DOWNLOAD

More on this category »

AKTIFITAS

More on this category »

TERBARU

Hadiah Resensi dari seorang Sahabat

Senin, 28 Desember 2009

Alhamdulillah, pekan ini mendapat sedikit angin segar, Seorang yang terkesan dengan buku saya Muhammad SAW the Inspiring Romance, berkenan menuliskan sebuah resensi sederhana dalam bentuk  note di jejaring pertemanan dunia maya : facebook. Sengaja kami pindahkan di sini, agar sahabat blogger optimis lainnya bisa ikut sedikit mengintip salah satu buku yang sudah saya tulis. Harapannya, itung-itung sekalian promosi. Selamat menyimak dan semoga terkesan untuk memfollow up dengan membeli. Salam optimis !

Sedikit Oleh-Oleh Habis Baca Buku “The Inspiring Romance”

oleh : Mochamad Husni

Romantisme biasanya lekat dengan Barat dan modern. Ambil contoh Paris. Ibukota Perancis ini dikenal sebagai kota cinta dan kota paling romantis di dunia. Valentine, Romeo and Juliet, seluruhnya tidak identik dengan Timur, apalagi Islam. Jarang, bahkan mungkin terasa amat mengherankan ketika disebutkan bahwa dunia Islam juga menorehkan sejarah dan romantisme yang sangat hebat.

Maka, ketika ada sebuah buku yang mengulas hadits-hadits sahih bukti romantisme nabi, sejatinya buku itu akan sangat menarik perhatian. Malah, kehadirannya sungguh dibutuhkan saat ini. Paling tidak, di samping menjadi referensi yang Islami, para pembacanya dapat menemukan trik-trik untuk menghindarkan diri serta melindungi keluarganya dari ancaman kehancuran rumah tangga yang datangnya tak disangka-sangka. Bukan apa-apa, sekuat-kuatnya godaan dari luar, yang jauh lebih penting sebagai benteng pertahanan rumah tangga adalah harmoni suami istri. Salah satunya: dengan romantisme yang tak pernah padam.

Sungguh, rasa cinta itu memang perlu terus dibakar agar tetap menyala dan menghangatkan rumah tangga. Di sinilah arti penting buku ”Muhammad SAW, The Inspiring Romance” yang ditulis Hatta Syamsuddin Lc. Simak saja beberapa ide dari total 40 inspirasi yang dilengkapi hadits-hadits dan kisah yang kabarnya terkumpul secara tak sengaja karena didorong keingintahuan sarjana lulusan fakultas syariah Universitas International Afrika ini menemukan jejak-jejak romantisme ala rosululloh.

Beberapa diantaranya: “Cucilah pakaianmu wahai para lelaki, ambillah (cukurlah) sebagian rambutmu, bersiwaklah kamu, berhiaslah dan bersucilah, karena Bani Israil tidak melakukan ini padahal istri-istri mereka berhias”. Hadits yang diriwayatkan HR Ibnu Sakir ini mengajarkan para suami untuk menjaga penampilan, baik pakaian, rambut, kumis, jenggot dsb. Jangan acuh, karena tampilan inilah yang ditatap oleh mata pasangan Anda. Meski sederhana, ia bisa menggetarkan.

Atau juga hadits berikut ini. Dari Miqdad bin Ma’ad ra, Rosululloh SAW mengajarkan, ”Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahu kepadanya bahwa ia mencintainya. (HR Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad. Hadits ini mengingatkan kita untuk tak pernah bosan mengungkapkan kata cinta. Meskipun cinta bukan sekadar kata, namun ia tetaplah membutuhkan sebuah pengakuan.

Banyak lagi contoh lain yang telah nabi praktekkan dalam membuat hati istri beliau tergetar dan merasakan cinta yang tak pernah dingin. Ada kisah yang mencontohkan betapa perlunya sesekali makan bersama dalam satu piring. Ada juga inspirasi dari satu hadits berikut yang sudah cukup populer disebutkan dalam kisah-kisah percintaan nabi. ”Adalah aku pernah mandi bersama Rosululloh dari satu bejana antara aku dan beliau...” Hadits yang diriwayatkan Aisyah ra ini juga mencontohkan bahwa mandi bareng bisa memicu kehangatan ikatan suami istri.

Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang dipaparkan. Efek psikologis penulis yang masih relatif muda menjadi kekuatan tersendiri buku setebal 304 halaman terbitan Indiva Media Kreasi tahun 2007 ini. Inspirasinya sangat kontemporer dan gaul. Cocok dijadikan referensi oleh setiap pasangan yang baru menikah. Jurusnya tak butuh modal besar. Rasanya, unsur kemahasiswaan saat buku ini diselesaikan membuat penulisnya justru kreatif menggali ide serta mengadaptasi praktek yang pernah diterapkan nabi. Maka, tertulislah ide-ide cerdas nan produktif semisal, diskusi dan sharing buku bacaan, saling mengajarkan dan bertukar keterampilan, merangkai puisi dan untaian kata mesra, dll.

Yang tidak kalah menarik, bukan hanya kreatifitas dalam menghangatkan rumah tangga. Sebagai sebuah buku dakwah, penulis mengarahkan pembacanya untuk meletakkan cinta keluarga di tempat yang sepantasnya. Untuk ini hadits yang cukup mewakili berbunyi, ”Sesungguhnya cinta mulia berasal dari iman”. Karena itu, pekerjaan berat dan indah dalam seluruh aktivitas cinta keluarga haruslah berpengaruh pada peningkatan keimanan si pencinta.

Kalaulah ingin disebutkan kekurangan, sayangnya buku ini tidak memberi perhatian khusus pada isu seputar poligami. Padahal, tiap kali masalah rumah tangga dikaitkan dengan dunia Islam, tudingan miring yang dilandasi kecurigaan atas kecurangan dan ketidakseimbangan posisi laki-laki terhadap perempuan selalu muncul. Apalagi, istri-istri nabi juga menghadapi kendala-kendala emosional seperti cemburu dan semacamnya. Pertanyaannya, bukan sekadar bagaimana hadits-hadits nabi mencontohkan management cinta pada beberapa pasangan, tetapi juga bagaimana agar para lelaki tidak asal mengutip ”sunnah rosul” untuk membenarkan poligami yang mereka lakukan.

Note: Pro Ustadz Hatta,
afwan ya akh... resensi kecil2annya baru sempat saya ketik. Semoga bukunya makin banyak dibaca dan terus berkarya lagi.Syukron

sumber MOCHAMMAD HUSNI on FB

Dari Hina menjadi Mulia !

Jumat, 25 Desember 2009


Seorang budak muslim keturunan Persia hidup di masa Rasulullah SAW, mengabdi pada keluarga Abu Hudzaifah.  Perbudakan pada masa itu adalah warisan sistem jahiliyah yang begitu mendarah daging dalam kehidupan masyarakatnya. Manusia yang sejatinya mulia tiba-tiba teronggok seolah-olah menjadi barang dagangan yang bisa dijual kapan saja sesuka hati. Tak ada kemuliaan yang tersisa.

Budak itu bernama Salim, dikemudian hari ia dimerdekakan oleh Abu Hudzaifah sehingga sering dikenal dengan Salim maula abi hudzaifah. Setelah merdeka, ia tidak puas begitu saja. Salim segera membenahi kekurangannya selama ini, maka ia segera mempelajari Al-Quran, membaguskan bacaannya dan memperbanyak hafalannya.

Kesungguhan Salim mencari ilmu segera berbuah. Dulu ia adalah budak yang benar-benar diremehkan harga dirinya. Ilmunya tentang Al-Quran telah memuliakan dirinya. Sebelum Rasulullah SAW sampai di Madinah pada peristiwa hijrah, Salim menjadi imam dari para sahabat di Masjid Quba. Hal ini karena ia mempunyai hafalan Al-Quran yang lebih banyak dari yang lainnya, bahkan dari seorang Umar bin Khotob sekalipun. Lebih dari itu, Rasulullah SAW pun memerintahkan para sahabat untuk mengambil bacaan al-Quran dari 4 orang, salah satunya adalah Salim maula Abu Hudzaifah.

Bukan itu saja, Salim yang notabene adalah mantan budak ternyata dicalonkan menjadi Khalifah oleh Umar bin Khotob ! Sebuah jabatan yang diyakini oleh semua muslim membutuhkan syarat-syarat yang berat dan mulia ! Umar bin Khotob dengan lugas mengatakan di akhir masa kepemimpinannya :  Seandainya satu dari dua orang ini masih hidup, niscaya aku akan tenang jika kekhalifahan ini diserahkan kepadanya ; mereka adalah Salim maula Abu Hudzaifah dan Abu Ubaidah Al-Jarroh !

Kemuliaan Salim berlanjut hingga akhir hayatnya di kancah jihad fi sabilillah. Adakah kematian yang lebih mulia dari syahadah ? Dalam perang Yamamah, Salim dipercayakan memegang panji kebesaran pasukan muslimin. Dalam sebuah riwayat diceritakan, saat pasukan muslim terdesak dan mulai terpecah-pecah, Salim berseru lantang : " Bukan seperti ini kita dahulu berperang bersama Rasulullah SAW! ". Serta merta  ia menggali lobang kecil dan memasukkan kedua kaki ke dalamnya agar tidak ikut berlari bersama yang lainnya. Maka kemudian ia terus berperang mempertahankan panji kaum muslimin dengan segenap tenaganya. Ketika tangan kanannya terputus akibat tebasan musuh, segera tangan kirinya menyambar panji yang hampir terjatuh menyentuh tanah. Tak lama kemudian tangan kirinya pun dibabat lawan dan segera ia memeluk panji dengan tubuhnya yang tersisa. Ia terus berperang mempertahankan panji itu hingga syahadah menjemputnya. Tubuhnya jatuh tersungkur ke bumi, namun arwahnya membumbung tinggi ke langit sana. Perjuangannya baru saja usai, berganti kebahagian sejati disisi tuhannya. Hidup mulia dan mati mulia.

Apa yang membuat sang mantan budak ini merubah kehidupannya dari kehinaan menjadi bertebar kemuliaan ? Apakah yang membuat seorang mantan budak dipercaya menjadi imam sholat di depan para sahabat yang mulia ? Bahkan Rasulullah SAW merekomendasikan namanya untuk menjadi guru Al-Quran bagi seluruh sahabat bahkan umatnya ? Apa juga yang membuat seorang Umar bin Khotob mengaguminya dan meyakini kemampuannya menjadi khalifah ?

Barangkali jawaban yang paling realistis adalah karena ilmu yang ia punya. Kemuliaan segera bersanding pada dirinya ketika ia bertekad untuk mempelajari al-Quran yang mulia, mempelajari bacaannya dan juga menghafalnya. Ilmu telah mengubah Salim sang mantan budak itu menjadi begitu mulia. Mulia melebihi sahabat lainnya para pembesar kaumnya.

Contoh di atas baru satu cerita. Saya percaya, disekitar kita banyak orang yang terangkat kemuliannya karena ilmunya. Orang miskin menjadi disegani, dihormati, karena ilmu yang diraihnya. Wong ndeso  yang senantiasa terpuruk menjadi diperhitungkan karena ilmu yang dikuasainya. Bahkan orang cacat – maaf , yang awalnya sering diremehkan, dijauhi atau justru dikasihani menjadi dihormati, disegani, bahkan ditakuti. Asy-Syaikh Dr. Sulaiman Karom, dosen sekaligus Ketua Jurusan Syariah di kampus tempat saya belajar di Sudan, adalah seorang dengan kaki yang cacat hingga mengharuskan beliau harus berjalan dari kelas ke kelas dengan tongkat penyangga. Saya yakin, semua mahasiswa pasti mengagumi dan memuliakannya. Tidak pernah terbersit dalam hati mereka untuk meremehkan, kasihan, apalagi menjauhinya. Ilmunya yang begitu luas telah memuliakannya di hadapan kami para mahasiswanya. Menghormati dan mencintainya dengan tulus tanpa pamrih apapun.
Itu semua adalah contoh di dunia, di akhirat tentu mereka jauh lebih mulia. Lebih dari yang kita kira !

Kristalisasi Keringat

Sabtu, 12 Desember 2009

Istilah di atas mungkin sering kita dengar sambil lalu dengan sedikit menyungging senyum. Karena yang menyampaikannya adalah seorang yang Tukul yang selalu mengundang tawa. Tapi sejatinya ia tidak sedang bercanda saat menyebutkan istilah ‘keramat’ di atas. Ia hanya ingin menyederhanakan sebuah usaha perjuangan yang dirintisnya selama tujuh belas tahun di Jakarta dengan ungkapan ‘kristalisasi keringat’ !.  Sebuah ungkapan yang menggambarkan sebuah kerja keras bertahun-tahun, yang dihiasi cucuran keringat dan derai air mata, akhirnya membuahkan hasil yang membuat orang segera membelalakkan mata. Dari wong ndeso kampung Purbayan, menjadi entertaint yang sukses di belantara ibu kota, tetapi masih tetap menjaga kesederhanaannya.  Bahkan acara Just Alvin di Metro Tv beberapa hari yang lalu menyebut Tukul dengan The Power of Dream.

Yang ingin saya ambil dan mengajak anda untuk merenung sejenak adalah ungkapan di atas “ kristalisasi keringat’, bukan pada sosok Tukul yang meskipun tetap sederhana dan lucu, tetapi  tetap saja penuh kontrovesi dengan jenis pekerjaannya di Bukan Empat Mata yang selalu melibatkan wanita-wanita cantik yang mengumbar aurat dan pesona.   Saya sepakat sepenuhnya dengan ungkapan sederhana di atas. Kristalisasi Keringat menyadarkan kita bahwa sebuah kesuksesan tidak pernah dicapai dengan instant, tanpa keringat apalagi bertaburan canda tawa dan foya-foya.  Hampir bisa dipastikan, sosok-sosok yang sukses hari ini adalah buah dari keringat dan kerja kerasnya pada tahun-tahun sebelumnya. Lihat saja pada deretan orang terkaya atau pengusaha ternama yang ada hari ini, apakah ada diantara mereka yang dahulu adalah seorang miskin lalu kemudian mendapatkan hadiah undian besar, kemudian mengolahnya menjadi kekayaan seperti saat ini ? Jawaban bisa dipastikan tidak. Mereka yang kaya hari ini justru tidak pernah menerima undian dan grandprize apapun dari pihak manapun. Mereka mengawali dari sebuah usaha mandiri yang penuh resiko dan tantangan. Mengalami tekanan, luka, kekalahan untuk kemudian terus melaju dan akhirnya menang.

Mereka yang sukses hari ini bisa dipastikan mempunyai sejarah prestasi dan kerja keras yang terdahulu. Tidak ada yang tiba-tiba dan sim salabim menjadi orang kaya. Semua memerlukan kristalisasi keringat untuk mengabadikan kesuksesannya. Adapun kekayaan instant, undian dan hadiah, sungguh menjebak hati orang-orang yang lemah. Tipuan yang seolah nikmat tapi sesungguhnya meruntuhkan masa depan. Betapa banyak orang gagal saat dikasih modal berlimpah, betapa banyak yang sempat menjadi OKB (orang kaya baru ) karena mendapat undian hadiah, lalu kemudian terlempar keluar dari impiannya, kembali menjalani kehidupan miskinnya ?

Saya teringat sebuah reality show mancanegara yang diorganisir oleh manajemen Oprah Winfrey. Mereka memberikan uang sebesar  US $100.000 kepada beberapa gelandangan di jalanan, lalu mengawasi kehidupannya dari jauh -tanpa mengintervensi- untuk mengetahui apa yang mereka gunakan dengan dana sebesar itu.  Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang hampir-hampir seragam. Mereka akan segera melunasi hutang, membeli mobil bahkan rumah, lalu pergi bersenang-senang bersama keluarga, selebihnya membantu   teman dan saudara yang membutuhkan. Beberapa bulan setelahnya, mereka mulai kehabisan uang dan mulai menjual apa-apa yang sempat terbeli beberapa waktu sebelumnya. Waktu terus berlalu, dan tidak sampai setahun mereka telah kembali menjadi gelandangan seperti semula. Tidak ada perubahan, sebagaimana impian banyak orang yang mengandaikan mendapat uang yang besar agar bisa berubah menjadi orang kaya. Tidak ada kesuksesan, yang ada adalah keterpurukan dan terjerembab dalam dua lobang yang sama.

Kristalisasi keringat, adalah jalur khusus yang selalu dilalui oleh mereka yang sukses dalam segala bentuk kehidupan ini. Terlalu banyak contoh untuk disebutkan. Sosok seperti Anas Urbaningrum, Rama Pratama, bahkan yang segaek Fahmi Idris dahulunya adalah aktifis mahasiswa yang selalu berada di barisan paling depan saat demonstrasi. Fahmi Idris pada tahun 66 adalah seorang demonstran yang berteriak lantang tepat dihadapan seorang marinir bersenjata laras panjang, ia mengatakan : “ tembak saya kalau berani ! “.  Tidak terlampau jauh, SBY presiden kita sudah memulai prestasinya dengan mendapatkan anugerah Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik AKMIL angkatan 1973. Bukti dan sosok lainnya masih sangat banyak berderet di buku kumpulan biografi orang-orang sukses. Saya sering mengumpakan dengan sebuah istilah  : sejarah prestasi. Tidak ada pahlawan kesiangan hari ini, yang ada adalah seorang yang mempunyai banyak sejarah prestasi di masa lalunya, lalu menunggu sedikit momentum yang tepat untuk mampu meledakkannya !.

Kristalisasi Keringat, saya dan Anda berhak mewujudkannya . Bukankah Allah SWT telah memberikan janji yang begitu jelas dalam Al-Quran :  “ Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “ (QS Ar-Ra’d : 11)  Salam Optimis.

Daftar Isi Blog Indonesia Optimis

Kamis, 10 Desember 2009

Suatu Pagi bersama Lentog Tanjung

Senin, 07 Desember 2009

Ada kisah unik pagi ini. Sederhana tapi tetap saja membekas di hati. Seperti biasa, setiap kali mudik ke Kudus, saya selalu menyempatkan diri untuk sarapan lentog tanjung. Lentog adalah makanan khas kudus yang barang kali jarang didengar oleh orang di luar kudus, berbeda dengan jenang kudus atau soto kudus misalnya. Lentog terdiri dari sepiring lontong yang diiris tipis, lalu dituangkan sayur nangka muda di atasnya plus tahu dan tempe, semacam lodeh tapi berbeda. Lebih enak dimakan dengan sate telur puyuh atau sate usus ayam. Harganya seporsinya pun masih berkisar di harga dua ribuan. Tapi karena porsinya memang mini, maka hampir semua pembeli biasanya menambah satu porsi lagi untuk menyempurnakan kenikmatan. Wah, jadi malah ngomong lentog terus nih.

Mudik kali ini saya sama sekali tidak menginjakkan kaki di rumah, melainkan datang dan pergi langsung di RS Mardi Rahayu. Ayah tercinta di rawat sejak lima hari yang lalu paska operasi appendiks yang lumayan terlambat. Perlu dicatat, saya sendiri pernah menjalani operasi appendiks, tapi rasa-rasanya tidak seberat kali ini. Nah, pagi ini di rumah sakit tetap saja keinginan menikmati lentog tak terbendung lagi. Apalagi jarak antara rumah sakit dengan daerah tanjung (pusat lentog) terhitung sangat dekat. Kurang dari satu kilo atau mungkin jika naik motor tidak sampai dua menit sudah nyampe. Sebelum berangkat, tak lupa saya infokan ke teman-teman di FB melalui update status berikut :

“ bersiap menikmati lentog tanjung khas kudus, kalau dari RS mardi rahayu rasa-rasanya tinggal 'lompat pagar' saja ....... selamat sarapan juga bagi yang menyimak ...”

Selesai menutup FB, segera bersiap menuju tempat parkir untuk mengambil motor. Astaghfirullah, saya mendapati ban belakang motor saya bocor tak tersisa angin di dalamnya barang sedikitpun. Niat semangat mau sarapan lentog otomatis tertunda. Prioritas pertama tentu mencari tambal ban yang terdekat agar motor bisa pulih seperti semula.

Akhirnya, tengok kanan-kiri, tanya kepada petugas parkir. Dia menunjukkan arah yang lumayan dekat sebenarnya, tapi tetap saja harus muter dikit untuk keluar RS. Motor saya tuntun menuju lokasi tambal ban tubeless sesuai petunjuk sang petugas parkir. Alhamdulillah, tidak sampai sepuluh menit saya tuntun motor, sampai di lokasi. Sang pemilik tambal ban pun telah siap menyambut dengan ramah dan tangkas. Sambil menunggu bekerja, lihat kanan kiri ternyata ada juga penjual lentog kudus yang ‘nomaden’ alias tidak pakai kios, datang dan pergi begitu saja. Karena lapar sudah tak terkira, maka segera saja saya pesan satu porsi untuk langsung makan di tempat. Hingga pekerjaan tambal ban selesai pun saya masih asyik menambah satu porsi lagi.

Sampai di sini sungguh semuanya biasa saja, tidak ada yang aneh, tidak ada yang unik. Hanya saja, beberapa jam setelahnya saya berpikir dengan status FB saya sebelumnya. Dimana saya menuliskan : “

bersiap menikmati lentog tanjung khas kudus, kalau dari RS mardi rahayu rasa-rasanya tinggal 'lompat pagar' saja ....... selamat sarapan juga bagi yang menyimak ...”

Ternyata, status itu benar-benar menjadi kenyataan. Awalnya saya menggunakan kata lompar pagar untuk menunjukkan secara ‘hiperbolis’ jarak yang sangat dekat, ternyata tempat tambal ban dimana saya makan lentog tadi benar-benar dekat dengan pagar rumah sakit ! , benar-benar serasa tinggal lompat pagar saja ! Subhanallah. Hati-hati dengan status anda ya ?

Hari Raya yang terlupakan

Jumat, 04 Desember 2009

Dua hari raya kaum muslimin telah berlalu dalam waktu kurang dari tiga bulan ini. Kita semua pasti merindukan kembali hari yang mulia dan penuh bahagia tersebut. Semestinya, kerinduan semacam ini bisa kita obati setiap pekan, yaitu saat hari Jumat hadir di hadapan. Karena Allah SWT juga menjadikan hari Jumat sebagai hari raya kaum muslimin. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda tentang hari Jumat : Sesungguhnya ini adalah hari raya yang dijadikan Allah untuk kaum muslimin  (HR Ibnu Majah) .

Namun sayangnya, betapa sering hari Jumat itu terlewat begitu saja. Tanpa makna sebuah hari raya. Kemuliaan hari Jumat banyak tertutupi di masyarakat kita, salah satunya karena kesibukan pekerjaan, khususnya bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Bahkan hingga menjadikan sholat Jumat menjadi ajang istirahat siang di sela-sela penatnya pekerjaan. Disadari atau tidak, kesibukan pekerjaan dan aktifitas telah menjauhkan kaum muslimin dari semangat memuliakan hari Jumat. Hari Jumat disamakan dengan hari lainnya, nyaris tiada ada bedanya.

Tulisan ini kami maksudkan untuk mengingatkan kembali seputar keutamaan hari Jumat serta amal-amal apa saja yang bisa kita jalankan di dalamnya. Pembahasan seputar amal ibadah di hari Jumat sesungguhnya bukanlah hal yang baru, para ulama selalu membuat bab khusus yang membahas tentang hari Jumat dalam kitab-kitab fikih yang mereka susun. Semuanya didukung dengan banyak dalil shahih yang menegaskan kembali tentang kemuliaan dan keutamaan hari Jumat. Mari bersama kita intip sebagiannya. 

Pertama : Tentang Keutamaan-keutamaan Hari Jumat. Diantara sekian keutamaan hari Jumat adalah dihapuskannya dosa-dosa dan dikabulkannya banyak doa. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Sholat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan Romadhon ke Romadhon, adalah penghapus dosa antara satu dan lainnya selama dijauhi dosa-dosa besar. (HR Muslim). Pada hari Jumat kita dianjurkan memperbanyak doa, bahkan disebutkan ada waktu-waktu khusus yang dijanjikan setiap doa yang terpanjatkan akan dikabulkan. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah menyebutkan hari Jumat kemudian bersabda : “ Di dalamnya ada satu saat (sejenak waktu) yang tidaklah seorang hamba Muslim berdiri shalat meminta sesuatu kepada Allah bertepatan dengannya melainkan Allah pasti memberinya “ ( HR Bukhori Muslim). Setidaknya dengan dua keutamaan di atas, cukup menjadi alasan bagi kita untuk bahagia dan bersemangat dalam menyambut hari Jumat setiap pekannya.

Kedua : Tentang amalan yang bisa dilakukan pada hari Jumat. Sesungguhnya amalan hari Jumat tidak hanya seputar ibadah wajib berupa sholat Jumat berjamaah di masjid saja. Ada beberapa amalan sunnah yang menghiasi hari Jumat dari awal pagi hingga malamnya. Dimulai dari persiapan menuju sholat Jumat, kita disunahkan untuk mandi, memakai wangi-wangian, dan bahkan memakai pakaian terbaik yang kita punya. Jika kita perhatikan, sunnah-sunnah ini sangat identik dengan sunnah pada dua hari raya yang lainnya. Selain amalan tersebut, pada hari Jumat kita juga disunnahkan untuk membaca surat Al-Kahfi dan  memperbanyak membaca sholawat.    Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat maka (Allah) meneranginya dari cahaya (selama waktu) antara dua jumat “ (HR Nasa’I) . 

    Akhirnya, kita sudah mengumpulkan banyak alasan untuk memperlakukan hari Jumat sebagai hari raya yang mulia. Selamat menyambutnya dengan gembira dan mengisinya dengan amalan-amalan yang utama. Semoga setiap Jumat suasana keberkahan hari raya mampu meliputi rumah dan hati kita. Wallahu a’lam bisshowab
* dimuat di Rubrik Tausiyah Suara Solo Suara Merdeka , Jumat 4 Des 2009

Hukum Musik yang selalu Mengusik

Kamis, 03 Desember 2009

Sebenarnya, jarang saya 'berani' mengangkat tema yang sudah banyak di bahas sebelumnya, apalagi jika jelas-jelas tema tersebut masuk dalam wilayah perbedaan di tingkatan ulama. Tapi karena suatu dan lain hal (bahasa apa ya ini ?-red) , saya diminta untuk mengisi rubrik konsultasi di majalah remaja Islami -Girlizone, dan ternyata pertanyaan yang muncul adalah seputar hukum musik. Maka akhirnya pun, saya berusaha untuk menjawabnya secara objektif. Kami munculkan tulisan tersebut di blog ini, agar semakin luas kemanfaatannya. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan atau kurang sependapat dengan jawaban yang ada. semoga perbedaan ini membuat kita mau terus berbenah dan belajar. salam optimis.

Pertanyaan :

Assalamualaikum, ustadz. Musik itu haram apa nggak sich? Kata temen aku, musik itu haram. Tapi, ada yang bilang nggak. Tolong jawab, ya tadz. Syukron atas jawabannya ustadz. Wassalam (Moya/kebumen)

Jawaban :

Wa’alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh.

Sahabat Moya di Kebumen, permasalahan hukum musik memang selalu mengusik . Dulu musik yang kita tahu mungkin kebanyakan bertemakan cinta dan gairah anak muda, yang menyanyikan pun para wanita yang berpakaian terbuka, maka dalam hal ini tidak ada hukum yang berbeda. Semuanya ulama pasti sepakat mengharamkannya. Teman-teman Moya pun pasti tidak akan berbeda pendapat dalam hal ini.

Namun saat ini hukum musik akan lebih mengusik, karena banyak bermunculan album-album religi dimana-mana. Syairnya mengajak untuk mengingat Allah, menyemangati dalam kebaikan, tapi ditampilkan dengan alat musik yang full set. Bahkan beberapa grup band ternama pun, tidak pernah absen setiap Ramadhan untuk merelease album barunya. Nah, disinilah kemudian hukum musik, kembali harus kita kaji dan pertanyakan.


Bagaimanapun, secara umum permasalahan nyanyian dan musik memang sudah lama masuk dalam wilayah perbedaan para ulama. Meski demikian, mereka tetap bersepakat haramnya musik jika memenuhi salah satu dari hal seperti berikut ini :


· Lirik lagunya berisi kata-kata kotor, cabul atau mengajak pada perbuatan maksiat. Misalnya : Ingat lirik lagu di negeri kita “ Datanglah kau … malam ini, kekasih ….. “, atau lagu yang lain : “ cium aku … peluk aku “ , dan yang lebih ngetrend lagi : “ Tak gendong … kemana-mana” padahal jelas itu akan ditujukan bukan pada pasangan sahnya.

· Lirik lagunya berisi kata-kata yang berlebihan mengungkapkan cinta pada makhluk. Misalnya : “Kaulah segalanya untukku ….. “.atau lagu jadul : “ Tanpamu … serasa mati, tanpamu ..hidupku sunyi “

· Yang menimbulkan fitnah, baik penyanyinya ataupun pertunjukannya. Misalnya menggunakan pakaian terbuka, atau laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya, atau dilakukan dengan kondisi penuh ikhtilat (bercampur) laki-laki dan perempuan.

· Jika menyebabkan kelalaian, seperti meninggalkan sholat dan kewajiban lainnya.


Namun apabila sebuah nyanyian dan musik tidak mengadung hal-hal semacam di atas, maka disinilah muncul ruang perbedaan di antara ulama. Yang harus tentu kita yakini, masing-masing mempunyai dalil dan argumentasi, sehingga tidak boleh diremehkan begitu saja.


Secara sederhana, perlu kita pahami bahwa hukum asal segala sesuatu adalah mubah atau halal, sampai ada dalil yang kuat dan jelas/tegas dalam pengharamannya. Hal ini juga berlaku pada musik, dimana asal hukumnya adalah boleh kecuali jika ada hukum yang kuat dan tegas mengharamkannya. Nah, disinilah kemudian muncul perbedaan yang cukup besar di kalangan para ulama. Mereka yang mengharamkan menganggap mempunyai dalil-dalil yang cukup dalam pengharamannya. Sementara mereka yang membolehkan musik menganggap bahwa dalil-dalil yang digunakan untuk mengharamkan tidak cukup kuat dan tegas, sehingga tidak bisa untuk mengharamkan musik tersebut, sehingga statusnya kembali ke hukum asal yaitu halal.


Agak bingung ya ? Ok, kita beri analogi sederhana. Ini mirip-mirip konflik seputar kasus hukum pimpinan KPK yaitu Bibit dan Candra. Tim Delapan atau Tim pencari fakta, setelah melakukan banyak investigasi dan serangkaian pemeriksaan, mereka menyimpulkan bahwa bukti dalam kasus tersebut lemah sehingga proses hukum harus dihentikan, tidak layak diajukan ke persidangan. Sementara di sisi lain, Kejagung dan Polri menganggap bahwa bukti yang ada sudah kuat dan bisa diajukan ke pengadilan. Nah, akhirnya terjadi perbedaan juga kan ?


Begitulah yang terjadi seputar hukum musik. Dalil-dalil yang ada masalah pengharaman musik biasanya berputar antara dua hal. Ada yang kuat (shahih) riwayatnya tapi tidak secara tegas (sharih) menunjukkan pengharaman musik. Sementara ada dalil lain yang tegas melarang musik, tapi secara riwayat kurang kuat dan tidak bisa dijadikan hujjah. Diantara dalil-dalil tersebut antara lain :


Contoh : Firman Allah SWT dalam QS Luqman 5 :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ


Artinya : “ Dan di antara manusia orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.(QS. Luqman: 5)


Dalil di atas tidak mempunyai masalah dilihat dari kekuatan riwayat, karena berasal dari ayat Al-Quran yang mutawatir secara ijmak. Namun secara ketegasan dalam pengharaman musik, ada perbedaan. Oleh kalangan yang mengharamkan musik, ayat ini sering dijadikan rujukan utama. Mereka menafsirkan bahwa lahwal hadits (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, lagu dan musik.


Sementara yang lain menganggap bahwa ayat tersebut sama sekali tidak ‘menunjuk hidung’ pengharaman musik, yang ada adalah perkataan yang tidak berguna. Kita bisa membaca pandangan Ibnu Hazm tentang ayat di atas. Beliau mengatakan bahwa yang diancam di ayat ini adalah orang kafir. Dan hal itu dikarenakan orang-orang kafir itu menjadikan agama Allah sebagai ejekan. Jadi sama sekali tidak identik dengan musik, tetapi apapun yang bisa digunakan untuk menyesatkan dari jalan Allah, maka itulah lahwal hadits yang diharamkan , bahkan sekalipun itu sesuatu yang terlihat baik.


Contoh 2: Hadits Nabawi

Rasulullah SAW bersabda :

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

Sungguh akan ada di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan`. (HR Bukhari)


Dalil di atas tidak diragukan dari sisi kekuatan riwayatnya kerana termasuk dalam kumpulan hadits Shohih Bukhori. Namun yang kemudian menjadi perbedaan adalah, apakah makna ma’azif itu adalah musik, atau termasuk dalam arti umum lafadz tersebut yaitu ‘alat yang melalaikan’. Lagi-lagi mengulangi polemik pada dalil yang pertama, yaitu riwayatnya kuat tapi kurang tegas/jelas dalam pengharamannya.


Contoh 3: Hadits Nabawi


Dari Nafi bahwa Ibnu Umar mendengar suara seruling gembala, maka ia menutupi telingannya dengan dua jarinya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan tersebut. Ia berkata:`Wahai Nafi` apakah engkau dengar?`. Saya menjawab:`Ya`. Kemudian melanjutkan berjalanannya sampai saya berkata:`Tidak`. Kemudian Ibnu Umar mengangkat tangannya, dan mengalihkan kendaraannya ke jalan lain dan berkata: Saya melihat Rasulullah saw. mendengar seruling gembala kemudian melakukan seperti ini. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).


Dalil di atas lebih dekat dan lebih tegas (sharih) dalam pengharaman musik, yaitu Rasulullah menutup telinganya saat mendengar suara seruling gembala. Namun dari segi kekuatan riwayatnya, para ulama hadits mengatakan bahwa hadits ini termasuk hadits munkar. Dan hadits munkar tentu saja sangat tidak memungkinkan menjadi hujjah.


Begitulah yang terjadi dalam dalil-dalil lain seputar pengharaman musik. Ada beberapa hadits yang secara tegas ‘menunjuk hidung’ pengharaman musik, tetapi sayangnya tidak disupport dengan kekuatan riwayatnya. Walhasil, dari kenyataan seperti inilah yang membuat beberapa ulama mengambil kesimpulan sederhana seputar hukum musik. Misalnya Abu Bakar Ibnul Al-Arabi yang mengatakan, "Tidak ada satu pun dalil yang shahih untuk mengharamkan nyanyian."

Begitu pula Ibnu Hazm mengatakan hal yang senada : "Semua riwayat hadits tentang haramnya nyanyian adalah batil."


Dr. Yusuf Qardhawi dalam fatawa muashiroh mengomentari masalah ini dengan menyatakan : (Apabila dalil-dalil yang mengharamkannya telah gugur, maka tetaplah nyanyian itu atas kebolehannya sebagai hukum asal. Bagaimana tidak, sedangkan kita banyak mendapati nash sahih yang menghalalkannya? Dalam hal ini cukuplah saya kemukakan riwayat dalam shahih Bukhari dan Muslim bahwa Abu Bakarpernah masuk ke rumah Aisyah untuk menemui Nabi saw., ketika itu ada dua gadis di sisi Aisyah yang sedang menyanyi, lalu Abu Bakar menghardiknya seraya berkata: "Apakah pantas ada seruling setan di rumah Rasulullah?" Kemudian Rasulullah saw. menimpali:

( دعهما يا أبا بكر فإنها أيام عيد (

"Biarkanlah mereka, wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya."(HR Bukhori)


Disamping itu, juga tidak ada larangan menyanyi pada hari selain hari raya. Makna hadits itu ialah bahwa hari raya termasuk saat-saat yang disukai untuk melahirkan kegembiraan dengan nyanyian, permainan, dan sebagainya yang tidak terlarang ). Jadi bukan berarti bolehnya musik khusus di hari raya saja.


Sahabat Moya di Kebumen, akhirnya agar tidak bingung, bolehlah kita ambil kesimpulan bahwa hukum musik sejatinya adalah boleh, tetapi perlu ingat bahwa kebolehan itu dengan syarat dan ketentuan berlaku ! Apa saja syarat dan ketentuannya, bisa dilihat di paragraf awal jawaban kami. Yang jelas, diluar semua polemik itu, hendaknya sesuatu yang mubah semestinya tidak kita gunakan secara berlebihan. Bahkan lebih baik lagi kalau yang mubah bisa kita niatkan dan jadikan penyemangat untuk berbuat kebaikan. Dalam hal ini, nampaknya nasyid-nasyid islami dan dakwah bisa menjadi sebuah alternatif jawaban. Wallahu a’lam bisshowab.


Hatta Syamsuddin, Lc

Minta Maaf itu Mesra

Senin, 30 November 2009

Meminta maaf adalah pekerjaan ringan yang hanya membutuhkan syarat : pengakuan atas kesalahan dan kelemahan kita. Tidak disebut permintaan maaf yang tulus jika masih diselubungi perasaan tidak bersalah dan kesombongan. Padahal setiap kita sejatinya memang bertaburkan kesalahan dan kekurangan. Karenanya, semestinya meminta maaf harus menjadi kebiasaan yang tidak bisa kita tinggalkan.

Meminta maaf antara suami istri bukanlah upacara simbolik semacam hari raya Idul Fitri semata. Meminta maaf juga tidak perlu menunggu adanya sebuah konflik yang membuat hati suami istri berjarak. Meminta maaf cukuplah menjadi kebiasaan sederhana setiap kita merasa kurang optimal atas hal-hal yang kita lakukan. Bahkan saat tidak ada satupun kesalahan yang kita lakukan, minta maaf tetap bisa kita ungkapkan. Inilah yang akan mengundang kemesraan kita sekaligus potensi kesombongan yang ada dalam diri kita.

Apalah kita jika harus berat dalam meminta maaf pada suami atau istri kita ? Sementara manusia terbaik yang pernah ada, Rasulullah SAW juga tanpa canggung meminta maaf pada istrinya. Dari Shofiyah ra, Rasulullah bersabda padanya : Wahai Shafiyyah, aku minta maaf kepadamu atas perlakuanku kepada kaummu karena mereka telah mengatakan saya begini dan begitu  (HR Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir)

Terakhir, kita perlu merenungi sebuah kisah romantis salah satu sahabat Rasulullah SAW yang utama. Yang lisannya tak pernah kelu dalam meminta maaf. Hatinya pun tak merasa gengsi saat berharap ridho dari istrinya. Bahkan ia merangkai permohonan maafnya dalam sebuah gelaran baris-baris puisi yang indah. Ini bukan sekedar permohonan maaf biasa, namun ada energi kemesraan di dalamnya. Lebih dari itu, Abu Darda lebih terlihat sedang berkata-kata mesra dari hanya sekedar meminta maaf. Ternyata, dalam meminta maaf pun ada seninya. Sebuah seni yang menambah mesra. Subhanallah.

Kisah Permohonan Maaf Abu Darda pada Istrinya


Abu Darda adalah salah seorang sahabat yang romantis, suatu ketika ia berpesan pada istrinya : Bilamana engkau melihatku marah, maka relakanlah aku. Dan bilamana aku melihatmu marah, aku pun akan merelakanmu.
    Kemudian Abu Darda melantunkan sebuah syair cinta dan permohonan maafnya :

Berilah maaf atas kesalahanku
Cintaku niscaya menyertaimu selalu
Janganlah menyebut keburukanku
Kalau aku marah terbawa nafsu
Janganlah mentatahku
Seperti kau sekali melubangi kayu
Sebab engkau tidak tahu
Bagaimana rasa terasing diriku
Jangan banyak mengeluh
Lalu daya menjadi rapuh
Hatikupun menjadi tak acuh
Dan semua hati terpecah belah
Aku lihat di hati cinta dan luka parah
Bilamana bertemu cinta tetap pergi tak mau mengalah


Aduhai hati yang diberi hanif,  lihat sejenak kembali kata-kata Abu Darda di atas. Dengan sedikit kita merenung, sudah jelas bahwa yang diinginkan Abu Darda bukan sekedar keridhoan istrinya atas kesalahannya. Ada misi tersembunyi dibalik semua itu. Abu Darda sesungguhnya ingin menyanjung istrinya dengan kata-kata mesra. Maka dihiasnya dengan ungkapan maaf yang berbalut puisi mesra. Namanya juga romantis, pasti kreatif !

Download Khutbah Idul Adha 1430 H

Kamis, 26 November 2009

Hari Raya Idul Adha benar-benar di hadapan. Hari ini banyak kaum muslimin yang menjalankan sunnah puasa arofah 9 Dzhulhijjah, dengan penuh iman dan pengharapan, agar terhapus dosa-dosa setahun yang lampau dan yang akan datang insya Allah. Berbagai persiapan lain tentu saja mulai dikerjakan. Panitia dan Takmir Masjid mulai sibuk mempersiapkan tikar dan perlengkapan sholat Iedul Adha, begitu pula kelengkapan untuk prosesi ibadah qurban setelahnya. Ibu-ibu di rumah pun tak mau ketinggalan, minimal persediaan bumbu harus sudah mulai disiapkan.

Agar esok hari saat daging mulai berdatangan, mereka bisa menyambutnya untuk segera diolah menjadi santapan. Bagi para ustadz, atau mereka yang biasa diundang ceramah pastilah juga mempunyai persiapan, sibuk menyusun teks khutbah untuk dibacakan esok dihadapan ratusan kaum muslimin di lapangan. Jangan sampai naskah khutbah yang ada sudah expired alias kadaluwarsa karena sudah berkali-kali dibacakan.

Nah khusus untuk Anda, sahabat blogger dakwah yang optimis. Barangkali anda adalah salah satu dari mereka yang mempersiapkan naskah khutbah idul adha untuk esok hari, barangkali apa yang saya susun bisa menjadi salah satu referensi atau pembanding bagi naskah khutbah yang akan anda persiapkan.

Semoga bermanfaat dan mohon maaf bila masih banyak kekurangan di sana-sini. Untuk mendapatkan silahkan klik link download di bawah ini.

Download naskah khutbah Idul Adha 1430 H

Salam optimis

2012 in my Opinion

Senin, 23 November 2009

Awalnya saya ingin diam dan tidak reaktif. Polemik seputar film 2012 pastilah akan berakhir dengan sendirinya atau silent ending, ditelan pemberitaan baru lainnya dengan berlalunya hari dan bulan. Tapi saya tercenung dengan komentar-komentar yang ada di beberapa situs berita ternama saat memuat berita seputar 2012 dan sikap MUI.  Dari mulai komentar yang moderat hingga abal-abal pun ada, saya berikan contohnya untuk anda :

 “ Apa-apaan sih MUI ni...??? Kemaren FB mau di haramkan, sekarang film 2012 mau di haramkan lagi.. emang Indonesia ini di perintah ama MUI ya..?? berarti sia2 donk kita kemaren pemilihan presiden kalo ternyata MUI yang mengendalikan negara ini... “(Republika.co.id-19/11)

Saya merasa yang semacam ini selalu terulang, bahwa setiap polemik selalu dimainkan untuk menyasar dan mengarah pada ‘delegitimasi’ MUI. Entah sengaja atau tidak, selalu terasa ada upaya membenturkan MUI dengan keinginan masyarakat, sekaligus menempatkan MUI sebagai ‘pengganggu kenyamanan’ yang ujung-ujungnya pasti berdampak pada penghinaan atau kurang respek terhadap pada ulama. Pada titik inilah saya tergerak untuk menulis seputar polemik 2012. Bukan untuk membesar-besarkan yang tidak perlu, tapi sebuah upaya meredam gelisah fikir sekaligus berbagi pencerahan pada siapa saja yang mau belajar.

Pertama : Tentang imajinasi ilmiah yang dipaksakan dalam Film 2012

Bagi para pengamat film dan pecandu tontonan Holywood, film 2012 tentu bagi mereka adalah tak lebih dari rangkaian kisah fiksi ilmiah yang diangkat ke layar lebar. Film-film semacam itu biasanya menawarakan sound effect dam visualisasi gambar yang dasyhat dan memukau. Mengobral kecanggihan teknologi multi media modern untuk memanjakan mata dan telinga penontonnya. Yang sedikit berbeda adalah :
Pertama ; karena film ini menyebut sebuah tahun yang begitu dekat dengan zaman ini yaitu 2012, sehingga lebih membuat penasaran orang-orang saat ini. Istilah sederhanya adalah sangat “up date” .Padahal khayalan tentang gambaran dunia lebih parah bisa didapati dalam film-film lainnya, hanya saja mengambil setting yang terlampau jauh di masa depan, seperti 2050 dan seterusnya. Sebut saja film Startrek atau The Chronicles of Riddick dan yang semacamnya, di film-film tersebut dunia sudah benar-benar berubah 180 derajat.
Kedua ; Isu yang dipakai adalah sebuah bencana besar yang akan terjadi di bumi ini. Ini tentu lebih terlihat ‘nyata’ dari pada film-film sejenis seperti “Independence Day” dan “ War of World” yang menggambarkan ancaman kehancuran bumi dari kedatangan makhluk luar angkasa.  Isu makhluk asing dalam film Holywood mungkin sudah terlampau sering hingga diperlukan sebuah inovasi tersendiri yang berbeda dari sebelumnya.

Atas dasar keinginan berinovasi inilah kemudian dicari sebuah pembenaran ilmiah. Setitik data dari ramalan suku Maya dan beberapa hasil penelitian NASA diolah sedemikian rupa untuk memperkuat khayalan mereka. Tentu saja sangat tidak berlebihan jika kita menyebutnya dengan sebuah imajinasi ilmiah dengan argumentasi yang dipaksakan. Betapa tidak ? sesepuh Suku Indian Maya pun sudah membantahnya, bahkan menyebut dengan jelas khayalan itu dari Barat bukan dari sukunya. Kambing hitam lainnya selain suku Maya, adalah NASA . Lembaga ini pun tak kurang ilmiahnya membantah yang diramalkan dalam 2012, bahkan meluncurkan satu situs resmi khusus untuk mengungkap kebenaran yang ada secara ilmiah.

Kesimpulan sederhananya, ini adalah film hasil dari imajinasi ilmiah yang dipaksakan. Mirip dengan film Jurrasic Park yang mengambil inspirasi ilmiah dari teori DNA dan cloning, lalu dikembangkan sedemikian rupa hingga cover ilmiahnya lebih terasa. Saya kira semua pasti sepakat, siapapun yang ingin berhasil dalam berbisnis maka ia harus kreatif dan inovatif. Dan produser 2012 telah membuktikannya. Mengkreasi setitik ramalan dan data, menjadi isu besar yang seolah dipenuhi argumentasi ilmiah yang membahana.

Kedua :  Tentang  “ Marketing by Issue” yang kental nuansanya dalam 2012.

 Permasalahan selanjutnya yang lebih memprihatinkan adalah, dari sebuah imajinasi ilmiah yang dipaksakan, dikembangkan lagi menjadi sebuah isu bahwa film tersebut menggambarkan kiamat. Kiamat seperti apa yang dimaksudkan ?  Jika kiamat –disepakati oleh semua agama samawi- berarti sebuah akhir kehidupan dunia, maka dalam film tersebut jelas-jelas ada yang tersisa.  Penggambaran yang lebih tepat adalah film tersebut berkisah tentang fiksi terjadinya sebuah bencana besar yang merubah peta dunia, dimana satu-satunya daratan yang tersisa adalah benua afrika. Jadi pada titik ini, sesungguhnya tidak ada ‘kiamat’ dalam film 2012. Kiamat ada pada strategi pemasaran dan issu yang dimunculkan. Karena kiamat atau akhir dunia selalu menjadi perhatian tersendiri warga dunia, apalagi banyak yang mengatakan bumi sudah terlampau renta dengan banyaknya musibah yang melanda.

Fakta global warming dan pencairan es dikutub utara, belum lagi banyaknya angin topan di kawasan eropa dan amerika, gempa bumi dan tsunami di wilayah Asia, semua mengarah pada asumsi manusia bahwa bumi telah renta. Asumsi inilah yang dimainkan produser film tersebut dengan memberi label ‘kiamat’-secara tersirat- dalam  pemasaran filmnya. Lihat saja tayangan singkat resminya (ekstra show), benar-benar menjual bahwa film tersebut akan menggambarkan kiamat. Marketing by Issue, sudah lama berjalan dalam dunia bisnis. Lihat saja saat kala ada isu pasokan bensin terhambat atau melangka, pastilah antrian di SPBU segera menggurita dengan sendirinya.
Dan anda bisa melihat sendiri, betapa pemasaran dengan isu kiamat telah menunjukkan taringnya. Film 2012 yang biaya produksinya menelan biaya US $260 juta ini, dalam waktu tiga hari, nyaris sudah mendekati break event point, yakni meraup pendapatan sebesar US $225 juta.

Ketiga : Upaya Media –yang mungkin tidak sengaja- untuk membenturkan MUI dengan masyarakatnya.

Dalam situasi berputarnya isu kiamat dalam 2012, media seolah melegitimasi kebenaran isu tersebut dengan meminta pendapat ulama seputarnya. Maka segera saja berbagai wawancara dilakukan, dengan pertanyaan yang sungguh mengherankan. Tiba-tiba saja seorang tokoh MUI di sebuah daerah di Jawa Timur dihujani pertanyaan : “ bagaimana pendapat anda tentang film 2012 yang menggambarkan terjadinya kiamat pd tahun tersebut ? “. Begitu kurang lebih pertanyaannya. Saya kira siapapun tokoh yang ditanya pasti akan menjelaskan ketidaksetujuannya dan pengharamannya atas film tersebut. Sudah menjadi harga mati bagi setiap muslim bahwa waktu kiamat tidak ada yang mengetahuinya selain Allah SWT.
Nah, ungkapan ketidaksetujuan tokoh MUI inilah yang segera dioleh media dengan sebuah judul pemberitaan : “ MUI Malang melarang film 2012”, dan ungkapan-ungkapan sejenis yang seolah berdasarkan sebuah fatwa resmi yang dihasilkan dari pertemuan resmi. Padahal kalla wa balla , sekali-kali tidak. Yang terjadi hanyalah sekedar wawancara sederhana dengan pertanyaan yang menjebak.  Ini tidak mungkin terjadi jika pertanyaannya yang diajukan lebih umum, “ bagaimana pendapat bapak tentang film 2012 ?” . Maka jika tokoh tersebut benar-benar belum menonton dan belum tahu, pastilah akan menjawab : “saya belum tahu seputar itu, nanti akan kita bahas bersama yang lainnya … “. Selesai perkara dan tidak akan menjadi berita yang heboh.

Belum lagi judul-judul lainnya yang sangat provokatif di media, “ MUI pertimbangkan untuk mencabut peredaran film 2012”, dan semacamnya . Belum lagi pertanyaan konyol yang dilancarkan seorang reporter stasiun berita terkenal “ Mengapa 2012 dilarang pak, padahal kan tidak ada unsur pornonya ? “. Semua ini menjadikan semakin banyak yang berkomentar miring bahkan buruk pada MUI, sementara pada sisi lain antrian film 2012 seolah tak bergeming dengan polemik tersebut. Entah sadar atau tidak, pemberitaan polemik MUI dan 2012 secara tidak objektif hanyalah akan berakibat kekurangrespekan masyarakat terhadap institusi resmi ulama dan fatwa tersebut. Semoga media menyadari kesalahan ini sepenuhnya.
Lalu bagaimana sikap MUI sebenarnya ? setidaknya pada hari Kamis, 19 November 2009, melalui sekretaris komisi Fatwa, MUI menyampaikan bahwa Film 2012 hanyalah sebuah imajinasi bukan untuk dipegang apalagi dipercayai, diterangkan juga MUI tidak akan mengeluarkan fatwa berkaitan dengan film tersebut.Untuk itu, MUI tidak melarang umat Islam untuk menontonnya (Hidayatullah.com). 

Keempat :  Tentang reaksi sebagian besar aktifis muslim

Kemudian, sebagai sebuah otokritik bagi saya sendiri atau rekan-rekan lain yang bersemangat dalam membela aqidah yang begitu cepat menjustifikasi bahwa  film itu tentang kiamat, ada baiknya kita mengingat kaidah “ Al-Hukm ala syai’ juz’un an tashowwurihi “ , bahwa Hukum atas sesuatu itu bagian dari cara pandangnya terhadap suatu hal tersebut. Arti sederhananya, tentu kita tidak bisa berkomentar apalagi menghukumi sesuatu, sebelum lebih jelas gambaran sebuah masalah tsb. Ada Sekjen organisasi islam ternama yang belum-belum membeli label Musyrik pada film 2012. Ada pula yang menyatakan di dalamnya ada gambaran bangunan masjid yang hancur, sementara gereja utuh. Padahal yang sesungguhnya tidaklah demikian.Bisa kita lihat sendiri dalam filmya atau melalui  wikipedia, dijelaskan disana bahwa sutradara 2012 Rolland Emmerich enggan menaruh adegan menghancurkan tempat ibadah umat muslim. Yang jelas hancur dalam film tersebut justru gereja di vatikan roma hancur akibat gempa, kuil di tibet hancur di terjang tsunami, patung umat kristiani di brasil juga hancur.  Jadi sejak awal produser film ini memang tidak ingin berkonfrontasi dengan umat Islam.

Seandainya benar bahwa masyarakat kita terlanjur percaya itu tentang kiamat, atau gambaran kedasyahatannya membuat masyarakat atau secara khusus anak-anak resah dan khawatir, maka sesungguhnya fatwa haram dalam masalah ini cukup bisa di pahami. Terkadang sesuatu dilarang bukan karena ‘zat’nya tetapi juga karena efeknya. Dalam kaidah ushul fiqh ini dikenal dengan istilah saddu adz-dzaro’i. Yaitu upaya mencegah hal-hal yang bisa mendorong pada kemungkaran.  Khalifah Umar bin Khottob memberikan contoh nyata bagi kita, beliau pernah mengasingkan seorang pemuda bernama Nashr bin Hajaj ke Bashrah, karena ketampanannya membuat banyak wanita Madinah tergoda. Bukan karena pemuda itu berakhlak buruk, tetapi efek ketampanannya meresahkan hati wanita.

Terakhir, dalam hati kecil saya selalu merindukan usaha-usaha alternatif yang produktif untuk melibas film-film imajinasi khayalan tersebut. Sejarah dan referensi Islam mempunyai banyak kisah dan peristiwa yang dasyhat jika bisa diangkat dalam layar lebar. Tentu saja dengan kemampuan olah film yang harus menggunakan teknologi yang high-end di bidangnya. Semoga !

Bekal sebelum Berqurban

Kamis, 19 November 2009


Hari Raya Idul Adha  ada di hadapan. Saat ini pasar kambing dadakan mulai bertebaran. Jurkam (juragan kambing) insidental muncul dimana-mana. Semua ingin berebut rezeki tahunan yang selalu menjanjikan. Takmir Masjid pun tak kalah sibuknya, panitia qurban sudah resmi disusun. Banyak pula yang sudah bergerak mencari hewan qurban. Dari mulai survei harga ke pelosok kampung dan daerah pinggiran, hingga menebar proposal ke area perumahan dan perkantoran. Lebaran qurban memang selalu menawarkan suasana yang unik dan berkesan.

Nah, giliran kita sekarang untuk ikut berpartisipasi. Sekiranya ada limpahan rezeki yang tersisa, atau tabungan masa depan yang bisa sedikit dikurangi, maka mengapa ragu untuk ikut berqurban kembali tahun ini ?  Jika Anda termasuk yang dimudahkan untuk berqurban tahun ini, ada serangkaian bekal yang perlu diperhatikan. Agar ibadah qurban lebih berkah, hatipun lebih tenang karena sesuai syariat. Berikut rangkaian bekal sebelum berqurban :

Pertama :  Menghidupkan Sunnah dengan tidak memotong kuku dan mencukur rambut dari awal dzulhijjah hingga hari penyembelihan

عن أم سلمة أن النبي، صلى الله عليه وسلم، قال: " إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره ". وروى مسلم


Dari Ummu salamah ra, Nabi SAW bersabda : “ Jika engkau melihat hilal dzulhijjah, dan seorang dari kalian akan berqurban, maka hendaklah menahan dari (mencukur) rambutnya dan (memotong) kukunya(HR Muslim)

Barangkali ini salah satu sunnah yang hampir punah karena tidak populer, meski ‘sekedar’ menahan diri dari memotong kuku dan rambut. Selain akan mendapat pahala sunnah, tentu kita bisa mengambil hikmah dari amalan ini, yaitu betapa kita yang tidak berhaji tetap dituntut untuk merasakan apa yang dijalani oleh saudaranya yang sedang berhaji. Bukankah mereka yang ihrom / berhaji juga dilarang untuk melakukan hal-hal tersebut, hingga selepas tahallul nantinya ? Benar-benar sebuah syariat indah yang menyatukan ukhuwah setiap muslim.

Kedua : Senantiasa menjaga keikhlasan dan berqurban

Ibadah qurban dilihat dari lafadznya tentu dimaksudkan untuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT, namun sejatinya bagi mereka yang akan berqurban akan banyak menghadapi godaan dalam proses pelaksanannya.Sudah bukan rahasia umum, ibadah yang satu ini mirip ibadah haji dimana banyak orang akan mengetahui. Daftar nama-nama yang akan berqurban biasanya jauh-jauh hari sudah terpampang kokoh di papan pengumuman masjid. Bukan itu saja, bahkan hingga hari H pelaksanaan qurban pun, bisa kita dapatkan nama-nama mudhohhy (orang yang berqurban) tertera begitu jelas dikalungkan di leher-leher kambing yang siap disembelih.  Atas alasan itu semua, sungguh ujian keikhlasan begitu berat di hadapan. Jangan sampai berqurban karena riya dan kesombongan, jangan pula karena merasa terpaksa dan takut dicela. Biasanya yang kedua ini lebih menggurita. Banyak yang merasa ‘harus’ berqurban karena pandangan tetangga dan sanak saudara, padahal hati belum begitu kokoh dalam menjaga keikhlasannya. Naudzubillah.

Dalam masalah ini sebuah ayat perlu kita renungkan dalam-dalam , Allah SWT berfirman dalam surat Al Hajj ayat 37 :
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”. ( QS Al Hajj 37)

Ketiga : Memilih Hewan Qurban yang Terbaik sesuai kemampuan

Ada kalanya niatan berqurban sudah terpatri dalam hati, tetapi godaan syetan tetap saja datang menyapa. Kali ini mereka mungkin ‘sekedar’ menggembosi, agar tidak terlampau berlebihan dalam berqurban. Yang penting berqurban, meski asal-asalan. Karenanya, bagi para mudhohhy, hendaknya sejak lama menyiapkan diri untuk memilih hewan qurban terbaik yang mampu ia beli. Abaikan saja logika syetan yang membisiki bak pahlawan kesiangan, karena syariat kita menginginkan sebaliknya : berquran dengan yang terbaik yang kita mampu.

Bahkan secara umum Al-Quran telah mengisyaratkan tentang derajat kebajikan , Allah SWT berfirman :
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya” ( QS Ali Imron 92)

Begitu pula dalam sebuah riwayat dari Hasan As-Sabt, ia mengatakan : “Rasulullah SAW memerintahkan kami dalam dua hari raya ( Iedul Fitri dan iedul Adha) untuk memakai pakaian terbaik, wangi-wangian terbaik, dan berqurab dengan hewan yang termahal yang kami mampu “ (HR Hakim, di dalam riwayatnya ada nama Ishaq bin Barzah yang dilemahkan oleh Al-Azdawi tapi dikuatkan oleh Ibnu Hibban)

Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita dalam memilih hewan qurban untuk mencari yang terbaik dan yang kita mampu. Tidak ada celah untuk segala cacat dan cela yang mungkin akan mengurangi keberkahan pahala kita. Memang ada syarat minimal yang standar  dan pas-pasan, tapi bolehlah kalau ada rejeki yang melimpah bagi Anda untuk mencari yang : Gemuk, dagingnya banyak, bentuk fisiknya sempurna atau bagus.

Keempat : Berusaha untuk menyembelih sendiri atau minimal menyaksikan penyembelihan

Ibadah qurban tidak boleh diidentikkan sebagai ibadah harta saja, sehingga seorang merasa cukup menyetor sejumlah uang kepada panitia, lalu tinggal menunggu datangnya jatah daging di hari sembelihan. Tidak sesederhana itu ibadah ini disyariatkan. Disunnahkan bagi mereka yang berqurban untuk menyembelih sendiri hewan qurbannya, jika ia mampu untuk itu. Bila tidak, tetap dianjurkan untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri prosesi agung itu, seraya berdoa :
" إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين، لا شريك له، وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين ".

Inilah bukti bahwa qurban bukan sekedar keluarnya harta, tetapi juga merasakan keagungan dan hikmahnya. Untuk mengingat perjuangan dan kesabaran sepasang anak dan bapak yang sedang di uji : Nabi Ibrahim alaihissalam dan Ismail alaihissalam. Begitu pula untuk melihat darah yang mengucur dan terlepasnya nyawa dari jasad binatang sembelihan, mengingatkan kita akan ‘kiamat kecil’ yang pasti dialami setiap manusia. Dengan mengambil hikmahnya, seorang yang berqurban mendapat peluang untuk menambah keimanannya setingkat lebih baik dari hari sebelumnya. Akhirnya, selamat berqurban dan selamat Hari Raya Idul Adha. Taqobbalallahu minna wa minkum.

Bersyukurlah, karena Kita Makhluk Tuhan paling Keren

Senin, 16 November 2009


Sahabat blogger yang optimis, saat bercermin pernahkah terpikir bahwa ada makhluk lain yang lebih indah dari manusia  dari sisi performance –nya ? Khusus bagi Anda yang pandai melukis gambar 'mango' ala kartun Jepang, atau Anda mahasiswa teknik Desain Graphis yang lincah membuat animasi-animasi terbaru yang heboh dan konyol, pernahkan anda sukses membuat steorotip makhluk ' semacam manusia' yang lebih baik dari aslinya ? Pernahkan secara iseng Anda menambahkan satu telinga di tengah, atau satu mata di belakang agar leluasa melihat arah belakang ? Atau pernahkan Anda menambahkan dua tangan lagi agar lebih multi fungsi ? Atau Anda ingin menambahkan dua sayap agar tak perlu lagi kita memakai sepeda atau kendaraan bermotor?

Jangankan membuat makhluk yang lebih indah dari manusia. Dalam sejarah, sudah 14 abad ini manusia ditantang untuk membuat ayat yang serupa Al-Quran dan  lagi-lagi tak pernah ada yang sukses. Maka jika ada tantangan lomba 'desain' steorotip bentuk manusia yang lebih indah dari saat ini, niscaya tak ada yang sanggup mengikutinya. Kalaupun dipaksa menggambar, maka yang muncul justru gambaran makhluk-makhluk baru yang lebih mengerikan. Boleh kita teliti kembali film UFO, Starwars, Independent Day, Ghost of Mars, Predator, Alien, Hellboy, Lord of the Ring, dan seterusnya maka yang ada hanyalah gambaran makhluk yang buruk rupa, menjijikkan dan sama sekali tidak lebih indah dari manusia. Kalaupun ada yang makhluk asing yang 'sedikit tampan', biasanya masih dalam bentuk asli manusia hanya diubah telinga meruncing ke atas atau terbalik ke belakang ! Jadi, benak pikiran manusia memang sudah menyerah untuk mengusulkan bentuk 'manusia' yang  lebih indah dari yang ada saat ini.
 
Sahabat blogger yang optimis, paparan di atas baru sekedar analisa dan logika kita bahwa manusia adalah makhluk yang terbaik dari sisi bentuknya. Agar logika kita menjadi benar dan legal, ada baiknya kita melihat ayat Al-Quran yang menegaskan penciptaan manusia dalam sebaik-baik bentuk.Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .( QS At-Tiin : 4 )
 
Jelas bukan, secara legal Al-Quran juga menyatakan tentang bentuk kita yang terbaik dari makhluk lainnya. Maka sangat wajar jika dengan bentuk yang terbaik ini kemudian manusia juga menjadi makhluk yang paling sempurna dan mulia
 
Sahabat blogger yang optimis, sadar bukan kalau bentuk manusia diciptakan dengan sempurna dan terbaik di antara yang lainnya. Mau  bukti, segeralah bercermin dan bayangkan keagungan Allah SWT yang menciptakan makhluk seindah dan serumit manusia ! Allah SWT berfirman : Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? ( QS adz-Dzariyat 20-21)
 
Segeralah bercermin dan temukan kesempurnaan bentuk manusia dalam diri Anda. Jangan lupa Bersyukur dengan berdoa sebagaimana Nabi Muhammad SAW mengajarkan : Allahumma kama hassanta kholqiy fahassin khulqy. Ya Allah, baguskanlah akhlakku sebagaimana engkau telah baguskan jasadku . ( HR Thobroni dari Ibnu Mas'ud). Wallahu a'lam

Menjaga Sejarah Kepahlawanan

Selasa, 10 November 2009

Indonesia kita adalah negeri yang bertaburan para pahlawan. Setiap jengkal tanahnya menyimpan bekas kucuran darah, keringat dan air mata para pahlawan. Namun entah mengapa setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, setelah tak ada lagi wajah-wajah asing yang berkeliaran memanggul senjata di pelosok-pelosok negeri ini, tiba-tiba saja kita kesusahan untuk menemukan para pahlawan. Kita kesulitan untuk menyebut seseorang itu pahlawan atau bukan. Indonesia kita kesulitan mencari para pahlawan. Mengapa demikian ?

Kesulitan menentukan siapa saja para pahlawan adalah sebuah masalah tersendiri. Ini kesalahan terbesar yang harus segera diselesaikan. Permasalahannya, yang sering tergambar dalam benak kita adalah sosok penuh ketenaran yang berjuang dengan dedikasi tinggi membela rakyat, bangsa, dan negara. Bayangan yang langsung muncul adalah sosok Pangeran Diponegoro, Bung Tomo, atau Sultan Hassanuddin. Sama sekali kita tidak menemukan kesulitan untuk menyebut mereka sebagai pahlawan. Jika benar, ini berarti memang membutuhkan syarat yang banyak untuk menjadi seorang pahlawan. Pertama, setidaknya dia harus dikenal dan karismatis. Selanjutnya, ia mempunyai prestasi besar yang mengubah jalannya sejarah. Jika kriteria ini yang kita pakai, maka jangan berharap kita akan menemukan kembali para pahlawan itu di masa kini, era reformasi. Terlalu banyak sosok yang dikenal saat ini, namun prestasinya tak lebih dari sekedar mewarnai pemberitaan media massa negeri ini, bukan mewarnai sejarah apalagi mengubahnya. Sebut saja nama-nama besar dari mulai pejabat, tokoh bangsa, atau aktifis mahasiswa sekalipun, manakah diantara mereka yang prestasinya bisa setara dengan para pahlawan jaman perjuangan ? Jangan-jangan, negeri kita ini memang sudah tidak produktif lagi mencetak para pahlawan ?

Ada sebuah jawaban yang ingin saya tawarkan pada Anda semua. Mencari para pahlawan adalah bukan pekerjaan yang bisa menyelesaikan permasalahan bangsa kita ini. Bahkan sekalipun benar bahwa para pahlawan itu ada, tanyalah pada diri mereka apakah mereka terlahir untuk dikenang orang dan disebut sebagai pahlawan. Mari mundur sejenak kita tengok sejarah, tanyakan pada para pahlawan yang kita kenal, apakah semua prestasi dan kerja besarnya didekasikan hanya untuk disebut dengan gelar pahlawan ? Jawabnya, Kalla ballaa. tidak sekali sekali tidak. Banyak diantara mereka masih merasa menjadi orang biasa-biasa saja, hingga puluhan tahun terlewat barulah gelar pahlawan itu tersemat disamping namanya. Ini berarti, yang disebut-sebut banyak orang sebagai pahlawan bukanlah karena sosoknya, namun karena kerja-kerja kepahlawanannya. Tidak penting ia dari mana dan seperti apa bentuknya, apa saja deretan gelarnya, namun yang penting adalah sudahkah ia menuai prestasi bagi bangsa ini. Singkatnya, gelar pahlawan sangat debatable, memungkinkan untuk ditolak dan diterima. Ada yang mengakui seseorang itu pahlawan dan ada pula yang dengan tegas menolak. Namun kerja-kerja kepahlawanan, hampir semua orang dengan serta merta akan mengakuinya. Membalasnya dengan simpati atau apa saja terserah, tapi bukan gelar sebagai pahlawan.

Jadi, tak perlu susah-susah mencari para pahlawan. Karena pahlawan bukanlah siapa tapi apa pekerjaannya ? apa saja prestasinya ?. Biarlah yang sudah terlanjur disebut pahlawan pada masa dulu tetap menjadi pahlawan. Tugas kita sekarang bukan lagi menjadi pahlawan, namun menjaga sejarah kepahlawanan mereka. Ini berarti kita harus meneruskan kerja-kerja mereka, namun kali ini tanpa diiringi dengan embel-embel sebagai pahlawan. Siapapun kita dan dimanapun posisi kita. Para pelajar, mahasiswa harus menghargai sejarah kepahlawanan bangsa ini. Ini artinya, kerja-kerja kita haruslah membangun bangsa ini, lewat karya intelektual, usulan dan gagasan ilmiah, atau sekedar 'pressure' moral unjuk aspirasi di jalanan. Bukan sebaliknya, menodainya dengan tawuran brutal atau aksi hedonis di mall-mall dan kebebasan yang keblabasan.


Menjaga sejarah kepahlawan bagi para pejabat dan seluruh aparat negara berarti bertobat untuk tidak lagi 'menumpang' jabatan dan fasilitas untuk mengumpulkan kekayaan secara tidak sah. Selain itu, menghapus bersih dan membuang jauh-jauh keinginan untuk dihormati dan dilayani. Namun sebaliknya, menghormati dan melayani. Itulah kerja-kerja kepahlawanan, sama sekali tidak mempedulikan pujian ataupun cemoohan. Begitu seterusnya, karena kerja-kerja kepahlawanan tak mengenal situasi, kondisi, momentum dan yang semacamnya.

Indonesia kita sekarang lebih membutuhkan kerja-kerja kepahlawanan dari pada sosok-sosok pahlawan. Kita membutuhkan semangat kepahlawanan dari pada pahlawan itu sendiri. Biarkan saja para pahlawan itu muncul dengan sendirinya ataupun dinobatkan banyak orang, itu bukan urusan kita. Yang terpenting bagi kita saat ini adalah, setiap kita mempunyai kerja-kerja kepahlawanan. Jika dulu mengusir penjajah, maka sekarang menolak setiap bentuk penjajahan dan infiltrasi asing. Jika dulu memakai bambu runcing, pedang, dan senjata api, maka saat ini biarkan akal kita berkerut, lidah kita bicara dan pena kita menuangkannya, kemudian tangan dan kaki kita menjalankannya sepenuh rasa. .Masih teramat banyak kerja-kerja kepahlawanan menunggu kita.

Menjaga sejarah kepahlawanan itu berat. Karena itu berarti kita tidak boleh mengkhianati kepahlawanan mereka. Pekerjaaan-pekerjaan rumah yang ditinggalkan harus kita teruskan dengan lebih baik lagi. Bukan meninggalkan apalagi menghancurkannya. Masih terngiang jelas bagaimana Khalifah Abu Bakar as Shiddiq begitu teguh menjaga sejarah kepahlawanan pendahulunya , Rasulullah SAW, ketika mulai muncul fenomena penolakan atas penarikan zakat. Dengan lantang ia berkata, " Demi Allah, sungguh aku akan memerangi mereka yang menolak membayar zakat, sementara dulu mereka menunaikannya pada zaman Rasulullah SAW hidup. Aku akan memeranginya meskipun aku tinggal sendirian ". Wallahu A'lam bisshowab

Maskawin : Antara Adat dan Syariat

Sabtu, 07 November 2009

Setiap daerah mempunyai kebiasaan dan budaya yang berbeda. Kata-kata bijak dari khasanah budaya jawa mengabadikan kondisi tersebut dengan ungkapan : negoro mowo toto, deso mowo coro. Bahkan di dalam kajian ushul fikih, pertimbangan budaya atau adat juga termasuk menjadi salah satu metodologi pengambilan sebuah hukum. Ketika sebuah adat tidak bertentangan dengan syariat, maka bukanlah sebuah cela saat seorang muslim ikut meramaikan dan mensyiarkannya. Pada sisi ini, barangkali fenomena mudik, lebaran, dan halal bihalal nampaknya menjadi contoh yang gamblang tentang akomodasi syariat terhadap nilai-nilai budaya. Lebih menarik lagi di Minangkabau, antara adat dan syariat ternyata bersintesis dengan baik hingga menampilkan wajah : "Adat basandi syara', syara' basandi kitabullah", yang artinya adat bersendikan syariat (ajaran agama) dan syariat bersendikan kitab Allah SWT (Al Qur'an). Subhanallah
.

Begitu pula saat kita bicara pernikahan, pastilah akan membahas tentang budaya dan adat yang ada seputarnya. Ada adat yang menyalahi syariat, ada pula yang masih dalam koridor syariat. Tentu disini bukan tempat untuk membahas satu persatu adat dan budaya pernikahan yang menyalahi syariat. Saya hanya ingin sekedar berbagi tentang keunikan perbedaan budaya pernikahan antara masyarakat di Indonesia dan di Arab. Keduanya sama-sama mempunyai budaya yang unik seputar pernikahan, berbeda satu sama lainnya, bahkan saling bertentangan, tapi sama-sama dalam batas koridor syariat. Budaya yang unik tersebut diantaranya :

Budaya Mahar di Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia secara umum, mahar tidak identik dengan sesuatu yang besar dan bernilai tinggi. Mereka cukup sederhana dalam menentukan besaran mahar, yang penting ada kenangan dan kesan yang mendalam bahkan setelah bertahun-tahun pernikahan. Pada sisi ini bolehlah kita menyebutnya sebagai sebuah hal yang romantis. Masyarakat kita memang menyukai simbol, karena mahar pun biasanya identik dengan simbol keagamaan atau kasih sayang. Biasanya seperangkat alat sholat, plus beberapa gram perhiasan. Ada juga yang bernilai besar, tapi tidak setara dengan kekayaannya, karena mereka menginginkan sebuah kenangan. Pernikahan artis yang kaya raya misalnya, ternyata besaran maharnya ‘tidak seberapa’ karena disesuaikan dengan tanggal pernikahan mereka yang hanya berderet 6 sampai 8 angka.

Dalam sebuah pernikahan, nampaknya mahar di Indonesia menjadi aksesoris pelengkap saja yang tidak banyak menyita pikiran orang. Pihak mempelai maupun orangtua biasanya lebih ‘heboh’ dalam membahas pesta pernikahan, prosesi, dan ritualnya daripada menyinggung soal mahar. Mungkin juga ini adalah bentuk aplikasi budaya ewuh pakewuh dan masih melekat dalam masyarakat kita. Keunikan lain juga, biasanya mahar hanya berupa hal-hal tertentu saja sebagaimana yang disebutkan di atas, tetapi selain itu terkadang mempelai laki-laki malah memberikan ‘hadiah tunangan’ yang jumlahnya jauh lebih besar dan berlipat-lipat dari mahar yang diberikan. Unik memang.

Budaya Mahar di Saudi

Lain di Indonesia, lain di masyarakat arab sana. Di negara tambang minyak itu sejak dulu kala sangat dikenal dengan mahalnya sebuah mahar menuju pernikahan. Budaya ini pun kemudian melahirkan kegelisahan dan persoalan di tengah masyarakat, karena banyaknya pemuda dan wanita yang tak kunjung menikah meski usia melewati kepala tiga dan empat. Hingga pemuda-pemuda Saudi saat ini berkampanye lewat internet mengajak untuk tidak menikahi perempuan Saudi. Hal itu diakibatkan semakin mahalnya mas kawin dan biaya resepsi pernikahan (Saudi Gazette, 11 Feb 09).

Lalu berapa besar sih mahar khas Arab itu ? Di Saudi misalnya, jika seorang pemuda mau menikahi gadis di sana, biasanya harus menyiapkan : mahar / mas kawin 40.000,- Real atau 90 Juta rupiah dan biaya pesta 15.000 Real atau 40 Juta. Itu belum syarat lainnya seperti : calon suami harus memilki rumah dengan furniture lengkap walaupun sewa, calon suami kalo bisa memliki mobil untuk transportasi walaupun yang jadul sekalipun. Nah, besar sekali bukan ? Jika mau dibandingkan dengan negara kita, kalau mahar itu cukup ‘rukuh dan sajadah’, maka di Arab bisa jadi maharnya adalah “ pabrik rukuh dan sajadahnya”.

Lalu bagaimana besaran mahar secara syariat ?

Mahar tidak lain adalah sebuah pemberian, karenanya bisa berbeda besarannya dan tidak pernah ditentukan kadarnya karena disebut besar tidaknya sangat bergantung dengan kemampuan finansial yang memberi. Karenanya para ulama bersepakat tidak ada batas maksimal dalam pemberian mahar. Ini dilandaskan pada firman Allah SWT : “sedang kamu telah memberikan kepada seseorang diantara mereka harta yang banyak (qinthaar),” (QS Nisa 20). Pernah ada upaya Umar bin Khotob membatasi besaran mahar, tetapi ditentang dan dibatalkan karena bertentangan dengan ayat di atas. Jadi, nampaknya masyarakat Saudi mengoptimalkan mengambil peluang sisi ini, karena secara syariat tidak ada batas maksimal dalam mahar.

Namun, meskipun demikian, syariat tetap menganjurkan untuk mempermudah hal-hal yang berhubungan dengan mas kawin seperti yang tertera dalam sabda Rasulullah: “ "Sesungguhnya wanita yang paling banyak berkahnya adalah wanita yang paling sedikit/murah mas kawinnya."(HR Thobroni)

Adapun tentang batas minimal, maka memang ada perbedaan ulama seputar masalah ini, sebagai berikut :

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa mas kawin minimal senilai 3 dirham ( ada juga riwayat : seperempat dinar). Mereka mengkiaskan (menyamakan) hal ini dengan wajibnya potong tangan bagi pencuri ketika barang curiannya bernilai seperempat dinar atau lebih.

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa mas kawin paling sedikit 10 dirham atau satu dinar. Ini berlandaskan bahwa Nabi membayar mas kawin para isterinya tidak pernah kurang dari 10 dirham.

Catatan : jika dikonversikan ke rupiah, dimana 1 dinar adalah 4,25 gram emas 22 karat, maka batas minimal mahar versi Malikiyah adalah sekitar Rp 300.000,- dan Hanafiyah adalah 1 juta lebih sekian.

Sementara itu Ulama Syafi'iah (yang madzhabnya tersebar di Indonesia) dan Hanbaliyah berpendapat, tidak ada batas minimal, yang penting bahwa sesuatu itu bernilai atau berharga maka sah (layak) untuk dijadikan mas kawin (termasuk seperangkat alat salat). Mereka mendasarkan pendapatnya pada keumuman ayat Al-Quran : "Dan dihalalkan bagimu selain yang demikian, yaitu mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk dizinai" (Q.S. al-Nisa' : 24). Maka harta dalam ayat tersebut bersifat umum bisa besar dan kecil. Begitu pula ditambah dalil lain tentang bagaimana Rasulullah SAW menikahkan sahabat dengan hafalan quran bahkan dengan cincin besi.

Nah, barangkali karena Indonesia menganut madzhab syafii yang tidak mempunyai batas minimal mahar, maka sangat wajar jika kemudian kita lihat masyarakat kita pun tak begitu peduli dengan besaran mahar, apa adanya dan sewajarnya saja. Uniknya ini tidak berlaku di Saudi yang bermadzhab Hanbali, semestinya mereka tidak terlampau strict soal besaran mahar. Wallahu a’lam bisshowab .

Kerja Keras adalah Energi Kita

Senin, 02 November 2009


Kerja keras adalah energi kita ; inspirasi baru yang sederhana dari Pertamina, sebuah BUMN yang sudah 52 tahun bergerak di bidang energi dan petrokimia. Berawal dari Pertamina Blog Contest, slogan ini mulai menyebar khususnya di kalangan para blogger pecinta kompetisi di negeri ini. Sebuah slogan yang tentu saja berawal dari kajian yang mendalam tentang permasalahan bangsa. Slogan yang bukan sekedar deretan kata-kata, tetapi menyimpan energi untuk menggerakkan setiap insan negeri ini. Agar terus bekerja dan terus bekerja, memperbaiki diri agar turut serta menjayakan Indonesia.

Mengapa kerja keras adalah energi kita ?
Saya pernah bertukar pikiran dengan seorang sahabat yang kerap berinteraksi dengan masyarakat kecil dan kaum dhuafa’. Yayasan yang ia pimpin cukup sering menggelontorkan dana pinjaman untuk pemberdayaan ekonomi rakyat miskin. Banyak pedagang kecil di pasar atau kios-kios pinggir jalan meminjam modal dari lembaganya tersebut. Waktu terus berjalan, dan terbukti bahwa kerja keras adalah sebuah energi. Hanya mereka yang terlihat bersemangat dalam bekerjalah yang mampu mengembalikan modal pinjaman tersebut. Sebagian besar malah ‘ngemplang’ dalam arti tidak membayar cicilan dalam jangka waktu yang lama. Diam seribu bahasa, tiada kabar sedikitpun. Teman saya berkomentar singkat, “ ini mental sebagian besar rakyat negeri ini, yaitu malas bekerja keras. kekurangan modal jelas-jelas bukan inti masalah kita “. Kesimpulan yang sederhana mendalam. Sekali lagi, slogan ‘kerja keras adalah energi kita’ bukanlah gertak sambal yang tidak nyata.


Kerja Keras adalah Energi untuk menjaga Citra bangsa ini
Bangsa kita sudah lama terjebak dalam jeratan utang luar negeri yang tiada henti. Generasi yang lahir saat ini diperkirakan ikut menanggung beban itu suatu saat nanti. Semua mimpi buruk itu benar-benar akan terwujud jika penduduk negeri ini tidak bekerja keras meningkatkan kualitas diri. Kita semua tentu terpanggil untuk menyelamatkan negeri ini, dimulai dari diri kita sendiri. Marilah menempa diri untuk terus bekerja agar tidak terjebak dalam hutang dan pinjaman di sana-sini. Mari menjadi solusi atas permasalahan bangsa ini. Agar bangsa besar ini tidak jatuh wibawa dan citranya karena terus bergantung dengan pinjaman luar negeri. Bahkan Islampun sejak lama telah memberi inspirasi bagi kita untuk terus bekerja keras dalam melepaskan diri dari kehinaan.

Dari Zubair bin Awwam, Rasulullah SAW bersabda : “ Jika salah seorang dari kalian pergi membawa kapaknya, lalu datang membawa seikat kayu bakar di punggungnya, lalu ia menjualnya hingga Allah menyelamatkannya dari kehinaan. Maka yang demikian itu jauh lebih baik dari ia meminta-minta pada orang lain. (HR Bukhori)

Akhirnya, seribu salam penghormatan dari kami pada mereka yang tekun bekerja keras. Nenek-nenek tua yang menyusuri jalanan dengan barang dagangannya, bapak-bapak yang membanting tulang mengumpulkan barang bekas yang tersisa, pemuda yang kreatif dan tekun. Kepada merekalah kita layak mengambil inspirasi.
Selamat kepada Pertamina, yang menyebarkan slogan “kerja keras adalah energi kita” untuk kemajuan negeri ini. Lanjutkan terus perjuangan menebar kebaikan. Untuk kejayaan negeri ini.

Indahnya Persatuan

Jumat, 30 Oktober 2009

Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh umat manusia, sejak awal telah mengajarkan budaya persatuan. Bukan saja dalam koridor sesama kaum muslimin atau yang biasa disebut dengan ukhuwah islamiyah, tetapi juga dalam konteks masyarakat berbangsa dan bernegara. Bahkan dalam sejarah dan realitas terkini pun akan mudah kita temukan, bahwa sejatinya persatuan umat memberikan kontribusi besar dalam menambah kualitas persatuan bangsa. Ajaran Islam melalui Al-Quran dan Sunnah banyak memberikan inspirasi bagi kaum muslimin untuk mengaplikasikan budaya persatuan dalam menjalani kehidupannya.

Setidaknya ada tiga aplikasi ajaran Islam yang berkaitan erat dengan upaya menuju persatuan yang lebih kuat, baik sesama kaum muslimin secara khusus, maupun sebagai bagian utuh dari masyarakat Indonesia. Tiga aplikasi dari ajaran persatuan dalam Islam tersebut adalah :

Pertama : Saling mengenal dan berinteraksi

Allah SWT berfirman : “ Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. (QS Al-Hujurot 13). Ajaran persatuan yang paling mendasar dalam Islam adalah dengan saling mengenal dan berinteraksi. Ini artinya pendapat Islam sebagai agama yang eksklusif sangat tidak relevan. Seorang muslim diharapkan mau membuka diri untuk bergaul dengan masyarakatnya. Ia harus menjadi yang pertama menyadari bahwa keragamaan suku, budaya dan bahasa adalah kepastian bahkan menjadi sunnatullah tersendiri. Ia harus memperbanyak relasi, kenalan, dan jaringan, karena bisa jadi dari situlah ia mendapatkan peluang berbagi kebaikan lebih banyak lagi.

Kedua : Saling memahami & bertoleransi

Ajaran kedua yang berkaitan dengan budaya persatuan adalah sikap saling memahami dan bertoleransi. Setiap individu mempunyai kelebihan dan kelemahan, begitu pula kumpulan individu, organisasi, lembaga bahkan juga suku dan ras sekalipun. Dalam Islam, kelemahan itu untuk dipahami, bukan malah dieksplorasi dan dijadikan bahan kritikan, celaan yang tak pernah kunjung usai. Jika hanya sekedar mengenal tanpa berusaha memahami dan bertoleransi, maka persatuan dalam skala apapun hanya menjadi impian yang semakin menjauh. Islam mengingatkan kita untuk saling memahami dan bertoleransi, diantaranya melalui larangan saling mencela dan menghina. Allah SWT berfirman : janganlah sebuah kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) itu lebih baik dari mereka. (QS Hujurot 11)

Tiga : Saling bekerja sama dan bersinergi

Setelah saling mengenal dan memahami, maka ajaran Islam menyempurnakan budaya persatuan dengan memerintahkan untuk saling bekerja sama dan bersinergi. Allah SWT berfirman : “ … dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” ( Maidah 2). Wilayah kerja sama yang ditawarkan dalam ayat di atas sangat luas cakupannya. Imam Qurtubi dalam tafsirnya menukil ungkapan Imam Mawardhi : bahwa al-bir (kebajikan) adalah keridhoan manusia secara umum, sedangkan ‘at-taqwa’ adalah keridhoan Allah SWT. Dalam bahasa sederhananya, seorang muslim diperintahkan untuk saling bekerjasama, baik dalam lapangan kebaikan yang universal (kemanusiaan) maupun kebaikan dalam kacamata syariah. Disinilah kita perlu menyadari sepenuhnya, bahwa pada saat seorang muslim bekerja sama dalam mengerjakan sebuah kebaikan yang bersifat umum ( kemasyarakatan dan kebangsaan) maka sejatinya ia sedang menjalankan amanat ajaran Islam.

Akhirnya, jika ketiga langkah di atas mampu dijalankan dengan baik oleh seorang muslim, insya Allah akan mendatangkan persatuan yang lebih kuat dan indah dalam setiap tataran kehidupan. Semoga kita semua mampu menjalankannya. Wallahu a’lam bisshowab.

*dimuat di Rubrik Tausiyah Suara Merdeka - Suara Solo 30 Okt 2009

Urgensi dan Fungsi Blogger Dakwah

Selasa, 27 Oktober 2009

Aktifitas dakwah memang tidak mengenal waktu dan tempat. Tak cukup dunia nyata, kini dunia maya pun dirambahnya. Banyak blogger-blogger dakwah bermunculan bak jamur di musim hujan, dengan satu semangat yang sama " mengenalkan Islam ". Semua pasti sepakat bahwa 'dunia maya' adalah wilayah dakwah yang cakupannya sangat luas. Target pemasaran dakwahnya pun begitu beragam, dari yang masih 'abangan' bahkan hingga mereka yang selama ini menjadi musuh dakwah sekalipun.

Tema untuk berdakwah pun menjadi begitu luas dan beragam. Semua tema dalam blog begitu menarik untuk diolah menjadi sebuah tema dakwah. Ini juga menjadi salah satu bukti betapa Islam begitu kaya akan khazanah pemikiran yang tak pernah bisa habis untuk digali dan terus digali. So inspiring .. begitu bahasa sederhananya.

Namun betapapun demikian, kita meyakini bahwa dakwah sebagai sebuah misi mulia membutuhkan rambu-rambu (baca:fiqh dakwah) agar tetap terjaga kemuliaannya. Semangat blogger-blogger dakwah dalam mengolah kata dan menyuarakan Islam perlu dijaga agar tetap pada jalurnya. Dakwah via blog adalah bentuk lain sekaligus pengembangan dari 'dakwah bil qolam' yang sejak lama telah dirintis para ulama dan pemikir Islam. Dakwah via blog lebih sederhana, lebih umum, dan tentu saja dengan bahasan yang lebih beragam. Ini semua justru akan menunjukkan komprehensifnya Islam, sebagai agama yang mempunyai solusi dan jawaban atas setiap permasalahan dan bahasan.

Urgensi Dakwah via Blog

Untuk lebih memotivasi kita yang bergerak di ranah dakwah via blog, ada baiknya kita membekali diri kita dengan visi umum 'dakwah bil qolam', karena sejatinya keduanya hampir tidak bisa dibedakan. Visi umum dakwah bil qolam tersebut bisa tercermin dalam beberapa urgensi berikut ini :

1. Keutamaan Dakwah secara umum, baik berupa tulisan maupun lisan. Bahkan dalam khazanah Arab, tulisan sering juga disebut 'ahadu lisananain', yaitu satu dari dua lisan. Allah SWT berfirman : " Dan siapakah yang lebih baik perkatannya dari menyeru (dakwah) kepada Allah, dan beramal shalih serta mengatakan sesunggahnya aku termasuk kaum muslimin " ( Fushilat 33)

2. Keutamaan dan keagungan Dakwah tulisan ( bil qolam), sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa ayat Al-Quran. Diantaranya di awal surat Al Qolam, Allah SWT bersumpah dengan qolam (pena) dan apa-apa yang dituliskan. Secara sederhana, dalam kaidah tafsir telah dikenal bahwa objek yang dijadikan sumpah oleh Allah SWT berarti adalah sesuatu yang agung dan penting.

3. Konsekuensi keutamaan 'Membaca' dalam Al-Quran (QS Al-Alaq 1-5), berarti pada saat yang sama diperlukan bahan bacaan yang bermutu dan berkualitas. Karenanya, dakwah bil qolam adalah jawaban langsung dan efektif dari perintah membaca dalam Al-Quran. Dakwah bil qolam menghadirkan bacaan-bacaan yang layak, penting dan bermanfaat bagi kehidupan umat di dunia dan akhirat.

4. Dakwah bil qolam adalah dakwah lintas batas dan lintas waktu. 'keabadian' Al-Quran serta kitab-kitab turots (warisan) khazanah pemikiran islam beratus-ratus tahun yang lalu adalah bukti yang sangat nyata dalam masalah ini. Al-Quran, meskipun sejatinya telah dijamin oleh Allah SWT orisinalitasnya, tetap saja ada perintah untuk menuliskannya secara khusus. Ini juga tidak lain untuk lebih menjaga keabadian al-quran. Saat ini kita bisa menjadi 'murid' imam As-Syafi'I,Ibnu Taimiyah, berinteraksi dengan pemikiran-pemikirannya melalui buku dan kitab
.
5. Pengaruh dakwah bil qolam lebih 'paten'dan lebih menggerakkan bagi sebagian besar orang. Ini karena sebuah tulisan bisa terus diulang dan dibaca setiap saat. Dikaji, dipuji, dan bahkan juga dikritisi. Banyak tulisan yang terbukti bisa menggerakkan manusia dan juga mengubah sejarah. Dalam sejarah nasional kita misalnya, tulisan 'Andai Aku Seorang Belanda" karya Max Haveelar ternyata kemudian memunculkan kebijakan Politik Etis, yang akhirnya memunculkan banyak pemikir muda yang maju dari tanah air kita.

Fungsi dakwah via Blog

Sebelum posting, hendaklah para da'I blogger memastikan bahwa apa yang ditulis telah 'senada' dengan komitmennya di awal untuk berdakwah via blogger. Ia tidak menulis kecuali hal yang produktif untuk dakwah secara umum. Ini bukan berarti mengajak para blogger untuk menjadi 'serius' secara berlebihan. Bukan pula membebani para blogger harus memastikan posting full ayat dan hadits. Tidak, sekali-kali tidak. Yang diperlukan hanyalah sedikit kemauan untuk memastikan dan memetakan bahwa apa yang kita tulis bisa 'berfungsi' sebagai dakwah via blogger. Berikut beberapa fungsi dakwah via blog yang bisa kita jadikan acuan dalam content posting kita.

1. Fungsi Bayan / Penjelas ( Hukum atau suatu masalah dalam Islam)

Ini memang tergolong serius dan berat. Yaitu posting tema-tema kajian Islam dan pernik-perniknya. Yang ini tentu saja melibatkan dalil, pendapat ulama, dan juga argumen yang perlu 'hati-hati' dalam menuliskannya. Tentu tidak semua blogger harus menuliskan posting dengan fungsi di atas. Semua mengambil sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

2. Fungsi Tausiyah dan Motivasi beramal

Sudah menjadi karakter orang yang sukses dalam surat Al-Ashr adalah membudayakan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Ini berarti saling memotivasi untuk beramal shalih sekaligus menghilangkan kesedihan. Begitu pula dalam posting, bisa disajikan secara khusus tausiyah, dan nasehat-nasehat kebaikan. Tidak harus bingung mencari dalil, karena setiap kebaikan mempunyai dalil fitrahnya dalam hati masing-masing dari kita. Meskipun tentu saja, bukan berarti dalil tidak penting dalam postingan ini.

3. Fungsi Pelurus Anggapan salah / wacana yang salah di masyarakat

Yaitu meluruskan hal-hal yang telah mewacana dan mendarah daging dalam masyarakat, begitula mitos, budaya yang tidak selaras dengan ajaran kemuliaan Islam. Ini penting agar postingan kita benar-benar 'membumi' tidak bicara terlalu berlebihan tentang gagasan-gagasan idealis, yang bisa saja dilihat sebagai mimpi oleh sebagian besar pembaca blog kita.

4. Fungsi Pengarah Alternatif Islami ( Ta'shiil)

Yaitu memberikan alternatif Islami dalam banyak hal kehidupan masyarakat. Jadi tidak sekedar menyalahkan atau meluruskan, tetapi juga memberikan solusi Islami yang benar dan teruji. Misalnya ketika membahas gaya hidup (life style), kita bisa menghadirkan bagaimana Islam mempunyai banyak variasi dalam 'menikmati' hidup, bukan sekedar agama 'akhirat' saja tetapi juga agama kebahagiaan dunia. Bagaimana kita memberikan 'rambu-rambu' penjaga dalam banyak aktifitas modern agar tidak bertentangan dengan Islam.

5. Fungsi Informasi, Inspirasi & Ibroh

Yaitu memberikan informasi baik berita, peristiwa, kisah dan pengalaman hidup untuk memotivasi dan menginspirasi pembaca blog kita. Kita harus meyakini, bahwa setiap kejadian pastilah menyimpan beragam hikmah, dan setiap hikmah harus kita ambil sebagai charger optimisme dalam menyambut masa depan.

Jumat : Hari Raya Pekanan Kita

Jumat, 23 Oktober 2009

Apa yang kita rasakan saat hari raya di depan mata ? Bertaburan bahagia itu sudah jelas dan harus. Kemudian muncul rasa haru dari hati yang penuh syukur. Lalu tiba-tiba kita ingin berkumpul ditengah-tengah orang-orang yang kita cintai : ayah, ibu, saudara, anak, dan tentu saja istri sang pendamping hidup. Subhanallah.
Lalu tahukah Anda ? bahwa sesungguhnya Allah SWT memberikan kesempatan bagi kita uintuk berhari raya setiap pekan sekali : pada hari Jumat. Namun sayangnya, betapa sering hari Jumat itu terlewat begitu saja. Tanpa makna sebuah hari raya.

Bahkan sholat Jumat malah menjadi acara selingan di sela-sela istirahat siang. Nyaris sama dengan hari-hari yang lainnya, saat bumi ini bagai sarang lebah yang terus berdengung. Orang-orang hilir mudik dari rumah, pasar, kantor juga sekolah. Sebuah pertanyaan kembali singgah : Mungkin saja mereka tidak tahu.
Karenanya, tulisan ini ingin menghadirkan kesadaran tentang hari Jumat. Bahwa ia adalah hari raya dengan segenap artiannya. Suatu hari, yang bisa dibilang membutuhkan perlakuan khusus. Spesial. Jika masih ragu, barangkali dua hadits dibawah ini bisa membuat kita lebih tergerak untuk memaknai hari Jumat sebagai sebuah hari raya.

Pertama : Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda tentang hari Jumat : Sesungguhnya ini adalah hari raya yang dijadikan Allah untuk kaum muslimin (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Kedua :Dari Abu Hurairah ra, Pada suatu hari Jumat, Rasulullah SAW bersabda : Wahai segenap muslimin, hari ini Allah telah menjadikannya sebagai hari raya untuk kalian, maka hendaklah kalian mandi dan bersiwak " (HR Thobroni dalam Al-Ausat Al-Kabir)

Sungguh terasa aneh jika pada hari raya tidak ada kebahagiaan khusus. Tidak pula sambutan khusus. Sementara Allah SWT Rabb yang Maha Agung justru menempatkannya sebagai hari yang agung. Lalu mengapa kita yang lemah ini terlampau lugu hingga membiarkannya berlalu ? Dari Abu Lubanah Al-Badri ra, Rasulullah SAW bersabda : " Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia paling agung di sisi Allah, lebih agung di sisi Allah dari hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha " ( HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Akhirnya, kita sudah mengumpulkan banyak alasan untuk memperlakukan hari Jumat secara khusus sebagai hari raya kita. Setidak-tidaknya, mari membiasakan diri menyambut fajar hari raya pekanan kita dengan sebuah doa khusus yang terlantun dari hati yang paling tulus :

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Barang siapa mengucapkan di pagi hari Jumat sebelum sembahyang shubuh : Astaghfirullah alladzi laa ila ha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaihi sebanyak tiga kali, niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih laut. ( HR Ibnu Sunni dalam Al-Adzkaar Nawawi )

Kesamaan Hari Raya Jumat dengan Idul Fitri dan Idul Adha

Adalah merupakan hikmah, rahasia sekaligus keunikan tersendiri bagi hari Jumat. Ketika Allah dan Rasul-Nya menyebut hari Jumat sebagai hari raya, ternyata disana memang ada serangkaian tipikal kesamaan antara hari Jumat dengan hari raya yang lainnya ( Idul Adha & Idul Fitri), diantaranya adalah :

a. Sama-sama diawali dengan puasa pada hari sebelumnya.

Jika hari raya Idul Fitri ada puasa wajib Romadhon sebagai pendahuluannya, kemudian Idul Adha ada puasa sunnah 9 Dzulhijjah (yaitu puasa Arafat bagi yang tidak haji). Sementara untuk hari Jumat, telah kita mengenal puasa sunnah Senin- Kamis. Subhanallah.

b. Sama-sama dilarang puasa pada hari tersebut.

Kita tahu bahwa dalam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha kita diharamkan untuk berpuasa, karena memang hari tersebut adalah hari untuk mengoptimalkan rasa bahagia dan syukur kepada Ilahi. Bukan hari untuk berlapar-lapar dan menderita secara sengaja. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang hari raya : Itu adalah hari-hari (untuk) makan dan minum. (Fiqh Sunnah : I/598) Maka demikian pula pada hari Jumat, dimakruhkan mengkhususkannya untuk berpuasa (tanpa berpuasa sebelum atau sesudahnya), kecuali mereka yang terbiasa dengan puasa sunnah ( Daud ) atau bertepatan dengan puasa-puasa sunnah tertentu seperti : puasa Arafat 9 Dzulhijjah dan Asyuro 10 Muharrom. (Lihat Fiqh Sunnah I/474).

Dan hebatnya, tentang kesamaan tipikal yang ini pun telah dilegitimasi oleh Rasulullah SAW dengan haditsnya : Dari Amir al-Asy'ari, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya hari Jumat adalah hari raya kalian, maka janganlah kalian berpuasa (pada hari itu) kecuali jika kalian berpuasa sebelumnya atau sesudahnya ". ( HR Al-Barroz dengan sanad Hasan)

c. Sama-sama ada Sholat 2 rekaat dan Khutbahnya.
Ini bukan rahasia lagi, namun kadang kita tidak menyadarinya. Bukankah kebanyakan kita selalu menganggap bahwa inti dari hari raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah sholat Ied bersama di lapangan atau di masjid ? Hingga kita pun mempersiapkan sedemikian rupa untuk menghadirinya bersama keluarga kita ?. Lalu setelahnya kita mendengarkan khutbah penuh kekhusyukan. Subhanallah. Maka demikian pula dengan hari Jumat, acara intinya adalah dengan sholat Jumat 2 rekaat yang sebelumnya didahului khutbah. Alangkah sayangnya mereka yang menganggapnya sebagaimana shalat dhuhur di hari-hari yang lainnya.

d. Sama-sama ada anjuran untuk memakai pakaian yang paling bagus dan minyak wangi.
Tentang anjuran hal ini pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dari Al-Hasan As-Sabt ra, ia berkata : Rasulullah SAW memerintahkan pada dua hari raya, agar kami memakai pakaian yang terbaik yang kami punya, dan memakai wewangian yang terbaik yang kami punya, dan juga untuk berkurban dengan harga paling tinggi yang kami mampu" (HR Ibnu Hakim)

Sementara untuk hari Jumat, ada beberapa hadits yang menganjurkan hal yang sama. Diantaranya yang diriwayatkan oleh Abu Said ra, Rasulullah SAW bersabda : Hendaklah kalian mandi pada hari Jumat, lalu memakai pakaiannya yang paling baik, dan jika ia punya wewangian maka hendaklah memakainya " ( HR Ahmad, Bukhori dan Muslim )

Lebih khusus lagi, bahkan teladan kita Rasulullah SAW pun memiliki baju istimewa yang spesial dipakai pada setiap hari raya dan hari Jumat.

e. Sama-sama dijanjikan terbebas dari dosa pada hari itu.
Sebenarnya apa sih yang membuat kita merasa paling bahagia saat hari raya ? Apakah pakaian baru, makanan yang terhidang begitu lengkapnya, atau berkumpulnya semua keluarga ? Saya yakin itu adalah beberapa hal penguat saja. Ada hal lain yang membuat kita layak untuk bergembira pada hari itu : dibersihkannya dosa-dosa kita. Untuk hari Raya Idul Fitri dan Hari Jumat, hadits di bawah ini cukup bisa kita jadikan pegangan. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : Sholat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan Romadhon ke Romadhon, adalah penghapus dosa antara satu dan lainnya selama dijauhi dosa-dosa besar. (HR Muslim dan lainnya) Subhanallah. Sementara untuk hari raya Idul Adha, juga dijanjikan hal yang sama – dengan syarat kita berpuasa sehari sebelumnya (hari Arafah). Dari Abu Qotadah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Puasa hari Arafah, menghapus dosa selama dua tahun, setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya " ( HR Jama'ah kecuali Bukhori dan Tirmidzi).

Nah, tunggu apa lagi ? Selamat berhari raya sepekan sekali. Semoga selalu indah dan berkah !