Mengapa tidak seorang perawan (yang engkau kawini) ? sehingga engkau bisa bermain dengannya dan ia juga bisa bermain denganmu. (HR Bukhori 5367 dan Muslim)

Bercanda dan bermain bersama pasangan akan menghasilkan senyum manja dan tawa yang riang. Dua hal ini sangat kita butuhkan untuk menghias hari-hari kita serta menjadikan hidup lebih bersemangat. Kita bisa bayangkan rumah yang lampu penerangannya redup dengan rumah yang terang, pasti akan mempengaruhi semangat hidup penghuninya. Maka, senyum dan sedikit tawa riang benar-benar menjadi sebuah kebutuhan bagi umumnya manusia. Lebih jauh lagi, Dr. Yusuf Qaradhawi mengatakan dalam Fatwa Kontomporer 1 Tertawa adalah ciri khas manusia yang membedakannya dengan binatang !

Nah saatnya mengintip rumah tangga kenabian dengan segenap program romantisnya. Beberapa riwayat menangkap secara utuh sebagian candaan Rasulullah SAW bersama para istri-istrinya. Seperti biasa, kami paparkan utuh untuk menjadi inspirasi tersendiri bagi Anda dan pasangan.

a. Mengoleskan makanan di wajah
Dari Aisyah ra, ia berkata : Rasulullah berada di tempatku bersama Saudah, lalu aku membuat jenang. Aku bawa (jenang itu) kepada beliau, kemudian aku berkata pada Saudah : Makanlah ! Akan tetapi, ia menjawab : Saya tidak menyukainya. Aku pun berkata : Demi Allah, kamu makan atau aku oleskan ke wajahmu ? Ia berkata : Saya tidak berselera memakannya (Kata Aisyah) : Lalu aku ambil sedikit, kemudian aku oleskan ke wajahnya, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika itu duduk di tengah-tengah antara aku dan dia. Kemudian beliau merintangi dengan lututnya supaya dia dapat membalasku, lalu ia mengambil jenang dari piring tersebut, kemudian dia (saudah) membalas mengoleskannya kepadaku dan Rasulullah tertawa . (HR Ibnu Najjar)
b. Sering bercanda dengan Saudah
Dari Ibnu Suad, beliau meriwayatkan Saudah berkata pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam : Tadi malam aku mengerjakan shalat dibelakangmu, kemudian engkau ruku’ denganku hingga aku menahan hidungku karena khawatir darah mengucur. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pun tertawa. Dalam berbagai kesempatan, Saudah membuat Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tertawa dengan sesuatu.} ( Ath-Thobaqot VIII/5 dan Al-Ishobah VII/721)
c. Bermain Kuda-kudaan dan Boneka bersama
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya kepada Aisyah : Apa ini ? Aisyah menjawab : Anak-anak perempuan (boneka perempuan) ku. Beliau bertanya lagi : Apakah yang ditengah ini ? Aisyah menjawab : Kuda. Beliau bertanya lagi : Dan apa yang ada di atasnya ini ? Aisyah menjawab : Itu dua sayapnya. Beliau bertanya lagi : Kuda yang mempunyai dua sayap ? Aisyah menjawab dengan nada tanya : Apakah engkau tidak mendengar bahwa Sulaiman bin Dawud mempunyai kuda yang memiliki beberapa sayap ? Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tertawa hingga tampak gigi serinya. ( HR Abu Dawud)
Ada batasan dalam canda-canda kita

Terakhir meskipun ada legalitas untuk bermain dan bercanda bersama pasangan, tetap saja di sana ada serangkaian aturan yang harus di taati. Agar candaan kita menjadi berkah saat tetap berada di jalurnya. Yang paling utama, pastikan tidak ada dusta dalam candaan kita. Tidak ada cerita bualan yang hanya untuk memuaskan tawa kita. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, bahwa sekelompok orang bertanya pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam : Ya Rasulullah sesungguhnya engkau juga bercanda kepada kami “ Beliau bersabda : Tapi saya tidak mengatakan kecuali benar. ( HR Tirmidzi ) Hadits lain yang menegaskan tentang hal ini adalah, Rasulullah SAW bersabda : Celakalah orang yang mengada-adakan sebuah cerita agar orang lain tertawa, sementara dia berdusta. Celakalah ia.. celakalah ia ( HR Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’I dan Baihaqi )

Selanjutnya, ketika bercanda dengan pasangan kita, jangan mudah untuk menyebut kata cerai, meski hanya sekedar bercanda. Dalam pandangan syariat itu bisa berarti sangat serius konsekuensinya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : “ Tiga hal yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh maka berguraunya pun dinilai sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh, yaitu ; nikah, talak, dan rujuk “ ( HR Abu Dawud (1920))

3 komentar:

  1. blm bisa koment apapun...cmn sekedar membaca dan melihat...boleh dunk.....

    BalasHapus
  2. terima kasih atas tulisannya..semoga bisa bermanffaat bagi siapapun

    BalasHapus
  3. Makasih sekali dengan tulisan benar benar mengetahui hal ini

    BalasHapus